Mirandés Gagal Raih Permanensi: Kontroversi Wasit dan Kekecewaan di Riazor

IPD – 21 April 2026 | Tim CD Mirandés kembali menapaki laga krusial di LaLiga Hypermotion pada pekan ke-36 melawan RC Deportivo di Stadion Riazor. Pertandingan yang awalnya menjanjikan peluang dua poin untuk mengamankan permanensi berakhir dengan kekalahan 3-1, memperparah posisi klub di zona relegasi.

Sejak peluit awal, Mirandés tampil agresif dan berhasil mencuri gol pertama melalui tendangan penalti Carlos Fernández pada menit ke-41. Gol tersebut menimbulkan euforia singkat di antara pendukung rojillo, namun kegembiraan itu segera sirna ketika keputusan wasit menimbulkan kontroversi. Pada menit 44, VAR menandai adanya pelanggaran tangan Loureiro di dalam kotak penalti, namun sang ofisial tidak mengangkat bendera. Keputusan tersebut menambah ketegangan, terutama setelah wasit menujuk kartu kuning kepada kiper Deportivo Álvaro Fernández yang melakukan tekel keras pada Unax.

Setelah istirahat, Deportivo meningkatkan intensitas serangannya. Mario Soriano menyamakan kedudukan pada menit ke-51 setelah menerima umpan terobosan dari Alti. Namun, Mirandés kembali memimpin pada menit ke-57 lewat penalti kedua yang berhasil dieksekusi oleh Yeremay. Situasi tampak kembali menguntungkan bagi Mirandés, namun kegagalan untuk menahan serangan balik Deportivo menjadi titik balik.

Pada menit ke-71, Nsongo menambah keunggulan Mirandés menjadi 3-1, membuat skor tampak seimbang. Namun, keputusan wasit kembali menjadi sorotan ketika ia menolak penalti potensial untuk Deportivo pada menit 78, meskipun VAR memberi sinyal adanya pelanggaran. Keputusan tersebut memicu protes keras dari pemain dan pelatih Deportivo, yang menilai keputusan itu menghalangi peluang comeback.

Berikut rangkaian insiden utama yang memengaruhi hasil akhir:

  • Penalti pertama untuk Mirandés (Carlos Fernández, menit 41).
  • VAR menolak penalti Loureiro (menit 44).
  • Kartu kuning kepada kiper Álvaro Fernández (menit 41) dan Javi Hernández (menit 47).
  • Gol penyamakan Deportivo (Mario Soriano, menit 51).
  • Penalti kedua untuk Mirandés (Yeremay, menit 57).
  • Gol ketiga Mirandés (Nsongo, menit 71).
  • Penolakan penalti Deportivo (menit 78) yang menjadi titik kontroversi.

Pelatih Mirandés, Antxón Muneta, mengakui frustrasi atas keputusan yang “tidak dapat kami kendalikan”. Ia menilai bahwa tim telah memberikan performa terbaik, namun faktor eksternal menghalangi hasil yang diharapkan. Di sisi lain, pelatih Deportivo, yang menolak menyebut nama, menekankan pentingnya konsistensi dan menilai bahwa keputusan wasit tidak mengubah fakta bahwa mereka tampil lebih tajam di babak kedua.

Statistik pertandingan menunjukkan penguasaan bola yang hampir seimbang, dengan Deportivo mencatat 55% penguasaan dibandingkan 45% milik Mirandés. Namun, efektivitas serangan Deportivo di babak kedua terbukti lebih mematikan, menghasilkan tiga gol dalam rentang waktu kurang dari sepuluh menit.

Dengan hasil ini, Mirandés tetap terperosok di zona relegasi dengan poin yang masih jauh dari zona aman. Poin yang didapatkan menurunkan peluang mereka untuk mengamankan tempat di divisi kedua pada akhir musim. Sementara itu, Deportivo kembali berada di posisi dua dengan 64 poin, bersaing ketat dengan Almería dan Sporting untuk promosi otomatis.

Ke depan, Mirandés harus mengatasi tekanan mental dan memperbaiki konsistensi taktis. Pertandingan selanjutnya melawan tim yang berada di tengah klasemen akan menjadi ujian besar bagi Muneta dan skuadnya. Sementara itu, pertanyaan besar yang terus menggelayuti klub adalah apakah mereka akan diberikan kesempatan lagi untuk berjuang demi permanensi atau harus menerima nasib turun ke divisi ketiga.

Leave a Comment