IPD – 21 April 2026 | Pound sterling menunjukkan ketahanan yang menarik pada pasangan GBP/USD, tetap diperdagangkan di atas level 1,3500 pada Senin pekan ini. Harga kini berada di kisaran 1,3530 setelah mengalami penurunan ringan dari puncak minggu lalu di sekitar 1,3600. Konsolidasi ini terjadi di tengah spektrum geopolitik yang bergejolak, khususnya terkait gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, serta gelombang data ekonomi penting dari Inggris yang dijadwalkan dalam beberapa hari ke depan.
Sentimen risiko global tetap kuat meskipun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 6 persen, menyentuh 89 dolar AS per barel. Kenaikan komoditas tersebut biasanya menambah tekanan pada dolar AS, namun dalam konteks ini dolar AS justru melemah secara luas, memberikan ruang bagi pound untuk menguat.
- Gencatan Senjata AS-Iran: Dua minggu gencatan senjata yang dijadwalkan akan berakhir pada Rabu malam, dengan Presiden Amerika Serikat menegaskan bahwa perpanjangan sangat tidak mungkin. Penyitaan kapal kargo Iran oleh angkatan laut AS di Teluk Oman menambah ketegangan, memicu ancaman balas dendam dari Garda Revolusi Iran dan pernyataan penutupan Selat Hormuz sampai blokade diangkat.
- Data Ekonomi Inggris: Minggu depan akan dipenuhi dengan rilis penting, termasuk laporan pasar tenaga kerja Inggris, indeks harga konsumen (IHK), Purchasing Managers’ Index (PMI) dari Inggris dan Amerika Serikat, serta Penjualan Ritel di kedua negara. Data tersebut akan menjadi penguji utama bagi GBP.
- Agenda AS: Penjualan Ritel Amerika Serikat dan sidang konfirmasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve akan menambah lapisan kompleksitas pada pergerakan dolar.
Secara teknikal, grafik 15‑menit menampilkan GBP/USD pada 1,3534, sedikit di atas level pembukaan hari ini di 1,3485. Stochastic RSI berada di zona oversold (18,85), mengindikasikan potensi melambatnya momentum penurunan. Support terdekat berada di sekitar 1,3485; penembusan di bawah level ini dapat memicu koreksi lebih dalam.
Pada kerangka harian, pasangan berada di 1,3535, masih di atas Exponential Moving Average (EMA) 50‑hari (1,3421) dan EMA 200‑hari (1,3358), yang menegaskan bias bullish jangka menengah. Namun, Stochastic RSI mencapai 93,74, menandakan kondisi overbought yang tinggi dan meningkatkan kemungkinan pullback korektif dalam struktur naik yang ada.
Analisis fundamental menyoroti dua pilar utama yang memengaruhi pergerakan GBP/USD. Pertama, risiko geopolitik terkait Iran dapat menimbulkan volatilitas signifikan pada pasar mata uang. Meskipun ketegangan meningkat, pasar tampaknya menilai bahwa gencatan senjata masih akan berlanjut hingga batas waktu yang ditetapkan, sehingga tidak ada penurunan tajam pada pound.
Kedua, data ekonomi Inggris akan menjadi katalisator utama. Rilis IHK pada Rabu menjadi titik fokus, karena inflasi di Inggris masih berada di atas target Bank of England, yang dapat menahan kebijakan suku bunga tetap tinggi. Jika IHK menunjukkan tekanan inflasi yang berkelanjutan, Bank of England berpotensi melanjutkan kebijakan ketat, mendukung GBP. Sebaliknya, data tenaga kerja yang lemah atau penurunan PMI dapat menurunkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi, memicu penurunan nilai pound.
Selain data domestik, faktor eksternal seperti kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat juga berperan. Sidang konfirmasi Kevin Warsh di Komite Perbankan Senat dapat memberikan sinyal lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter AS. Jika Fed diperkirakan akan tetap “on track” dalam menurunkan inflasi, dolar AS dapat menguat kembali, menekan GBP/USD.
Dalam konteks pasar komoditas, lonjakan harga minyak mentah menambah tekanan pada dolar AS karena negara-negara pengimpor minyak akan membutuhkan lebih banyak dolar untuk membeli minyak. Namun, peningkatan harga minyak juga dapat memperkuat ekonomi negara-negara produsen minyak, yang secara tidak langsung dapat meningkatkan permintaan atas mata uang safe‑haven seperti dolar. Dampak bersih pada GBP/USD masih bergantung pada persepsi risiko investor.
Secara keseluruhan, GBP/USD berada pada persimpangan antara faktor geopolitik, data ekonomi, dan kebijakan moneter. Dengan support kuat di 1,3485 dan resistance teknikal yang belum terdefinisi secara jelas, pergerakan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh hasil rilis data ekonomi Inggris serta perkembangan situasi Iran. Investor disarankan untuk memantau secara cermat indikator teknikal seperti Stochastic RSI serta level support/resistance utama, sambil tetap waspada terhadap pernyataan resmi dari pemerintah AS dan Iran.
Jika pound berhasil menembus level resistance di atas 1,3600, pasangan dapat melanjutkan rally menuju area psikologis 1,3700. Sebaliknya, penurunan di bawah support 1,3485 dapat membuka peluang bagi dolar untuk kembali menguat, menurunkan GBP/USD ke zona 1,3400 atau lebih rendah.
Kesimpulannya, meskipun volatilitas tetap tinggi, GBP/USD menunjukkan kemampuan bertahan di atas 1,3500 berkat dukungan teknikal dan fundamental yang relatif positif. Pengembangan selanjutnya akan sangat tergantung pada hasil data ekonomi Inggris dan dinamika geopolitik Iran, yang bersama-sama akan menentukan arah pasar dalam minggu ke depan.
