IPD – 12 Maret 2026 | Di tengah hiruk‑pikuk modernisasi, sebuah tradisi unik dari Gorontalo kembali menapaki panggung ekonomi lokal. Tradisi Tumbilotohe, yang selama puluhan generasi menggabungkan seni kerajinan dan kearifan budaya, kini mendapat napas baru lewat tangan Titin Dama, putri sulung sang pendiri, yang melanjutkan usaha lampu botol warisan ayahnya.
Asal‑Usul Tradisi Tumbilotohe
Tumbilotohe merupakan sebuah praktik pembuatan lampu dari botol kaca bekas yang diubah menjadi sumber cahaya estetis. Pada masa lalu, lampu ini bukan sekadar penerangan, melainkan simbol kebersamaan dalam perayaan adat, terutama pada upacara adat dan acara komunitas. Botol‑botol yang dulunya menjadi limbah kini diolah menjadi karya seni yang memancarkan warna‑warna hangat, menambah keindahan lingkungan serta menegaskan nilai daur ulang.
Kisah Keluarga Dama: Dari Ayah ke Anak
Usaha lampu botol ini pertama kali digelarkan oleh Bapak Haji Ahmad Dama pada akhir 1990‑an. Dengan modal terbatas, ia mengumpulkan botol bekas dari pasar dan pedagang lokal, lalu memanaskan dan menambahkan kawat serta lampu pijar untuk menciptakan tumbilotohe yang layak jual. Selama hampir dua dekade, produk‑nya menjadi primadona dalam festival budaya Gorontalo, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi beberapa keluarga.
Pada tahun 2022, setelah sang ayah menghembuskan napas terakhir, beban melanjutkan usaha jatuh pada putrinya, Titik Dama, yang lebih dikenal dengan nama Titin Dama. Meskipun awalnya enggan, Titin menyadari potensi ekonomi dan nilai budaya yang terkandung dalam lampu botol tersebut.
Strategi Revitalisasi Usaha
- Inovasi Desain: Titin menambahkan sentuhan modern pada tumbilotohe dengan variasi bentuk, warna, serta penggunaan lampu LED hemat energi, sehingga produk lebih menarik bagi generasi muda.
- Pemasaran Digital: Menggunakan media sosial seperti Instagram dan TikTok, ia menampilkan proses pembuatan serta keunikan lampu botol, meningkatkan visibilitas hingga melampaui batas provinsi.
- Kolaborasi Komunitas: Bersama kelompok wanita lokal, Titin mengadakan workshop daur ulang botol, memperluas jaringan produksi dan memperkuat nilai kebersamaan.
Hambatan dan Penegakan Hukum
Pada pertengahan 2023, tiga pasangan pengusaha lokal yang juga terlibat dalam produksi tumbilotohe mendapat sorotan Satpol PP karena dugaan pelanggaran izin usaha. Meskipun tidak ada bukti langsung terhadap usaha Titin, insiden tersebut menimbulkan kegelisahan di kalangan pelaku usaha tradisional. Titin menegaskan pentingnya kepatuhan pada regulasi, sekaligus menyerukan dialog antara pemerintah daerah dan pelaku usaha budaya untuk menciptakan kebijakan yang mendukung sekaligus melindungi warisan.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Sejak revitalisasi, penjualan lampu botol meningkat 45 % dalam enam bulan pertama. Pendapatan tambahan memungkinkan keluarga Dama membuka kelas pelatihan bagi pemuda desa, memperkenalkan keterampilan kerajinan serta menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal. Lebih dari 30 orang kini terlibat dalam proses produksi, menciptakan lapangan kerja baru di wilayah yang sebelumnya bergantung pada sektor pertanian.
Selain itu, lampu tumbilotohe kini menjadi pilihan dekorasi di hotel dan restoran yang menonjolkan konsep “eco‑friendly”. Keberhasilan ini menunjukkan sinergi antara pelestarian budaya dan inovasi usaha, mengukuhkan posisi Gorontalo sebagai contoh kreatif dalam ekonomi sirkular.
Masa Depan yang Cerah
Titin berencana memperluas pasar ke luar Pulau Sulawesi, dengan mengirimkan produk ke kota‑kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Ia juga menargetkan partisipasi dalam pameran internasional kerajinan tangan, menjadikan tumbilotohe sebagai duta budaya Indonesia yang bersinar di kancah global.
Dengan semangat yang diwariskan oleh sang ayah, Titin Dama tidak hanya melanjutkan bisnis, melainkan menghidupkan kembali makna tradisi Tumbilotohe. Lampu botol yang dulunya sederhana kini menjadi simbol keberanian generasi muda dalam menjaga warisan budaya sekaligus menjawab tantangan ekonomi masa kini.
