IPD – 11 Maret 2026 | Pada Minggu, 8 Maret 2026, sebuah longsor material sampah terjadi di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Bencana ini menewaskan tujuh orang dan melukai beberapa lainnya, memaksa tim SAR gabungan menghentikan operasi pencarian setelah semua korban berhasil ditemukan.
Tim SAR yang dipimpin oleh Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, menutup operasi pada dini hari Selasa, 10 Maret 2026, setelah memastikan tidak ada lagi laporan orang hilang. Metode pencarian melibatkan alat berat untuk menyingkirkan timbunan, anjing pelacak K9, serta drone termal untuk mendeteksi suhu tubuh di bawah tumpukan sampah. Identifikasi korban tewas dilakukan oleh tim kepolisian, dengan nama-nama yang telah terkonfirmasi.
- Korban selamat: Budiman, Johan, Safifudin, Slamet, Ato, Dofir.
- Korban meninggal: Enda Widayanti (25), Sumine (60), Dedi Sutrisno, Irwan Supriatin, Jussova Situmorang (38), Hardianto, Riki Supriadi (40).
Setelah bencana, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta langsung mengerahkan tim lapangan untuk menata kembali area zona 4A yang terdampak. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menyatakan target agar operasional TPST Bantargebang kembali normal dalam waktu satu pekan. Penataan mencakup perbaikan turap kali di dua titik strategis serta pemindahan material longsor ke zona penimbunan baru agar aliran air tidak meluap.
Selama proses pemulihan, tiga zona aktif TPST Bantargebang (Zona 1, Zona 2, dan Zona 5) tetap beroperasi dengan kapasitas total sekitar 4.000 ton sampah per hari. Untuk menutupi kekosongan zona 4 yang tertutup, pemerintah sementara mengoperasikan beberapa fasilitas pengolahan lain:
- RDF Plant Rorotan, Jakarta Utara – kapasitas awal 300 ton/hari, direncanakan naik menjadi 750 ton/hari dalam pekan ini, dan akhirnya 1.000 ton/hari.
- RDF Plant Bantargebang – kapasitas sekitar 800 ton/hari.
- PLTSa Merah Putih – kapasitas sekitar 100 ton/hari.
Dengan kombinasi fasilitas tersebut, total volume sampah yang dapat diproses diperkirakan mencapai 6.700 hingga 7.150 ton per hari menjelang akhir pekan pertama setelah bencana. Langkah ini penting untuk menjaga stabilitas layanan kebersihan Jakarta, mengingat TPST Bantargebang merupakan titik masuk utama limbah kota.
Selain penanganan operasional, tim DLH juga fokus pada mitigasi risiko longsor susulan. Penataan zona 3 Kepala Burung dan zona 4 Besar dilakukan secara intensif, dengan penambahan material penstabil dan pemantauan terus-menerus terhadap kondisi tanah serta aliran air. Jika perbaikan zona 4 Besar selesai, kapasitas layanan tambahan sebesar 1.500 ton per hari akan dapat diaktifkan kembali.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyampaikan rencana jangka menengah untuk meningkatkan ketahanan infrastruktur pengelolaan sampah. Salah satu inisiatif meliputi penyusunan skema pengangkutan terjadwal yang melibatkan anggotas DPRD setempat, serta pemetaan ulang zona penimbunan untuk mengurangi akumulasi material yang berpotensi memicu longsor di masa depan.
Seluruh upaya di atas menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam menjaga kelangsungan layanan publik sekaligus mempercepat pemulihan pasca-bencana. Meskipun proses penataan masih berlangsung, layanan pembuangan sampah Jakarta tetap terjaga melalui zona aktif dan fasilitas cadangan, memastikan tidak terjadi gangguan signifikan bagi warga.
Dengan target operasional kembali normal dalam seminggu, diharapkan TPST Bantargebang dapat melanjutkan fungsi utamanya serta menjadi contoh penanganan darurat yang terkoordinasi antara pemerintah, tim SAR, dan pihak pengelola sampah.
