Keindahan Teut Leumang: Tradisi Gotong Royong Membuat Lemang Menyambut Lebaran di Aceh

IPD – 21 Maret 2026 | Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, warga Aceh khususnya di Kabupaten Gayo Lues menghidupkan kembali tradisi kuliner yang sarat makna budaya, yaitu Teut Leumang atau yang lebih dikenal sebagai Lemang. Upacara pembuatan lemang ini tidak sekadar memasak makanan, melainkan menjadi ajang kebersamaan, gotong royong, dan pelestarian warisan nenek moyang yang telah berlangsung turun temurun.

Proses Pembuatan Lemang di Desa Agusen

Di Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, warga berkumpul pada Jumat, 20 Maret 2026, untuk menyiapkan bahan-bahan utama. Glutinous rice (beras ketan) dicuci bersih, lalu direndam selama beberapa jam. Sementara itu, santan segar diperas dari kelapa muda dan disaring hingga bersih.

Langkah selanjutnya melibatkan pembuatan wadah tradisional dari bambu. Setiap batang bambu dipotong sepanjang 1,5 meter, dibelah memanjang, dan dibersihkan. Di dalamnya, lapisan daun pisang diletakkan sebagai pelindung, kemudian beras ketan dimasukkan secara berurutan, diselingi dengan lapisan santan. Proses pengisian bambu dilakukan secara bergantian oleh relawan muda dan tua, menegaskan nilai inklusifitas dalam tradisi.

Setelah bambu terisi, tutup rapat dengan daun pisang dan dijajarkan di atas bara api yang dibakar dari kayu keras. Lemang dipanggang selama kurang lebih tiga hingga empat jam, sambil terus diputar secara perlahan agar panas merata. Aroma harum santan dan beras yang matang perlahan menguar, menambah semangat warga yang menunggu hasilnya.

Makna Sosial dan Budaya

Teut Leumang bukan sekadar hidangan, melainkan simbol persatuan. Kegiatan ini melibatkan semua lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak yang membantu menyiapkan bahan, hingga orang tua yang mengawasi proses pemanggangan. Gotong royong yang terlihat dalam setiap tahapan mencerminkan nilai kebersamaan yang menjadi inti budaya Aceh.

Selain itu, tradisi ini berfungsi sebagai sarana melestarikan pengetahuan tradisional. Teknik mengolah bambu, cara menyiapkan santan, dan metode pemanggangan yang tepat diajarkan secara lisan dari generasi ke generasi. Pada era digital ini, pelestarian semacam ini menjadi penting untuk menjaga identitas lokal.

Hubungan dengan Tradisi Meugang

Di samping Teut Leumang, warga Gayo Lues juga melaksanakan tradisi Meugang menjelang Lebaran. Meugang melibatkan penyembelihan sapi sebagai bentuk syukur dan penyediaan daging untuk keluarga besar. Meskipun berbeda, kedua tradisi memiliki titik temu yang sama: menekankan kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur atas keberkahan yang akan datang.

Keberlangsungan kedua tradisi ini, bahkan di tengah kondisi pascabencana seperti banjir yang melanda wilayah tersebut, menunjukkan ketangguhan sosial masyarakat Aceh. Masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi juga terus melestarikan nilai-nilai budaya yang mempererat hubungan antarwarga.

Persiapan Lebaran 1447 Hijriah

Lebaran tahun ini jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 (1447 Hijriah). Menjelang hari raya, lemang yang telah matang disajikan bersama menu tradisional lainnya, seperti sate Aceh, kurma, dan kue tradisional. Hidangan ini biasanya dinikmati dalam acara silaturahmi, memperkuat tali persaudaraan antar keluarga dan tetangga.

Dengan menyiapkan lemang secara bersama‑sama, warga tidak hanya menyiapkan makanan, tetapi juga menyiapkan semangat persaudaraan yang akan dibawa ke dalam perayaan Idul Fitri. Tradisi Teut Leumang menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, mengingatkan bahwa budaya lokal tetap relevan dalam kehidupan modern.

Ke depan, upaya pelestarian tradisi ini diharapkan dapat didukung oleh pemerintah daerah melalui program pelatihan, penyediaan bahan baku, dan promosi budaya Aceh di tingkat nasional. Dengan demikian, Teut Leumang tidak hanya menjadi warisan lokal, tetapi juga kebanggaan bangsa.

Melalui lemang, Aceh menyambut Lebaran dengan rasa syukur, kebersamaan, dan kebanggaan akan warisan budaya yang terus hidup.

Leave a Comment