IPD – 10 Maret 2026 | Dalam rangkaian konflik yang kini telah melampaui sepuluh hari, Iran menegaskan kesiapan militernya untuk bertahan hingga serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel berakhir. Pemerintahan Teheran, meski menghadapi serangan udara intensif, menunjukkan ketangguhan melalui tiga taktik utama yang dipaparkan oleh The Wall Street Journal dan dipastikan oleh pejabat senior dalam negeri.
Strategi Persiapan Pra-Perang
Iran telah lama menyiapkan skenario konfrontasi militer sejak konflik berlarut pada Juni lalu, ketika Tehran mengalami kerugian signifikan dalam bentrokan 12 hari melawan Israel dan Amerika Serikat. Menurut pendiri Garda Revolusi, Mohsen Sazegara, yang kini berada di pengasingan di Amerika Serikat, pemerintah Iran “sudah siap”. Persiapan meliputi penguatan jaringan pertahanan udara, distribusi persediaan rudal yang tersembunyi, serta pelatihan pasukan khusus untuk operasi asimetris.
Taktik Bertahan yang Diterapkan
- Pertahanan Lapangan yang Terdesentralisasi: Pasukan keamanan Iran mempertahankan kota-kota utama dengan kehadiran kuat, menempatkan unit-unit kecil yang dapat bergerak cepat untuk menanggapi serangan. Pendekatan ini mengurangi risiko konsentrasi kerusakan massal.
- Serangan Balik Terarah: Meskipun jumlah rudal yang diluncurkan berkurang dibandingkan fase awal, Iran tetap melancarkan serangan balasan ke target strategis di Teluk Arab, Israel, dan wilayah sekitarnya. Serangan ini bertujuan mengganggu logistik musuh dan menegaskan kemampuan ofensif.
- Penguatan Narasi Nasionalis: Pejabat senior secara rutin mengeluarkan pernyataan yang menekankan persatuan dan keteguhan rakyat Iran. Narasi ini berhasil mencegah munculnya protes besar-besaran, yang sebelumnya mengancam stabilitas pemerintah pada Januari.
Reaksi Internasional dan Tekanan Diplomatik
Di luar wilayah, Indonesia secara terbuka menekan Amerika Serikat, Israel, dan Iran untuk menghentikan serangan di Teluk. Panggilan diplomatik tersebut mencerminkan keprihatinan negara-negara non‑blok terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat meluas ke jalur perdagangan minyak strategis.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada sebuah wawancara dengan CBS menyatakan bahwa “perang ini sudah hampir selesai,” mengacu pada kerusakan signifikan yang menimpa armada laut, udara, dan sistem komunikasi Iran. Pernyataan tersebut tampak bertentangan dengan fakta lapangan, di mana Iran masih menunjukkan kemampuan operasional dan kontrol wilayah.
Dukungan dan Penolakan dari Negara‑Negara Lain
Walau tidak semua negara secara terbuka menyatakan dukungan, terdapat laporan tentang delapan negara yang secara tacit mendukung koalisi AS‑Israel, termasuk beberapa negara di kawasan Teluk Arab. Namun, Iran masih memanfaatkan aliansi dengan kelompok proxy di Lebanon, Suriah, dan Irak untuk memperluas tekanan terhadap musuh.
Implikasi bagi Stabilitas Regional
Kekuatan bertahan Iran menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan Amerika Serikat dan sekutunya untuk mencapai tujuan politik mereka dalam waktu singkat. Tanpa adanya perubahan signifikan dalam taktik militer atau tekanan diplomatik yang efektif, konflik berpotensi berlarut, menambah beban ekonomi global dan memperparah ketegangan di kawasan.
Secara keseluruhan, Iran tampaknya tidak akan mundur hingga serangan udara gabungan berhenti. Kesiapan logistik, strategi pertahanan terdesentralisasi, serta upaya propaganda domestik menjadi fondasi utama ketangguhan rezim Tehran. Sementara itu, tekanan diplomatik dari negara‑negara seperti Indonesia menunjukkan adanya upaya internasional untuk mendorong de‑eskalasi, namun realitas di lapangan masih menuntut pendekatan yang lebih komprehensif.
