IPD – 05 April 2026 | Tim nasional Italia mengalami kegagalan dramatis pada laga play‑off putaran akhir kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Bosnia dan Herzegovina. Kekalahan lewat adu penalti (1‑1, 4‑1) menandai ketiga kegagalan berturut‑turut Italia tidak lolos ke turnamen terbesar sepak bola, setelah absen pada 2018 dan 2022. Di balik hasil itu, terungkap permintaan bonus yang dianggap tidak pantas oleh sejumlah pemain Azzurri menjelang pertandingan penting.
Menurut laporan yang muncul di media Italia, sebelum pertandingan melawan Bosnia, pemain Italia mengajukan permintaan bonus sebesar €300.000 yang akan dibagikan secara merata kepada 28 anggota skuad, yakni sekitar €10.000 per orang. Permintaan itu dianggap “menyerang” semangat kompetisi karena bonus seharusnya baru dibicarakan setelah kualifikasi berhasil, bukan sebelum laga krusial. Gennaro Gattuso, pelatih pada saat itu, berhasil menahan negosiasi dengan menegaskan bahwa fokus harus pada lapangan, bukan pada uang.
Insiden ini memicu kegelisahan di dalam tim. Beberapa pemain merasa hak mereka atas upah tambahan wajar, mengingat besarnya tekanan dan ekspektasi yang dihadapi Azzurri. Namun, Gattuso menegaskan bahwa menunda pembahasan keuangan hingga setelah kualifikasi akan menjaga konsentrasi dan menghindari gangguan mental yang dapat mempengaruhi performa tim.
Hasil akhir pertandingan menambah rasa pahit. Setelah regulasi berakhir dengan skor 1‑1, Italia harus menahan tendangan penalti, namun Bosnia unggul 4‑1. Kekalahan ini mengirim Italia pulang tanpa tiket ke Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan bersama Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Kegagalan ini menimbulkan krisis kepemimpinan di dalam Federasi Sepakbola Italia (FIGC), dengan presiden Gabriele Gravina mengumumkan pengunduran diri, diikuti oleh manajer umum Gianluigi Buffon, dan bahkan Gattuso sendiri.
Berita selanjutnya menyebutkan bahwa Italia masih berpeluang masuk sebagai tim berperingkat tertinggi yang belum lolos, mengingat situasi geopolitik di Timur Tengah yang dapat mempengaruhi partisipasi Iran. Namun, peluang tersebut tampak tipis, mengingat prosedur resmi FIFA yang ketat.
Berikut rangkuman utama peristiwa yang terjadi:
- Permintaan bonus €300.000 muncul sebelum play‑off melawan Bosnia.
- Gattuso menolak pembicaraan bonus sebelum pertandingan, menekankan fokus pada kualifikasi.
- Italia kalah lewat adu penalti 4‑1 setelah hasil akhir 1‑1.
- Gagal lolos Piala Dunia 2026, menambah deretan kegagalan sejak 2018.
- Pengunduran diri massal di FIGC: Gravina, Buffon, dan Gattuso.
- Italia dijadwalkan memilih presiden baru pada 22 Juni dan memulai fase rekonstruksi.
Kegagalan ini memicu perdebatan luas mengenai struktur internal sepak bola Italia. Pengamat menilai bahwa ketidakmampuan federasi untuk mengelola aspek keuangan pemain, serta kurangnya transparansi dalam kebijakan bonus, menciptakan ketegangan yang mengganggu persiapan tim. Selain itu, infrastruktur untuk Euro 2032 yang akan digelar bersama Turki juga berada di bawah sorotan, dengan UEFA menuntut penyelesaian fasilitas tepat waktu agar turnamen dapat berlangsung di Italia.
Dalam konteks internasional, kegagalan Italia menyoroti pentingnya manajemen tim yang seimbang antara kebutuhan finansial pemain dan fokus kompetitif. Kasus bonus ini menjadi pelajaran bagi federasi lain untuk meninjau kebijakan insentif agar tidak mengganggu performa pada momen krusial.
Meski kekecewaan melanda suporter Italia di seluruh dunia, harapan tetap ada bahwa reformasi struktural dan kepemimpinan baru akan mengembalikan kejayaan Azzurri. Dengan pemilihan presiden FIGC yang akan datang, serta persiapan untuk menjadi co‑host Euro 2032, Italia berada pada titik penting untuk merombak strategi dan mengembalikan kepercayaan publik.
Berita ini menutup bab kegagalan kualifikasi dan membuka lembaran baru bagi sepak bola Italia yang kini harus bangkit kembali dari krisis internal serta menata kembali prioritas antara aspek finansial dan prestasi di lapangan.
