IPD – 07 April 2026 | Maarten Paes, kiper berusia 28 tahun yang kini menjadi pilihan utama di lini belakang Tim Nasional Indonesia, kembali menjadi sorotan media setelah serangkaian peristiwa menarik yang melibatkan kariernya di Eropa. Dari keberhasilannya menghindari skandal “Paspor Gate” di Belanda, penandatanganan kontrak dengan Ajax Amsterdam, hingga penampilan kurang memuaskan melawan FC Twente, perjalanan Paes menjadi contoh dinamika pemain naturalisasi dalam sepak bola modern.
Skandal paspor gate meletus pada awal 2026 ketika sejumlah pemain naturalisasi Indonesia secara tidak sadar mengorbankan kewarganegaraan Belanda mereka. Klub-klub Belanda, termasuk NAC Breda dan Go Ahead Eagles, menuntut klarifikasi atas status pemain yang beralih kebangsaan. Dalam konteks ini, laporan media Belanda mengungkapkan bahwa banyak pemain tidak menerima informasi lengkap mengenai risiko kehilangan paspor asal. Sebaliknya, Maarten Paes menjadi satu-satunya yang mendapatkan peringatan hukum terperinci sebelum memutuskan naturalisasi. Manajemen SEG, agen yang menangani karier Paes, memastikan ia memahami konsekuensi administratif, sehingga status kewarganegaraan Belanda tetap terjaga.
Keputusan Paes untuk bergabung dengan Timnas Indonesia bukan semata‑mata soal kebangsaan, melainkan peluang meningkatkan eksposur internasional. Setelah menandatangani kontrak resmi pada Maret 2026, Paes langsung terlibat dalam rangkaian pertandingan internasional, memperkuat lini pertahanan Garuda pada jeda internasional. Kepiawaiannya dalam menghalau serangan lawan dan distribusi bola menjadi nilai tambah bagi tim, meski ia harus menyesuaikan diri dengan taktik yang berbeda dari klubnya di Belanda.
Sementara itu, agenda debut Paes bersama Ajax Amsterdam menjadi topik hangat di kalangan penggemar. Menurut jadwal internal klub, Paes dijadwalkan mengisi posisi kiper utama pada pertandingan pekan pertama Eredivisie melawan FC Twente, yang berlangsung pada 4 April 2026. Pertandingan tersebut menjadi uji coba pertama Paes di bawah asuhan pelatih Ajax setelah masa transisi dari FC Dallas di Amerika Serikat.
Sayangnya, debut tersebut tidak berjalan mulus. Ajax mengalami kekalahan tipis 1-2 di kandang sendiri. Paes gagal menahan dua tembakan tajam dari serangan Twente, yang berujung pada gol pertama dan gol penentu. Analisis pasca‑pertandingan mencatat bahwa Paes masih beradaptasi dengan kecepatan serangan tim Eredivisie, serta koordinasi defensif yang berbeda dibandingkan dengan liga MLS. Meskipun demikian, pelatih Ajax menilai penampilan Paes masih memiliki potensi, mengingat ia baru pertama kali melangkah di lapangan hijau Belanda pasca‑naturaliasi.
Di luar kompetisi klub, Paes juga sempat bertemu dengan John Herdman, manajer Timnas Indonesia yang sebelumnya melatih tim nasional Kanada. Pertemuan tersebut terjadi dalam rangka persiapan internasional di bulan Maret 2026, di mana Herdman menekankan pentingnya mentalitas profesional dan adaptasi taktik. Herdman memuji keberanian Paes dalam mengambil langkah naturalisasi, sekaligus menekankan bahwa stabilitas psikologis pemain menjadi kunci utama dalam mengatasi tekanan ekstra dari sorotan publik.
Reaksi publik Indonesia pun beragam. Sebagian besar pendukung menyambut hangat kehadiran Paes, menganggap kehadirannya dapat meningkatkan standar pertahanan Garuda. Namun, kritik juga muncul dari kalangan yang menilai naturalisasi pemain asing dapat mengurangi peluang pemain lokal. Di sisi lain, komunitas sepak bola Belanda menyoroti kasus paspor gate sebagai peringatan bagi federasi dan klub agar lebih transparan dalam proses naturalisasi, sehingga tidak menimbulkan konflik hukum di masa depan.
Melihat keseluruhan situasi, karier Maarten Paes mencerminkan tantangan ganda: menyeimbangkan aspirasi pribadi dengan regulasi internasional, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan kompetitif yang berbeda. Jika Paes dapat memanfaatkan pelajaran dari debut yang kurang memuaskan dan terus meningkatkan koordinasi dengan lini belakang Ajax, peluangnya untuk menjadi kiper andalan baik di klub maupun di Timnas Indonesia semakin besar. Di sisi lain, manajemen SEG dan pihak federasi Indonesia diharapkan terus memberi panduan hukum yang jelas, menghindari kembali terulangnya skandal paspor gate yang telah menggores reputasi pemain naturalisasi sebelumnya.
Dengan dukungan teknis dari John Herdman dan pengalaman bermain di dua liga berbeda, Paes berada pada posisi strategis untuk menjadi jembatan antara standar sepak bola Eropa dan ambisi Timnas Indonesia. Keberhasilan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh konsistensi performa di lapangan serta kepastian status kewarganegaraan yang tetap terjaga.
