IPD – 21 April 2026 | Jakarta, 20 April 2026 – Dalam rangkaian acara “Clash of Legends” yang digelar di Ballroom Fairmont Hotel, pemilik klub sepak bola Dewa United, Jerry Hermawan Lo, kembali menegaskan komitmennya terhadap kesejahteraan atlet Indonesia pasca‑pensiun. Di hadapan legenda‑legenda dunia seperti Ronaldo Nazario, Patrick Kluivert, dan Rivaldo, Jerry mengumumkan rencana pendirian Yayasan Merah Putih Peduli Atlet, sebuah lembaga yang akan menyalurkan bantuan finansial, medis, dan pendidikan kepada para mantan atlet yang mengalami kesulitan ekonomi.
Jerry menekankan bahwa profesi atlet memiliki masa produktif yang sangat singkat. Setelah menorehkan prestasi, banyak atlet terpaksa berhadapan dengan masalah keuangan, terutama ketika biaya pengobatan atau kebutuhan hidup meningkat. Ia mencontohkan beberapa kasus pilu: mantan juara bulu tangkis Verawaty Fajrin yang terpaksa menjual raket kesayangannya untuk menutup biaya pengobatan; dayung Leni Haini yang hampir menjual emas SEA Games demi kebutuhan sehari‑hari; serta mantan kiper Timnas Indonesia, Kurnia Meiga, yang kariernya terhenti karena sakit kronis.
“Atlet Indonesia tak boleh lagi menghabiskan hari tua mereka dalam nestapa,” ujar Jerry di depan para pejabat militer dan olahraga, termasuk Jenderal Maruli Simanjuntak, Letjen Richard Tampubolon, serta Ketua Umum PSSI Erick Thohir. “Saya siap berdiri di barisan paling depan, memberikan kontribusi awal sebesar Rp500 juta, dan menyerukan pengelolaan dana yang transparan serta tepat sasaran. Yayasan ini akan menyalurkan bantuan kepada atlet‑atlet yang terlantar, memastikan mereka mendapatkan perawatan medis, bantuan pendidikan, dan peluang kerja pasca‑karier.”
- Verawaty Fajrin – mantan juara dunia bulu tangkis, menjual raket untuk biaya pengobatan.
- Leni Haini – atlet dayung, hampir menjual emas SEA Games demi kebutuhan.
- Kurnia Meiga – mantan kiper Timnas, terpaksa mengakhiri karier karena masalah kesehatan.
Selain janji dana awal, Jerry menambahkan bahwa yayasan akan bekerjasama dengan institusi kesehatan, universitas, dan perusahaan swasta untuk menciptakan jaringan dukungan yang berkelanjutan. Ia menegaskan pentingnya transparansi pengelolaan dana, serta perlunya audit independen untuk menjaga kepercayaan publik.
Tak hanya fokus pada bidang olahraga, Jerry juga menyoroti inisiatifnya di sektor ketahanan pangan. Melalui JHL Group, ia menggerakkan program beasiswa bagi 1.000 sarjana pertanian serta pembangunan pabrik pengolahan kelapa berskala besar yang menargetkan produksi tiga juta butir kelapa per hari. “Dalam lima tahun ke depan, Indonesia tidak hanya akan swasembada pangan, tetapi juga menjadi eksportir utama di pasar global,” kata Jerry dengan keyakinan.
Acara “Clash of Legends” sendiri sekaligus menjadi ajang persiapan laga eksibisi antara tim legenda dunia di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang dijadwalkan keesokan harinya. Kehadiran Ronaldo, Kluivert, dan Rivaldo menambah sorotan internasional terhadap upaya Jerry, sekaligus memperkuat pesan bahwa dukungan terhadap atlet Indonesia harus menjadi perhatian bersama.
Langkah konkret Jerry dengan menyumbang Rp500 juta menjadi sinyal kuat bagi dunia bisnis dan olahraga di tanah air. Ia mengajak rekan‑rekan pemilik klub, pengusaha, serta institusi pemerintah untuk turut serta dalam pendirian yayasan, baik melalui dana, fasilitas, maupun program pelatihan bagi atlet‑atlet yang kini berada dalam masa transisi.
Dengan latar belakang pengalaman di bidang manajemen dan investasi, Jerry menegaskan bahwa Yayasan Merah Putih Peduli Atlet akan mengadopsi model manajemen berbasis hasil (result‑oriented), di mana setiap bantuan yang diberikan diukur dampaknya terhadap kualitas hidup penerima. Ia berharap, dalam jangka pendek, yayasan dapat menyalurkan bantuan kepada setidaknya 100 mantan atlet, sementara jangka panjang menargetkan ribuan atlet yang membutuhkan.
Kesimpulannya, inisiatif Jerry Hermawan Lo tidak hanya menyoroti permasalahan sosial yang menggelayuti komunitas atlet Indonesia, tetapi juga menawarkan solusi yang terintegrasi, melibatkan sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Jika didukung secara luas, Yayasan Merah Putih Peduli Atlet berpotensi menjadi model bagi negara‑negara lain dalam mengatasi tantangan pensiun atlet.
