IPD – 15 April 2026 | Megan Greene, anggota eksternal Komite Kebijakan Moneter (MPC) Bank of England (BoE), menyampaikan analisisnya tentang dinamika ekonomi Inggris menjelang dan sesudah konflik Iran pada Selasa kemarin. Greene menegaskan bahwa aktivitas ekonomi Britania Raya sudah berada pada level yang lemah sebelum pecahnya perang, namun dampak konflik tersebut menimbulkan tekanan inflasi yang signifikan.
Greene menambahkan bahwa efek putaran kedua (second‑round effects) dari konflik tersebut masih dalam fase awal dan memerlukan waktu beberapa bulan untuk terungkap secara jelas. “Kita tidak akan memiliki bukti pasti dari dampak putaran kedua untuk sementara waktu, bisa memakan waktu beberapa bulan,” katanya. Hal ini menandakan bahwa kebijakan BoE harus mempertimbangkan tidak hanya dampak langsung, melainkan juga efek berantai yang dapat memicu tekanan harga lebih lanjut.
Berikut beberapa poin penting yang diangkat dalam pernyataan Greene:
- Aktivitas ekonomi Inggris sudah lemah sebelum perang Iran.
- Konflik tersebut menambah tekanan inflasi melalui kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasokan.
- Kejutan pasokan negatif belum sepenuhnya hilang, menambah ketidakpastian.
- Bagian inflasi dari perang menjadi faktor penting bagi keputusan kebijakan moneter.
- Efek putaran kedua akan memerlukan waktu berbulan‑bulan untuk teridentifikasi secara pasti.
Dalam konteks kebijakan moneter, BoE terus menyeimbangkan antara tujuan utama yaitu stabilitas harga dengan kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang sedang melambat. Bank of England menggunakan suku bunga acuan sebagai alat utama untuk mengendalikan inflasi. Ketika inflasi berada di atas target 2 %, BoE cenderung menaikkan suku bunga untuk menurunkan permintaan kredit, yang pada gilirannya dapat menurunkan tekanan harga.
Namun, peningkatan suku bunga juga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi, terutama bila perekonomian sudah berada dalam kondisi lemah. “Kita tidak bisa hanya mengabaikan kejutan pasokan negatif, pandangan harus lebih bernuansa,” kata Greene, menegaskan pentingnya pendekatan yang hati-hati dalam menetapkan kebijakan.
Selain suku bunga, BoE memiliki dua kebijakan tambahan yang dapat memengaruhi nilai Pound Sterling dan dinamika inflasi: Quantitative Easing (QE) dan Quantitative Tightening (QT). QE melibatkan pencetakan uang untuk membeli aset‑aset seperti obligasi pemerintah, dengan tujuan meningkatkan likuiditas pasar. Kebijakan ini cenderung melemahkan pound. Sebaliknya, QT menghentikan pembelian obligasi dan mengurangi eksposur BoE pada aset‑aset tersebut, yang biasanya memberikan dukungan pada nilai mata uang.
Dengan adanya tekanan inflasi yang bersumber dari konflik geopolitik, keputusan BoE ke depan akan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana efek putaran kedua tersebut terwujud. Jika harga energi dan komoditas tetap tinggi, serta gangguan rantai pasokan berlanjut, BoE mungkin harus mempertahankan atau bahkan meningkatkan suku bunga lebih lama dari yang diperkirakan. Sebaliknya, jika pasokan mulai stabil dan inflasi menunjukkan tanda penurunan, BoE dapat mempertimbangkan pelonggaran kebijakan, termasuk potensi pengurangan suku bunga atau penyesuaian pada program QE.
Para analis pasar menilai bahwa volatilitas pound akan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan, terutama mengingat ketidakpastian geopolitik dan dampak supply shock yang belum teratasi. Investor diharapkan memantau data inflasi inti, laporan tenaga kerja, serta perkembangan situasi di Timur Tengah untuk menilai arah kebijakan BoE selanjutnya.
Secara keseluruhan, pernyataan Megan Greene menyoroti betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi BoE dalam mengendalikan inflasi di tengah tekanan eksternal. Kebijakan yang diambil harus mencerminkan keseimbangan antara menahan inflasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi, sambil tetap waspada terhadap potensi efek berantai yang dapat mempengaruhi perekonomian Inggris dalam jangka menengah.
