IPD – 18 Maret 2026 | Prajurit Dua (Prada) Nawawi M.M. Latifullah dari Yonif TP 834/Wakanga Mere, Brigif 21/Komodo, Kodam IX/Udayana, mengukir sejarah dengan mengantongi posisi pertama pada Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) Internasional ke-2 yang diselenggarakan di Air Defense College Misrata, Libya, pada 7–13 Maret 2026. Keberhasilan ini tidak hanya mengharumkan nama TNI, tetapi juga menegaskan peran strategis pembinaan spiritual dan mental prajurit Indonesia di panggung dunia.
Latar Belakang Kompetisi dan Partisipasi Internasional
MHQ Internasional merupakan ajang kompetisi hafalan Al‑Qur’an khusus bagi personel militer dari berbagai negara. Tahun ini, lebih dari 50 prajurit militer dari lebih dari sepuluh negara, termasuk Indonesia, Mauritania, dan negara‑negara lain, beradu kemampuan hafalan 30 juz serta penguasaan tajwid. Kompetisi berlangsung selama enam hari dengan tema “Martyrs of the Homeland” sebagai penghormatan kepada para syuhada.
Persiapan Intensif di Tanah Air
Persiapan Nawawi dimulai pada awal Maret 2026. Dari 2 hingga 5 Maret, ia mengikuti program pembekalan dan pembinaan tahsin Al‑Qur’an yang diadakan di Masjid Al Mu’min Jatikarya dan Masjid Al Ikhlas SCBD, Jakarta Selatan. Program ini dipandu oleh tiga tokoh agama terkemuka: Ustaz Adi Hidayat, Syekh Syahrir (perwakilan Libya), serta Ulil Abshar Alhafidz. Ustaz Adi Hidayat, yang dikenal sebagai ulama dengan pengalaman luas dalam pelatihan hafalan, memberikan metode penguatan daya ingat, teknik tajwid, serta pendekatan mental yang menumbuhkan kepercayaan diri pada peserta.
Menurut pernyataan para instruktur, peran Ustaz Adi tidak sekadar mengajarkan materi, melainkan juga menanamkan disiplin spiritual yang selaras dengan nilai‑nilai militer. “Pembinaan yang kami lakukan menekankan keseimbangan antara kekuatan fisik, mental, dan spiritual. Hal ini sangat penting bagi prajurit yang harus siap menghadapi tantangan di medan perang sekaligus menjaga integritas keagamaan,” ujar Ustaz Adi dalam salah satu sesi pelatihan.
Prestasi di Arena Internasional
Pada hari penutupan kompetisi, Nawawi tampil mengesankan pada kategori hafalan 30 juz. Dengan rekaman hafalan yang lancar, tajwid yang tepat, serta pemahaman makna ayat yang mendalam, ia berhasil mengungguli peserta dari negara‑negara lain dan dinyatakan sebagai Juara 1. Penghargaan tersebut diserahkan secara resmi oleh Perdana Menteri Libya, Abdul Hamid Dbeibeh, yang menegaskan apresiasi atas dedikasi prajurit dalam menghafal Al‑Qur’an.
Reaksi Pemimpin Militer dan Pemerintah
Komandan Yonif TP 834/Wakanga Mere, Letnan Kolonel Justikhandinata, menyampaikan rasa bangga yang mendalam. “Kami sangat bangga atas capaian Prada Nawawi yang telah mengharumkan nama TNI, khususnya Kodam IX/Udayana, serta bangsa Indonesia di tingkat internasional,” ujarnya.
Kapendam IX/Udayana, Mayor Jenderal (Purn) Widi Rahman, menambahkan bahwa prestasi ini menjadi bukti konkret bahwa prajurit TNI tidak hanya unggul dalam bidang militer, tetapi juga memiliki kekuatan mental dan spiritual yang kuat. “Keberhasilan ini menunjukkan bahwa prajurit TNI mampu berprestasi hingga tingkat internasional, termasuk di bidang keagamaan. Ini mencerminkan pentingnya pembinaan mental dan spiritual dalam membentuk prajurit yang profesional, tangguh, dan berintegritas,” tegasnya.
Makna Sosial dan Kebanggaan Nasional
Keberhasilan Nawawi menginspirasi banyak kalangan, terutama generasi muda yang menaruh harapan pada peran ganda prajurit sebagai pelindung negara sekaligus penjaga nilai‑nilai keagamaan. Di Mataram, NTB, warga Turida Barat menyambut prestasi tersebut dengan antusias, menilai bahwa pencapaian ini memperkuat citra positif Indonesia di mata dunia.
Selain kebanggaan nasional, prestasi ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara institusi militer dan lembaga keagamaan dalam membentuk karakter prajurit yang seimbang. Pendekatan Ustaz Adi Hidayat yang mengintegrasikan teknik hafalan modern dengan nilai‑nilai spiritual tradisional terbukti efektif, memberikan contoh model pelatihan yang dapat diadopsi oleh satuan‑satuan militer lainnya.
Rencana Kedepan dan Harapan
Menanggapi prestasi ini, TNI berencana memperluas program pembinaan keagamaan bagi seluruh personel, dengan menambah jumlah pelatih yang memiliki latar belakang keilmuan Islam serta memperkuat kerja sama dengan lembaga‑lembaga keagamaan domestik dan internasional. Ustaz Adi Hidayat diperkirakan akan terus dilibatkan dalam program serupa, mengingat keberhasilan metode yang diterapkan pada Nawawi.
Dengan semangat kebangsaan yang terpancar dari setiap ayat yang dihafal, prajurit TNI diharapkan dapat terus menjadi duta damai Indonesia, tidak hanya di medan perang tetapi juga di arena keagamaan internasional.
Prestasi Nawawi di Libya menjadi contoh nyata bahwa kombinasi disiplin militer, bimbingan religius, dan dukungan institusional dapat menghasilkan capaian gemilang yang mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.
