Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RS Hasan Sadikin Bandung Pecah Somasi, Hukum, dan Klaim Penyelesaian Kekeluargaan

IPD – 17 April 2026 | Seorang ibu muda bernama Nina Saleha (27) mengalami pengalaman mengkhawatirkan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung ketika bayinya hampir tertukar dengan bayi lain pada 8 April 2026. Insiden tersebut memicu aksi hukum, somasi, serta pernyataan resmi dari pihak rumah sakit yang menegaskan bahwa masalah telah diselesaikan secara kekeluargaan.

Nina mengklaim bahwa setelah tiga hari perawatan di Neonatal High Care Unit (NHCU), bayinya siap dipulangkan. Pada hari tersebut, dua bayi dijadwalkan keluar bersamaan. Karena prosedur identifikasi yang kurang ketat, perawat secara keliru menyerahkan bayi Nina kepada ibu pasien lain. Ketika menyadari kesalahan, petugas RSHS segera mengambil kembali bayi tersebut dan menyerahkannya kepada Nina.

Insiden ini terekam oleh kamera CCTV rumah sakit. Nina menuntut agar rekaman tersebut dibuka untuk mengungkap fakta sesungguhnya. Ia kemudian menunjuk kuasa hukum, pengacara Krisna Murti, untuk menelusuri peristiwa dan menyiapkan somasi resmi terhadap RSHS. Krisna menyatakan, “Kami melihat hal ini sangat janggal dan harus ditelusuri secara menyeluruh, terutama bila terdapat unsur pidana.”

Krisna Murti dan timnya menghubungi pihak direksi rumah sakit, namun pertemuan tidak menghasilkan jawaban memuaskan. Mereka mengirim surat resmi meminta klarifikasi dan data identitas orang yang sempat memegang bayi Nina. Pihak rumah sakit menanggapi dengan menyatakan bahwa tidak ada kesepakatan perdamaian dan bila ditemukan unsur pidana, akan dilanjutkan ke jalur hukum.

Di sisi lain, Direktur Utama RSHS, dr. Rachim Dinata Marsidi, SpB, memberikan pernyataan publik pada 16 April 2026. Ia menegaskan bahwa kasus tersebut telah selesai melalui pendekatan kekeluargaan. Menurutnya, perawat yang terlibat telah meminta maaf, dan tim rumah sakit telah melakukan klarifikasi serta koordinasi dengan Nina pada 9 April 2026. Dr. Rachim menambahkan, “Tidak ada hal lain yang disampaikan oleh Ny. Saleha pada pertemuan tersebut, sehingga kami menyimpulkan masalah ini telah selesai secara kekeluargaan.”

Namun, Nina tetap menegaskan bahwa ia belum menerima kepastian resmi mengenai prosedur internal rumah sakit dan menganggap somasi sebagai langkah penting untuk memastikan tidak terulangnya kejadian serupa. Ia juga menuntut peninjauan kembali SOP (Standard Operating Procedure) pada unit NICU agar identifikasi bayi menjadi lebih ketat, termasuk penggunaan gelang identitas elektronik.

Berbagai media sosial, terutama TikTok, menjadi arena utama penyebaran video dan keluhan Nina. Video tersebut menampilkan keluhan langsung Nina mengenai pelayanan rumah sakit, yang kemudian memicu perbincangan publik tentang keamanan layanan neonatal di Indonesia. Reaksi netizen beragam, ada yang mendukung Nina, sementara yang lain mempercayai penjelasan resmi rumah sakit.

Pihak berwenang kesehatan Jawa Barat, melalui Dinas Kesehatan, belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden ini. Namun, mereka berjanji akan melakukan audit internal terhadap prosedur keamanan di RSHS sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu layanan kesehatan.

Kasus ini menyoroti pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan prosedur identifikasi yang kuat di unit perawatan intensif neonatus. Sementara rumah sakit mengklaim penyelesaian kekeluargaan, proses hukum yang digulirkan oleh kuasa hukum Nina dapat menjadi preseden bagi institusi medis lain dalam menangani keluhan serupa.

Dengan perhatian publik yang terus meningkat, diharapkan RSHS dan fasilitas kesehatan lain di Indonesia akan memperkuat protokol keamanan bayi, mengadopsi teknologi identifikasi modern, serta meningkatkan pelatihan staf untuk mencegah terulangnya insiden nyaris tertukarnya bayi.

Leave a Comment