Kurniawan Dwi Yulianto Tekan Beban Era Nova Arianto, Target Juara Piala AFF U‑17 2026

IPD – 12 April 2026 | Pelatih Timnas Indonesia U-17, Kurniawan Dwi Yulianto, menegaskan bahwa skuad Garuda Muda tidak akan terbebani oleh jejak prestasi era Nova Arianto. Dalam konferensi pers pra‑turnamen di Surabaya, ia menekankan pentingnya menumbuhkan mentalitas juara sejak babak grup, sekaligus mengalihkan ekspektasi publik menjadi motivasi positif bagi para pemain muda.

Kurniawan, mantan striker Timnas senior yang pernah mengemban tongkat kepelatihan Timnas U-20, mengungkapkan keinginannya yang pribadi untuk membawa pulang gelar Piala AFF U-17 2026. “Secara pribadi ingin memberikan gelar untuk Indonesia, karena saat masih menjadi pemain saya belum bisa memberikan apa‑apa,” ujarnya dengan tegas. Pernyataan ini menjadi landasan filosofinya: pencapaian masa lalu, termasuk keberhasilan Nova Arianto, tidak menjadi beban, melainkan pelajaran yang harus diintegrasikan dalam proses pembinaan.

Turnamen ini digelar di Jawa Timur, tepatnya di Stadion Gelora Delta Sidoarjo dan Stadion Gelora Joko Samudro Gresik, pada tanggal 11‑23 April 2026. Timnas Indonesia masuk ke Grup A bersama Vietnam, Malaysia, dan Timor Leste. Jadwal pertandingan pertama akan dimulai pada Senin, 13 April 2026, pukul 19.30 WIB, melawan Timor Leste di Stadion Gelora Joko Samudro Gresik. Laga kedua dijadwalkan melawan Malaysia pada 16 April, dan laga ketiga melawan Vietnam pada 19 April.

  • 13 April 2026 – Timor Leste (Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik)
  • 16 April 2026 – Malaysia (Stadion Gelora Delta, Sidoarjo)
  • 19 April 2026 – Vietnam (Stadion Gelora Delta, Sidoarjo)

Kurniawan menegaskan bahwa setiap pertandingan harus diperlakukan seperti final. “Mentalitas juara itu paling penting, saya ingin setiap pertandingan dianggap final,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa tekanan bermain di kandang sendiri, dengan dukungan massa yang besar, harus diubah menjadi energi positif.

Mayoritas pemain Garuda Muda masih berada pada tahap awal karier, kebanyakan berasal dari program Elite Pro Academy (EPA). Beberapa di antaranya sudah mendapatkan kesempatan berlatih bersama tim senior, meski belum pernah tampil di level senior. Kurniawan memandang pengalaman ini sebagai aset penting dalam menyiapkan mental pemain menghadapi tekanan internasional.

Untuk mengelola beban psikologis, Kurniawan melibatkan tim pendukung yang lengkap, termasuk psikolog olahraga dan staf kebugaran. “Kami memiliki team behind the team yang kuat, baik pelatih maupun psikolog. Kami rutin berdiskusi dan mendampingi para pemain mengingat mereka masih dalam fase perkembangan emosional,” ujar pelatih berusia 49 tahun itu.

Pendekatan Kurniawan bersifat humanis. Ia menghindari tekanan berlebihan dan lebih memilih menciptakan suasana tim yang rileks namun fokus. “Kami mengalihkan beban menjadi motivasi positif agar pemain bisa tampil maksimal dan berorientasi pada kemenangan,” katanya. Ia menekankan pentingnya mendengarkan keluhan pemain, tanpa langsung menolak alasan, sehingga tercipta rasa saling menghormati dalam tim.

Strategi taktik tim juga telah dipersiapkan matang. Analisis lawan dilakukan secara detail, mengingat Grup A dianggap sebagai “grup neraka” karena keseimbangan kekuatan di antara tim‑tim peserta. Kurniawan menegaskan bahwa konsistensi menjadi kunci, mengingat hanya tiga juara grup dan satu runner‑up terbaik yang berhak melaju ke semifinal.

Selain persiapan teknis, Kurniawan menekankan pentingnya komitmen pemain terhadap proses pembinaan. “Di usia ini, ada hal‑hal yang harus dikorbankan, termasuk sebagian masa remaja mereka. Tujuannya agar mereka memiliki kesadaran penuh bahwa setiap perjuangan tidak boleh sia‑sia,” ujarnya.

Dengan mentalitas yang dibangun secara menyeluruh, dukungan tim pendukung, serta tekad pribadi untuk menambah sejarah Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto berharap Timnas U‑17 dapat menorehkan prestasi yang tidak hanya mengukir gelar, tetapi juga menegaskan bahwa era Nova Arianto tidak menjadi beban melainkan pijakan menuju kejayaan baru.

Leave a Comment