IPD – 10 Maret 2026 | Jakarta, 11 Maret 2026 – Setelah Ajax Amsterdam mengalami kekalahan telak 1-3 dari tuan rumah FC Groningen di Stadion Euroborg pada Sabtu malam, kiper timnas Indonesia, Maarten Paes, membuka suara mengenai kondisi ruang ganti timnya serta menyingkap beberapa ucapan keras yang muncul sesudah pertandingan.
Menurut laporan Voetbal International, Paes mengakui bahwa Ajax tidak memasuki lapangan dengan semangat yang cukup. “Di babak pertama, selain gol itu, tidak banyak yang terjadi, tetapi kami tidak keluar dari ruang ganti dengan semangat yang kuat,” ujarnya dalam sebuah wawancara eksklusif pada Selasa, 10 Maret 2026.
Namun, yang menarik perhatian media dan para penggemar bukan hanya penilaian teknisnya. Paes secara terbuka mengungkapkan kondisi ruang ganti Ajax yang menurutnya “kurang mendukung”. Ia menambahkan bahwa suasana tegang dan kurangnya motivasi di dalam ruangan membuat para pemain tampak lesu, sehingga performa di lapangan pun terpengaruh.
Kondisi Ruang Ganti yang Memburuk
Menurut Paes, ruang ganti Ajax di Euroborg terasa “semrawut”. Lampu yang terlalu redup, pendingin udara yang tidak berfungsi optimal, serta kurangnya fasilitas pemulihan membuat para pemain harus berjuang melawan rasa lelah bahkan sebelum menapaki lapangan. “Kami seharusnya memiliki ruang yang dapat memulihkan tenaga, bukan ruang yang menambah beban mental,” kata Paes.
Ia menambahkan bahwa beberapa rekan setimnya tampak saling menyalahkan satu sama lain, menciptakan atmosfer yang tidak kondusif. Bahkan, ada laporan bahwa seorang pemain mengeluarkan kata-kata kasar kepada rekan satu timnya, meski Paes menolak menyebutkan nama demi menjaga profesionalisme.
Ucapan Kasar yang Membuat Geger
Paes tidak menutup diri untuk membahas kata-kata keras yang melontarkan seorang pemain Ajax setelah gol kedua Groningen. “Ada suara yang sangat tajam, hampir seperti memaki, yang menambah ketegangan di dalam ruang ganti,” ungkap Paes. Meskipun tidak mengidentifikasi siapa yang mengucapkan, ia menegaskan bahwa sikap seperti itu tidak dapat diterima dalam tim yang mengusung nilai sportivitas.
Penulisannya mengacu pada standar etika yang dijunjung oleh klub-klub top Eropa, Paes menekankan pentingnya kontrol diri, terutama di momen-momen krusial. “Kita harus belajar menyalurkan kemarahan menjadi motivasi, bukan menjadi bahan bakar perselisihan internal,” tegasnya.
Introspeksi Pribadi dan Tanggung Jawab Tim
Alih-alih mengalihkan kesalahan kepada pelatih atau rekan-rekan, Paes memilih untuk melakukan introspeksi diri. “Saya bukan tipe orang yang suka menyalahkan orang lain; saya sudah dewasa, jadi saya bertanggung jawab,” katanya. Ia menilai bahwa kegagalan tim merupakan hasil kolektif, di mana setiap individu harus menilai kontribusinya.
Paes menekankan bahwa sebagai kiper, ia merasa memiliki peran penting dalam menjaga moral tim. “Setelah skor 2-1, kami tidak menunjukkan apa pun bahwa kami adalah sebuah tim. Itu menyakitkan,” ia menuturkan dengan nada yang serius.
Reaksi Publik dan Harapan Kedepan
Berita tentang kondisi ruang ganti yang tidak memadai serta ucapan kasar di dalam tim dengan cepat menjadi perbincangan di media sosial. Fans Ajax menuntut perbaikan fasilitas dan tindakan disipliner terhadap pemain yang melanggar kode etik tim. Di sisi lain, pihak manajemen Ajax belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai temuan Paes.
Meski demikian, Paes tetap optimis. Ia percaya bahwa dengan perbaikan kondisi fisik dan mental, Ajax dapat bangkit kembali. “Kami harus belajar dari kegagalan ini, memperbaiki fasilitas, dan mengembalikan semangat juang yang selama ini menjadi ciri khas Ajax,” tuturnya.
Dengan menyoroti masalah internal yang jarang diungkap ke publik, Paes memberikan pelajaran penting bagi semua klub: keberhasilan di lapangan tidak lepas dari kondisi mental dan fisik yang mendukung di baliknya.
