IPD – 08 Maret 2026 | Dalam laga FA Cup putaran kelima yang digelar di Stadion Stok Cae Ras pada Minggu, 8 Maret 2026, Chelsea berhasil menembus babak perempat final setelah mengalahkan Wrexham dengan skor 4-2 setelah perpanjangan waktu. Pertandingan yang awalnya berimbang 2-2 pada waktu reguler berakhir dengan gol penentu pada menit ke-97 oleh Alejandro Garnacho dan gol penutup pada menit ke-120+5 oleh Joao Pedro, menandai comeback dramatis The Blues.
Rincian Laga dan Momen Krusial
Wrexham membuka keunggulan lebih dulu pada menit ke-18 lewat gol Sam Smith setelah memanfaatkan situasi satu lawan satu dengan kiper Chelsea, Robert Sanchez. Kelemahan pertahanan Chelsea tampak jelas ketika mereka kesulitan memecah pertahanan ganda Wrexham, meski pemain sayap seperti Garnacho dan Pedro Neto berulang kali mencoba menembus lini belakang lawan.
Poin kembali menyamakan skor terjadi pada menit ke-40 ketika tendangan Garnacho meleset dan masuk ke gawang sendiri kiper Wrexham, Arthur Okonkwo. Di babak kedua, Wrexham kembali memimpin pada menit ke-78 lewat gol bunuh diri Josh Windass setelah sepakan dari sudut penalti melengkung ke arah gawang Chelsea. Namun, Chelsea tidak tinggal diam; pada menit ke-82, Josh Acheampong mengeksekusi tembakan keras dari sisi kanan kotak penalti yang berhasil menembus gawang Wrexma, menyamakan kedudukan kembali menjadi 2-2.
Ekstra waktu menjadi panggung bagi Chelsea untuk mengukir kemenangan. Alejandro Garnacho mencetak gol pertama pada menit ke-97, memberi keunggulan pertama bagi The Blues. Setelah serangkaian serangan, Joao Pedro menambah keunggulan pada menit ke-120+5, memastikan kemenangan 4-2 dan melaju ke perempat final, menyusul jejak Liverpool dan Arsenal.
Kritik atas Ketidakmampuan Mengendalikan Pertandingan
Meski berhasil menjuarai pertandingan, masalah mendasar tetap menghantui tim asuhan Liam Rosenior. Dalam sebuah wawancara pasca laga melawan Crystal Palace, Rosenior mengakui bahwa Chelsea masih belum mampu “mengelola permainan” ketika berada di posisi menguasai. Ia menuturkan, “Kami memiliki kontrol, tetapi kami perlu menemukan cara untuk mengatur permainan dengan lebih baik, terutama melawan lawan yang agresif.”
Masalah ini bukan hal baru. Sejak kepemimpinan Rosenior, Chelsea kerap menampilkan pola serupa: memimpin tetapi kemudian mengizinkan lawan menyamakan skor. Contoh-contoh utama meliputi:
- FA Cup melawan Wrexham – memimpin 3-2 namun hampir berakhir imbang.
- Keputusan 4-1 atas Aston Villa – peluang emas di menit ke-78 terlewatkan oleh Ollie Watkins.
- Kemenangan 3-0 atas Wolverhampton Wanderers – menyerah pada gol penyetaraan Tolu Arokodare di babak kedua.
- Derby melawan Leeds United – kebobolan penalti setelah Moises Caicedo terjatuh.
- Kekalahan melawan Burnley – gol penyetaraan Zian Flemming pada menit terakhir.
Analisis Taktil dan Dampak Musim
Berbagai faktor menjadi penyebab ketidakmampuan Chelsea mengendalikan pertandingan. Pertama, strategi menyerang yang terlalu agresif membuat ruang kosong di lini belakang, memberi peluang bagi lawan melakukan serangan balik. Kedua, kurangnya disiplin dalam fase transisi, terlihat ketika pemain seperti Jorrel Hato atau Moises Caicedo melakukan tekel berisiko tinggi. Ketiga, keputusan taktis yang tidak fleksibel; pelatih tampak enggan mengubah formasi atau menurunkan tekanan saat tim lawan mulai menguasai bola.
Statistik sementara menunjukkan bahwa Chelsea telah memainkan 15 pertandingan sejak Rosenior mengambil alih, dengan rekor 10 kemenangan, 2 hasil seri, dan 3 kekalahan. Meskipun posisi berada di zona atas klasemen, kegagalan mengamankan keunggulan dapat menurunkan moral dan mengancam peluang trofi.
Prospek dan Langkah Perbaikan
Untuk mengoptimalkan potensi, Rosenior harus menekankan pada manajemen tempo permainan, mengajarkan pemain untuk menutup ruang ketika memimpin, serta meningkatkan koordinasi antara lini pertahanan dan tengah. Penggunaan pemain veteran seperti Thiago Silva atau N’Golo Kanté dalam peran penahan dapat membantu menstabilkan lini belakang pada fase kritis.
Jadwal ke depan menampilkan pertandingan melawan tim-tim papan atas Premier League, termasuk Liverpool dan Manchester City. Jika Chelsea dapat memperbaiki pengelolaan pertandingan, peluang untuk meraih gelar liga dan menambah trofi FA Cup semakin terbuka lebar.
Kesimpulannya, meski berhasil melaju ke perempat final FA Cup berkat kemenangan dramatis melawan Wrexham, Chelsea masih harus mengatasi kebiasaan gagal mengendalikan permainan. Perbaikan taktik, disiplin defensif, dan pengalaman Rosenior akan menjadi kunci utama dalam menentukan apakah The Blues dapat kembali menjadi kekuatan dominan di Inggris.
