IPD – 14 April 2026 | Seorang selebgram asal Surabaya, Steven Wongso, kembali menjadi sorotan publik setelah serangkaian unggahan yang menuai protes luas di platform Instagram. Pada 12 April 2026, Wong Wongso mempublikasikan video yang menyinggung orang gemuk dengan menyebut mereka “ndut” dan menilai kebiasaan makan manis serta rebahan sebagai kontribusi pada perekonomian negara. Pernyataan tersebut menimbulkan reaksi keras dari netizen, artis, hingga tokoh kesehatan.
Dalam video yang kemudian dihapus, Wongso menegaskan bahwa orang gemuk berdampak besar pada UMKM, mengaitkan konsumsi martabak manis dan kopi susu dengan dukungan terhadap petani gula dan kopi. Ia menambah, “Itu namanya self love, tetap semangat ya ndut.” Namun, komentar selanjutnya mengandung istilah vulgar yang membandingkan orang gemak dengan hewan, menyebut mereka tidak memiliki otak. Reaksi muncul dari aktor Rayn Wijaya yang menyindir dengan komentar “Sok asik j*ng”, serta influencer Billy Davidson yang menilai pernyataan tersebut sekadar upaya mencari uang.
Kontroversi ini tidak berhenti pada hinaan verbal. Pada awal April 2026, Wongso juga mengkritik penjual martabak manis, menyatakan kandungan gula berbahaya dan menuduh mereka memiliki “banyak dosa” layaknya penjual narkoba. Kritik tersebut memicu balasan dari dr. Adam Prabata, seorang dokter dan edukator kesehatan, yang menyinggung penggunaan steroid yang pernah diakui Wongso dalam sebuah video sebelumnya. Pertukaran argumen tersebut memperluas lingkup perdebatan, melibatkan isu kesehatan, etika, dan kebebasan berpendapat di dunia digital.
Di balik gelombang hujatan, terdapat fakta lain yang jarang dibahas: Steven Wongso resmi menjadi mualaf pada 23 Maret 2025. Proses konversinya dibimbing oleh Ustaz Felix Siauw, yang memfasilitasi pelaksanaan syahadat. Sejak itu, Wongso menahan diri untuk mengumumkan keputusan tersebut kepada orang tua demi menghindari kesalahpahaman. Pada bulan Ramadan 2025, ia kembali muncul di publik dengan mengaku telah masuk Islam, meski menyatakan belum siap memberitahu keluarga secara terbuka.
Perubahan spiritual ini juga memengaruhi hubungan pribadinya. Pada September 2024, ia sempat menjadi sorotan media setelah memberikan tas bermerek sebagai hadiah ulang tahun kepada Arafah Rianti, seorang aktris. Hubungan keduanya kemudian berakhir, dan dalam beberapa wawancara, Wongso mengakui bahwa perpisahan tersebut bukan karena konversinya, melainkan alasan pribadi. Ia bahkan menyatakan keinginan untuk kembali bersama Arafah, namun menegaskan bahwa keputusan menjadi mualaf bukan dipicu oleh faktor asmara.
Berbagai platform berita, termasuk Okezone.com dan Suara.com, melaporkan rangkaian peristiwa ini dengan fokus pada aspek kontroversial dan spiritual. Sementara sebagian netizen mengkritik gaya bahasa vulgar dan sikap merendahkan, bagian lain menyoroti hak kebebasan berpendapat serta pentingnya edukasi kesehatan dalam menyikapi isu makanan tinggi gula.
Para pakar media sosial menilai bahwa kasus Steven Wongso menjadi contoh klasik dampak viralitas di era digital. Penyebaran video dalam hitungan jam dapat memperbesar efek negatif, terutama bila mengandung ujaran kebencian. Mereka menekankan pentingnya moderasi konten, edukasi literasi digital, dan tanggung jawab kreator dalam menyampaikan pesan publik.
Secara keseluruhan, saga Steven Wongso mencerminkan dinamika kompleks antara kebebasan berekspresi, sensitivitas sosial, dan perjalanan pribadi yang bersifat spiritual. Pengguna media sosial diharapkan dapat menilai informasi secara kritis, sementara platform digital perlu memperkuat mekanisme pengawasan untuk mencegah penyebaran ujaran yang dapat merugikan kelompok tertentu. Dengan demikian, perdebatan yang kini melibatkan unsur kesehatan, etika, dan agama dapat berujung pada dialog konstruktif yang memperkaya wawasan publik.
