IPD – 03 April 2026 | Timnas Maroko mencatat kemenangan penting dalam laga persahabatan melawan Paraguay dengan skor 2-1 pada 1 April 2026. Pertandingan yang berlangsung di Stade Bollaert, Lens, Prancis, tidak hanya menjadi ajang uji taktik pelatih Mohamed Ouahbi, tetapi juga memicu euforia massa di antara diaspora Maroko yang menjadikan kota kecil tersebut seolah‑seolah menjadi ibukota Afrika sementara.
Suasana di Stadion Bollaert berubah drastis ketika para suporter Maroko menghiasi tribun dengan bendera merah‑hijau, kembang api, dan bahkan kostum warna timnas. Menurut laporan lokal, ribuan pendukung yang datang dari Rotterdam, Brussels, bahkan Madrid, menempuh perjalanan jauh demi menyaksikan tim kebanggaan mereka. Suasana riuh terdengar hingga sepuluh menit menjelang akhir pertandingan, ketika tribun bersorak menyanyikan lagu “African champions”.
Gol pembuka dicetak oleh striker Maroko pada menit ke-23 setelah serangan balik cepat, namun Paraguay berhasil menyamakan kedudukan lewat tendangan bebas pada menit ke-38. Gol penentu datang pada menit ke-82, ketika Samir El Mourabet, pemain tengah asal Strasbourg yang baru debut di skuad senior pada jeda internasional Maret 2026, melancarkan tembakan jarak jauh yang tak terhalang kiper lawan.
Penampilan El Mourabet menjadi sorotan utama karena sebelumnya ia mencatat debut singkat melawan Ekuador (1-1) pada 27 Maret 2026, kemudian menjadi starter melawan Paraguay. Gessime Yassine, winger berusia 20 tahun yang juga lahir di Prancis, turut memberi kontribusi dengan satu assist dan menghabiskan 64 menit pertama pada pertandingan tersebut. Kedua pemain, yang memiliki latar belakang diaspora, menegaskan identitas ganda mereka dengan bangga mengenakan seragam Atlas Lions.
Selain aksi di lapangan, perbincangan seputar kebanggaan nasional Maroko semakin menguat setelah Achraf Hakimi mengungkap alasan memilih mengenakan jersey Maroko ketimbang Spanyol dalam sebuah podcast pada 3 April 2026. Hakimi menuturkan bahwa percobaan singkat berlatih bersama tim Spanyol tidak memberi rasa nyaman, sehingga ia memutuskan tetap setia pada akar budaya dan keluarga. Cerita tersebut mendapat sambutan hangat dari para suporter yang menilai keputusan Hakimi sebagai simbol integritas bangsa.
Sementara itu, rekan satu timnya, bintang dunia Kylian Mbappé, dalam sebuah wawancara ringan menyebutkan pengalaman pertamanya berinteraksi dengan Hakimi di Paris Saint‑Germain. Mbappé mengaku terkesan dengan kepribadian Hakimi yang “berbeda” dan mengakui bahwa bahasa menjadi kendala awal, namun keduanya segera menjalin persahabatan yang mempererat hubungan antara pemain Maroko dan bintang internasional.
Pelatih Mohamed Ouahbi menilai kemenangan ini sebagai modal mental menjelang Piala Dunia 2026. Ia menekankan pentingnya dukungan massa serta kesiapan taktis tim, mengingat lawan selanjutnya adalah Paraguay yang kini menunjukkan perbaikan signifikan dalam pertahanan. “Kami harus tetap ambisius dan tidak mengecewakan harapan rakyat,” ujar Ouahbi.
Berita lain yang mengiringi pertandingan ini adalah kabar cedera Sanabria dari klub Cremonese, yang dilaporkan mengalami cedera otot panggul pada menit-menit akhir laga. Meski demikian, tim Cremonese tetap optimis berkat kembalinya Baschirotto dan kehadiran Vardy serta Bonazzoli di lini depan.
Secara keseluruhan, kemenangan 2-1 melawan Paraguay tidak hanya menambah poin moral bagi Maroko, tetapi juga menegaskan posisi mereka sebagai kontender kuat di Afrika. Dengan dukungan fanatik di luar benua, penampilan gemilang pemain muda seperti El Mourabet dan Yassine, serta keputusan berani Hakimi untuk tetap bersatu dengan timnas, Maroko tampak siap menantang tantangan selanjutnya di panggung dunia.
