IPD – 15 Mei 2026 | Di dalam khasanah musik klasik, di antara Konserto yang digemari adalah Konserto Celo dalam E minor Opus 85. Konserto ini digubah komposer Inggris Edward Elgar (1857-1934) pada tahun 1919 dan dipergelar pertama kali di Queen’s Hall, London. Karya ini dipersembahkan oleh Elgar pada pemain kenamaan Felix Salmond.
Karya sepanjang setengah jam ini lengkapnya dimainkan dengan 2 suling, 2 obo, 2 klarinet, 2 basun, 4 horn, 2 trompet, 3 trombon, tuba, timpani, dan instrumen gesek, selain sebuah celo.
Di kanal YouTube kita bisa menyaksikan permainan celis Jacqueline du Pre dan dirigen Daniel Berenboim dengan formasi orkestra lengkap. Namun pada Minggu, 10 Mei 2026, di Balai Resita Kertanegara, Jakarta, celis remaja Chloe Lukito (13 tahun) tampil hanya dengan diiringi pianis Daniel Adipradhana, sebagaimana pernah dimainkan oleh Derek Louie.
Chloe yang sudah mulai belajar memainkan celo sejak usia 5 tahun, dapat memainkan karya ini dengan baik secara teknis. Namun terasa juga, karya ini masih membutuhkan kedewasaan lain – dan mungkin instrumen pendukung lain – untuk membuatnya hadir lebih hidup dan menggigit.
Masih ada kesempatan berikut bagi Chloe untuk memainkan karya indah dengan empat bagian/gerakan ini – Adagio-moderato, Lento-Allegro molto, Adagio, dan Allegro-Moderato-Allegro, ma nontroppo.
Chloe yang selama delapan tahun terakhir menggembleng dirinya untuk menjadi pemusik klasik serius dengan celo yang menjadi instrumen pilihannya, petang itu bersama Daniel menjawab tantangan berikut dengan mengangkat Sonata untuk Celo No 5 dalam D Mayor, Opus 102 No 2 ciptaan Ludwig van Beethoven (1770-1827).
Jika Konserto Elgar yang dicipta selepas dunia dari Perang Dunia I, Sonata Beethoven yang dicipta pada periode akhir hidupnya memancarkan percaya diri. Dalam Resital yang diberi tajuk “A Symphony for Her”, dan digagas oleh penggiat sosial Genera dan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), Chloe juga ikut menyuarakan persoalan ibu sebagai orang tua tunggal, dan permasalahan keluarga tak mampu, dan mengupayakan jalan keluarnya, seperti melalui pemberdayaan.
Bisa dikatakan Resital Chloe merupakan representasi “music for a cause” (musik untuk satu tujuan mulia). Di luar tujuan mulia, petang itu penonton masih mendapat ‘suvenir’ berupa dua lagu lain genre tetapi sama-sama indah dari Chloe, yakni “Song my mother taught me” ciptaan A Dvorak (1841-1904), dan “Oblivion” ciptaan Astor Piazzola (1921-1992).
Yang pertama adalah kenangan masa kecil mendapatkan nyanyian dari ibu, dalam satu lagu dengan melodi lembut dan indah, yang meninggalkan kesan mendalam.
Kesimpulan, dalam beberapa minggu terakhir ini, kita menyaksikan beberapa berita menarik yang terkait dengan kompas. Dari penampilan Chloe Lukito hingga pemberantasan judi online, semua berita tersebut menarik perhatian masyarakat. Oleh karena itu, kita harus tetap waspada dan terus memantau berita-berita terkini untuk memahami apa yang terjadi di sekitar kita.
