IPD – 25 Maret 2026 | Iran kembali menegaskan kemampuannya dalam konflik regional dengan meluncurkan gelombang serangan ke-80 yang menargetkan pusat komando militer Israel di Safed serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Operasi yang dinamai True Promise 4 ini diumumkan oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Rabu, 25 Maret 2026, menandai eskalasi terbaru sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran pada akhir Februari.
Target Utama di Israel dan Amerika Serikat
Menurut pernyataan resmi IRGC, serangan rudal massal diarahkan ke pusat komando militer Israel yang terletak di Safed, sebuah kota di wilayah utara yang berada di bawah kontrol Israel. IRGC menilai fasilitas tersebut sebagai “jantung koordinasi operasi ofensif dan defensif” Israel di wilayah Palestina utara. Selain Safed, rudal juga diluncurkan menuju tiga kota strategis Israel: Tel Aviv, Kiryat Shmona, dan Bnei Brak.
Serangan tidak terbatas pada wilayah Israel. IRGC mengklaim telah menembakkan rudal berpemandu presisi berbahan bakar cair dan padat serta drone bersenjata ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang menampung pasukan di Kuwait, Yordania, dan Bahrain. Pemerintah Kuwait melaporkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil men intercept sebagian rudal, namun terdengar ledakan yang menandakan pencegahan serangan. Di Bahrain, otoritas dalam negeri mengeluarkan peringatan evakuasi dan menyatakan bahwa tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Balasan Israel terhadap Fasilitas Submarin Iran
Pada hari yang sama, militer Israel mengumumkan bahwa mereka berhasil menghantam pusat riset dan pengembangan sistem kapal selam Iran di Isfahan. Menurut juru bicara militer Israel, fasilitas tersebut merupakan satu-satunya tempat di Iran yang merancang dan memproduksi kapal selam serta kendaraan bawah air tanpa awak. Serangan udara yang diluncurkan pada 24 Maret 2026, menurut pihak Israel, “secara signifikan membatasi” kemampuan Angkatan Laut Iran untuk memperluas armada kapal selamnya.
Israel menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan respons langsung terhadap aksi balasan Iran yang menargetkan wilayahnya serta pangkalan-pangkalan AS. Meskipun ada laporan tentang asap hitam dan suara sirene di beberapa kota Israel seperti Tel Aviv dan Hadera, pihak militer Israel menyatakan bahwa tidak ada kerusakan signifikan pada infrastruktur sipil atau fasilitas energi.
Latar Belakang Konflik yang Memanas
Ketegangan regional memuncak setelah serangan militer besar-besaran yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026, menargetkan instalasi militer dan infrastruktur kritis di Iran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan senior dan warga sipil pada 28 Februari. Kematian tokoh tertinggi tersebut memicu gelombang balasan cepat dari IRGC, termasuk peluncuran rudal dan drone ke target di Israel, Amerika Serikat, dan sekutu regionalnya.
Sejak itu, Iran telah mengumumkan serangkaian operasi militer bernama True Promise, yang kini mencapai gelombang ke-80. Setiap gelombang mencakup kombinasi rudal berbahan bakar cair dan padat, serta drone berpresisi tinggi, yang menurut IRGC dirancang untuk “menunjukkan solidaritas dengan Hizbullah di Lebanon” serta “melindungi warga sipil di wilayah Palestina”.
Dampak Regional dan Respons Internasional
Negara-negara di Teluk, termasuk Arab Saudi, melaporkan berhasil men intercept 11 drone yang melintasi wilayah timur mereka, meski asal muasal drone belum dapat dipastikan. Di sisi lain, otoritas sipil Kuwait mencatat kerusakan material pada sebuah tangki bahan bakar di bandara internasional setelah terkena rudal tak terkendali, namun tidak ada korban jiwa.
Komunitas internasional menanggapi eskalasi ini dengan seruan penurunan ketegangan. Beberapa diplomat Eropa mengajak pihak‑pihak terkait untuk kembali ke jalur diplomasi, sementara PBB mengumumkan akan mengadakan pertemuan darurat guna membahas langkah-langkah pencegahan lebih lanjut. Namun, hingga kini belum ada tanda konkret bahwa kedua belah pihak bersedia menahan serangan balasan lebih lanjut.
Secara keseluruhan, gelombang serangan ke-80 menegaskan bahwa konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah memasuki fase yang lebih intensif, dengan risiko meluas ke wilayah lain di Timur Tengah. Kekuatan militer Iran, khususnya dalam penggunaan rudal balistik dan drone, menunjukkan kemampuan logistik dan teknis yang signifikan, sementara respons Israel dan sekutu‑sekutunya menyoroti kesiapan pertahanan udara regional yang semakin ketat.
Situasi ini menuntut perhatian khusus dari pembuat kebijakan global, mengingat potensi dampak ekonomi, keamanan energi, serta stabilitas politik di kawasan yang sudah rapuh. Pengembangan lebih lanjut dari teknologi rudal dan drone serta kemungkinan keterlibatan militer tambahan dapat memperpanjang konflik, sehingga upaya diplomatik menjadi semakin penting untuk mencegah eskalasi yang tak terkendali.
