IPD – 09 Maret 2026 | All England Open 2026 berakhir dengan drama yang menegangkan di setiap lapangan. Turnamen bulutangkis paling bergengsi di dunia ini menyuguhkan penampilan gemilang dari pasangan China Liu/Tan yang berhasil mengangkat gelar ganda putri, sekaligus menegaskan dominasi negara tirai bambu di panggung internasional. Di sisi lain, pasangan Korea Baek/Lee harus menelan kekalahan di final, gagal menambah trofi ke dalam koleksi mereka.
Ganda Putri: Liu/Tan Menang Telak Atas Baek/Lee
Pasangan ganda putri China, Liu Xinchen dan Tan Yingying, menunjukkan performa konsisten sepanjang turnamen. Di final, mereka menghadapi duo Korea Baek Ha‑na dan Lee So‑hee yang memang berada di puncak peringkat dunia.
Set pertama dimenangkan oleh Liu/Tan dengan skor 21‑12, menggarisbawahi keunggulan mereka dalam serangan smash dan pertahanan net. Baek/Lee mencoba bangkit di set kedua, namun tak mampu menutup celah pertahanan, sehingga skor berakhir 21‑15. Kemenangan ini menandai gelar pertama China di ganda putri All England sejak 2015, sekaligus mengembalikan kebanggaan bulutangkis nasional.
Ganda Putra: Kim/Seo Pertahankan Tahta
Di sisi lain, ganda putra Indonesia? (sebenarnya Korea) Kim Hye‑jin dan Seo Seung‑jae berhasil mempertahankan gelar juara mereka. Mereka mengalahkan pasangan Malaysia dalam semifinal dan menaklukkan lawan kuat dari Taiwan di final. Dengan kemenangan 21‑18, 21‑16, Kim/Seo menunjukkan bahwa dominasi mereka di ganda putra masih kuat, meski negara lain terus menekan.
Kemenangan ini menjadi bukti konsistensi pasangan Korea yang telah memegang gelar All England selama dua tahun berturut‑turut. Keberhasilan mereka juga menambah poin penting pada peringkat dunia, menjaga posisi mereka di puncak.
Dampak Kemenangan Terhadap Peringkat Dunia
- Pasangan Liu/Tan naik ke peringkat No.1 dunia setelah menambah poin maksimum di turnamen BWF Super 1000.
- Kim/Seo tetap mempertahankan posisi No.1 di ganda putra, memperlebar jarak dengan rival terdekat.
- Pasangan Baek/Lee turun tiga peringkat setelah kegagalan menambah trofi, kini berada di posisi ke‑4 dunia.
Reaksi dan Harapan Kedepan
Pelatih tim nasional China, Li Yong, menyatakan kebanggaannya atas kemenangan Liu/Tan, menekankan pentingnya kerja keras dan persiapan mental menjelang Olimpiade 2028. Sementara itu, kapten tim Korea, Park Jae‑sung, mengakui bahwa kekalahan Baek/Lee menjadi pelajaran penting untuk meningkatkan strategi serangan.
Para analis menilai bahwa All England 2026 menjadi titik balik bagi China yang kembali menancapkan bendera mereka di podium utama, terutama di ganda putri yang selama hampir satu dekade didominasi oleh pasangan Korea dan Jepang.
Turnamen kali ini juga menyoroti penurunan performa Malaysia, yang setelah 19 tahun menunggu belum berhasil mengantongi gelar di kategori ganda putra. Kegagalan tersebut menambah tekanan pada federasi bulutangkis Malaysia untuk melakukan restrukturisasi program pelatihan.
Dengan hasil final yang menegaskan kembali dominasi China dan Korea di masing‑masing kategori, mata dunia bulutangkis kini tertuju pada persiapan menuju turnamen berikutnya, termasuk Kejuaraan Dunia 2026 dan kualifikasi Olimpiade.
Secara keseluruhan, All England Open 2026 tidak hanya memberikan hiburan kelas dunia, tetapi juga menegaskan dinamika kekuatan bulutangkis internasional yang terus bergeser. Para pemain dan pelatih kini harus menyiapkan strategi baru untuk menantang dominasi yang ada.
