IPD – 19 April 2026 | Komando Operasi (Koops) TNI Habema mengeluarkan klarifikasi resmi pada Sabtu, 18 April 2026, terkait dua peristiwa tembak-menembak yang terjadi di Kabupaten Puncak, Papua Tengah pada Selasa, 14 April 2026. Kepala Penerangan Koops, Letkol Infanteri Wirya Arthadiguna menegaskan bahwa insiden di Kampung Kembru dan Kampung Jigiunggi merupakan peristiwa yang berbeda, tidak saling terkait, serta tidak melibatkan prajurit TNI secara bersamaan.
Insiden pertama terjadi di Kampung Kembru setelah menerima laporan warga tentang keberadaan kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah tersebut. Tim patroli TNI segera melakukan pengecekan, namun saat mendekati lokasi, mereka diserang tembakan dari kelompok OPM. Kontak tembak berlanjut hingga TNI berhasil menundukkan empat anggota OPM yang terlibat. Selama operasi, prajurit berhasil mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain satu pucuk senapan angin, amunisi kaliber 5,56 milimeter dan 7,62 milimeter, satu selongsong peluru, busur dan anak panah, serta senjata tajam seperti parang, kapak, pedang, dan pisau. Selain itu, ditemukan perangkat komunikasi berupa telepon genggam dan handy‑talky, bendera OPM, serta dokumen identitas pribadi yang menegaskan keberadaan kelompok bersenjata di area tersebut.
Berita kedua muncul dari Kampung Jigiunggi, sekitar tujuh kilometer dari Kembru. Kepala kampung, Venius Walia, melaporkan bahwa seorang anak berusia sekitar sepuluh tahun meninggal akibat luka tembak. Tim TNI segera menuruni lokasi untuk memastikan keberadaan korban. Hingga saat pernyataan ini diberikan, pihak TNI masih melakukan pendalaman dan penyelidikan untuk mengidentifikasi penyebab pasti kematian anak tersebut. Wirya menegaskan bahwa tidak ada aktivitas atau kehadiran prajurit TNI di Kampung Jigiunggi pada saat kejadian, sehingga tidak ada keterlibatan langsung dari aparat militer dalam insiden penembakan tersebut.
Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Kolonel Laut (P) Agung Saptoadi, Kabid Puspen TNI, yang menambahkan bahwa dua peristiwa tersebut terjadi pada waktu yang hampir bersamaan tetapi di lokasi yang berbeda, sehingga tidak dapat disimpulkan sebagai satu rangkaian aksi. Ia menekankan bahwa operasi di Kembru difokuskan pada penertiban keberadaan KKB/OPM, sedangkan laporan Jigiunggi bersifat insidental dan masih berada dalam proses investigasi forensik.
Berbagai media melaporkan bahwa temuan barang bukti di Kembru, termasuk senjata rakitan dan perlengkapan komunikasi, memperkuat dugaan keberadaan OPM di wilayah tersebut. Namun, pihak TNI menolak spekulasi bahwa penembakan yang menewaskan anak di Jigiunggi merupakan konsekuensi langsung dari operasi militer di Kembru. Sebagai langkah lanjutan, Koops TNI Habema akan terus memantau situasi, mengkoordinasikan dengan aparat keamanan daerah, serta mempercepat proses penyelidikan agar kebenaran dapat terungkap secara transparan.
Komunitas lokal dan organisasi kemanusiaan menuntut penjelasan yang lebih rinci mengenai penyebab luka tembak pada anak tersebut. Sementara itu, pemerintah Provinsi Papua Tengah berjanji akan memberikan dukungan medis dan psikologis kepada keluarga korban serta menyiapkan bantuan sosial bagi warga yang terdampak.
Kesimpulannya, Koops TNI Habema menegaskan bahwa peristiwa penembakan di Kembru dan Jigiunggi adalah dua kejadian terpisah, dengan konteks dan pelaku yang berbeda. Penegakan hukum dan penyelidikan forensik terus berjalan untuk memastikan keadilan bagi semua pihak yang terlibat.
