IPD – 02 April 2026 | Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kembali kebijakan keras Israel terhadap Iran dalam serangkaian pernyataan yang disiarkan secara televisi pada akhir pekan ini. Menurutnya, Israel akan melanjutkan kampanye militer untuk menghancurkan apa yang disebutnya “rezim teror” di Tehran, dan tidak ada ruang bagi negosiasi atau kompromi politik dengan pemerintah Iran.
Netanyahu menyampaikan pernyataannya pada konferensi pers di kantor Perdana Menteri di Yerusalem, menjelang perayaan Paskah Yahudi. “Kampanye ini belum berakhir,” katanya, menambahkan bahwa Israel “akan terus menghancurkan rezim teror”. Pernyataan ini muncul tak lama setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa negara tersebut memiliki kemauan untuk mengakhiri konflik dengan Israel dan Amerika Serikat, asalkan ada jaminan agar perang tidak terulang.
Dalam rangka menegaskan sikapnya, Netanyahu menekankan bahwa Israel telah melakukan tindakan militer yang signifikan dan akan terus melanjutkannya. Ia menyatakan, “Kami harus bertindak, dan kami telah bertindak. Kami tetap teguh dalam misi kami dan telah mengubah wajah Timur Tengah, meskipun perang masih berlangsung, Israel telah muncul sebagai kekuatan regional.”
Penekanan pada kemampuan militer Israel juga tercermin dalam klaim yang disampaikan pada akhir pekan itu, yaitu bahwa Israel telah menghancurkan kemampuan industri Iran, termasuk program peluncuran rudal dan pengembangan senjata nuklir. Netanyahu menyebut pencapaian tersebut sebagai “pencapaian besar” yang membuka peluang bagi Israel untuk membentuk aliansi baru di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, kritik domestik tidak terhindarkan. Yair Lapid, pemimpin oposisi dan kepala Partai Yesh Atid, menilai pidato Netanyahu sebagai “arogan” dan menyatakan bahwa meskipun Netanyahu mengklaim telah mengubah Timur Tengah, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. “Anda hampir mengubah Timur Tengah; pada akhirnya selalu terbukti bahwa Timur Tengah belum berubah,” ujarnya.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengemukakan pandangan yang berbeda mengenai konflik ini. Dalam sebuah wawancara di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat menghentikan serangan militernya terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu tanpa menuntut kesepakatan dari Tehran. Pernyataan Trump ini kontras dengan sikap Netanyahu yang menolak setiap bentuk negosiasi dan menegaskan komitmen Israel untuk terus menyerang Iran.
Pernyataan Trump menimbulkan kebingungan di antara sekutu-sekutu Barat, mengingat sebelumnya AS pernah menekankan pentingnya diplomasi dalam menahan eskalasi konflik di wilayah tersebut. Namun, Trump menegaskan bahwa penarikan pasukan dapat dilakukan secara unilateral dan tidak memerlukan persetujuan Iran.
Di luar arena politik, laporan intelijen menunjukkan bahwa serangan Israel telah menargetkan fasilitas industri militer Iran, termasuk pusat produksi rudal balistik dan instalasi pengayaan uranium. Menurut laporan yang dirilis oleh kantor perdana menteri, Israel telah menghancurkan puluhan ribu rudal balistik dan menurunkan kemampuan Tehran untuk mengembangkan senjata nuklir secara signifikan.
Meski demikian, Iran masih mempertahankan kemampuan peluncuran terbatas, meski tidak lagi dapat mengancam keamanan Israel secara langsung, menurut penilaian Netanyahu. Pemerintah Tehran menolak mengakui kerusakan tersebut dan menegaskan komitmennya untuk melanjutkan program pertahanan nasional.
Konflik yang terus berlangsung ini menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama menjelang perayaan keagamaan penting seperti Paskah Yahudi. Observasi internasional mencatat bahwa situasi geopolitik di wilayah tersebut semakin kompleks, dengan peran besar Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang saling memengaruhi keputusan kebijakan luar negeri masing-masing.
Dengan tidak adanya sinyal negosiasi dari pihak Israel, serta pernyataan tegas Netanyahu mengenai keberlanjutan operasi militer, masa depan hubungan Israel-Iran tampak semakin tidak pasti. Pihak-pihak internasional mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan menghindari eskalasi lebih lanjut, namun perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan Israel mengindikasikan bahwa solusi diplomatik masih jauh dari jangkauan.
