Mentan Amran Sulaiman Gencarkan Kebijakan: Harga Minyakita, Produksi Beras, Larangan Impor Solar, dan Sinergi BUMN

IPD – 20 April 2026 | Menteri Pertanian Indonesia, Andi Amran Sulaiman, kembali menegaskan agenda reformasi sektor pangan dan energi dalam serangkaian kebijakan yang diumumkan pada pekan ini. Mulai dari pengawasan harga minyak goreng, penanganan dampak El Nino, hingga langkah strategis menghentikan impor solar berbasis biodiesel B50, semua diarahkan pada tujuan swasembada pangan dan kemandirian energi nasional.

Dalam pertemuan internal di Kantor Kementerian Pertanian, Amran Sulaiman mengancam akan menindak tegas produsen Minyakita yang melanggar Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter. “Jika ada yang menaikkan harga di atas HET, kami akan turun tangan bersama Satgas Pangan,” tegasnya. Pemerintah menegaskan bahwa penetapan HET bersifat mengikat, dan pelanggar akan dikenakan sanksi administratif maupun pidana.

Amran menolak asumsi bahwa kenaikan harga minyak goreng disebabkan oleh program biodiesel B50. Data produksi sawit nasional menunjukkan surplus CPO yang cukup untuk mendukung produksi minyak goreng tanpa mengorbankan pasokan energi. Oleh karena itu, kebijakan B50 dipisahkan secara jelas dari regulasi harga minyak goreng, untuk menghindari persepsi publik yang keliru.

Di tengah ancaman cuaca ekstrim yang dijuluki “El Nino Godzilla,” Amran Sulaiman menekankan kesiapan pemerintah dalam menjaga stabilitas produksi beras. Ia menjelaskan bahwa pompanisasi, jaringan irigasi, embung, dan alur alam akan dioptimalkan untuk memastikan ketersediaan air bagi tanaman padi. “Tanaman padi paling sensitif terhadap kekeringan, namun dengan sistem irigasi yang terintegrasi, produksi beras tetap terjamin,” ujar Menteri.

Stok beras nasional (Cadangan Beras Pemerintah) diproyeksikan cukup untuk menutupi kebutuhan domestik selama tiga bulan ke depan, dengan cadangan yang terus dipantau melalui sistem monitoring digital. Pemerintah juga memperkuat koordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk mengantisipasi fluktuasi harga akibat faktor eksternal, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dalam upaya mempercepat swasembada pangan, Amran Sulaiman mengunjungi PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) di Surabaya. Ia menekankan peran strategis BUMN pangan sebagai motor utama dalam mencapai kemandirian pangan. Direktur Utama PT SGN, Mahmudi, menyatakan komitmen perusahaan untuk meningkatkan produktivitas gula nasional, yang diproyeksikan mencapai 3,04 juta ton dengan luas tebu 576.538 hektar.

ParameterProyeksi 2026
Produksi Gula (ton)3,04 juta
Luas Panen Tebu (ha)576.538
Rendemen GKP (%)7,45
Produktivitas Tebu (ton/ha)70,87

Selain sektor gula, Amran menegaskan kebijakan energi terbarukan dengan menghentikan impor solar mulai 1 Juli 2026. Langkah ini sejalan dengan program biodiesel B50 berbasis kelapa sawit, yang diharapkan dapat menggantikan kebutuhan solar impor dan mengurangi defisit neraca perdagangan. Pada kunjungan ke Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), ia juga memamerkan traktor listrik yang diproduksi secara lokal, yang harganya sekitar setengah traktor konvensional dan tidak memerlukan solar.

Seluruh rangkaian kebijakan ini mencerminkan pendekatan terpadu Amran Sulaiman dalam mengatasi tantangan pangan, energi, dan harga komoditas. Dengan penegakan regulasi harga, peningkatan infrastruktur irigasi, sinergi BUMN, serta transisi energi terbarukan, pemerintah menargetkan Indonesia menjadi negara yang lebih mandiri dan tahan terhadap guncangan eksternal.

Ke depan, Kementerian Pertanian akan terus memantau implementasi kebijakan, memperkuat koordinasi lintas sektoral, dan menyesuaikan strategi bila diperlukan, demi menjamin stabilitas harga, ketahanan pangan, dan keberlanjutan energi nasional.

Leave a Comment