AS Lepas Cadangan Minyak Strategis Terbesar: 172 Juta Barel untuk Redam Krisis Energi di Tengah Konflik Iran

IPD – 13 Maret 2026 | Pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump melakukan langkah paling dramatis dalam sejarah cadangan minyak strategisnya. Dalam rentang waktu kurang dari dua jam, kebijakan yang semula menolak intervensi pasar berubah menjadi pelepasan 172 juta barel minyak darurat. Keputusan ini diambil bersamaan dengan upaya koordinasi internasional yang dipimpin Badan Energi Internasional (IEA) untuk melepaskan total 400 juta barel minyak, guna menstabilkan pasar global yang terguncang akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Latar Belakang Konflik dan Ancaman pada Selat Hormuz

Ketegangan antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran memuncak pada akhir Februari 2026, ketika serangan udara AS‑Israel menargetkan fasilitas strategis di wilayah Teluk Persia. Iran merespon dengan mengancam penutupan Selat Hormuz, jalur laut yang mengalirkan sekitar satu per lima pasokan minyak dunia. Penutupan tersebut berpotensi mengurangi aliran minyak global sebesar lebih dari 20 persen, memicu kekhawatiran akan lonjakan harga dan kelangkaan energi.

Keputusan Mendadak Pemerintahan Trump

Awalnya, Menteri Energi Chris Wright memberi sinyal kepada negara‑negara G7 bahwa intervensi besar‑besarannya belum diperlukan. Namun, setelah berkonsultasi dengan penasihat keamanan dan ekonomi, Presiden Trump memerintahkan pelepasan cadangan minyak strategis (Strategic Petroleum Reserve – SPR) sebesar 172 juta barel. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa “waktu yang tepat untuk menggunakan cadangan ini adalah sekarang,” menyoroti urgensi mengatasi potensi guncangan pasokan.

Koordinasi IEA dan Cadangan Global

IEA, yang mewakili 32 negara industri, mengumumkan pada 11 Maret 2026 bahwa anggota‑anggota mereka sepakat melepaskan 400 juta barel minyak darurat. Pelepasan ini menjadi yang terbesar dalam sejarah IEA, melampaui rekor 182 juta barel yang dilepaskan pada krisis Ukraina 2022. Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA, menyatakan bahwa langkah kolektif ini “memberikan dampak kuat pada pasar energi yang kini berada dalam periode kritis.”

EntitasPelepasan (juta barel)
AS (SPR)172
IEA (anggota 32 negara)400
Total572

Dampak pada Harga dan Pasar Minyak

Setelah pengumuman awal, harga minyak Brent sempat turun di bawah US$90 per barel, menandakan pasar berasumsi bahwa pasokan akan cukup terjaga. Namun, dalam hitungan jam, serangan Iran terhadap tiga kapal tanker di Selat Hormuz mendorong harga kembali naik, menembus US$100 per barel. Pada 12 Maret, Brent mencapai puncak US$119,5 per barel sebelum koreksi ke kisaran US$97‑98. Kenaikan tersebut meningkatkan biaya transportasi dan memicu inflasi energi di banyak negara.

Proyeksi dan Tantangan Kedepan

IEA memperkirakan penurunan pasokan global hingga 8 juta barel per hari pada Maret, setara dengan hampir 8 persen permintaan dunia. Produsen minyak Teluk, termasuk Arab Saudi, Irak, Qatar, Kuwait, dan UEA, diperkirakan menurunkan produksi masing‑masing sekitar 10 juta barel per hari akibat gangguan operasional. Sementara itu, cadangan darurat yang dilepaskan diperkirakan akan mengalir ke pasar selama kurang lebih 120 hari, memberikan ruang bernapas bagi industri dan konsumen.

Namun, para analis menekankan bahwa stabilisasi jangka panjang memerlukan pemulihan aliran melalui Selat Hormuz. Jika penutupan berlanjut, tekanan pada harga energi dapat kembali memuncak, menguji ketahanan ekonomi global, terutama di negara‑negara berkembang yang sangat bergantung pada impor minyak.

Keputusan Amerika Serikat untuk mengaktifkan SPR sekaligus dukungan IEA mencerminkan upaya bersama untuk mencegah krisis energi yang lebih parah. Meskipun langkah ini berhasil menurunkan tekanan jangka pendek, dinamika geopolitik di wilayah Teluk Persia tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar minyak global.

Leave a Comment