IPD – 20 April 2026 | Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran resmi menutup kembali Selat Hormuz pada Minggu (19/4/2026), menyatakan setiap kapal yang mencoba melintasi jalur strategis tersebut akan dijadikan target. Keputusan ini muncul kurang dari 24 jam setelah selat sempat dibuka kembali, menandai eskalasi baru dalam perseteruan antara Tehran dan Washington.
Pernyataan penutupan disampaikan melalui kantor berita Mahasiswa Iran (ISNA) dan dikutip oleh Al Jazeera. IRGC menegaskan penutupan berlaku sampai Amerika Serikat mencabut blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran, yang mereka anggap melanggar gencatan senjata dalam konflik AS‑Israel‑Iran. “Tidak ada kapal jenis apa pun yang boleh bergerak dari tempat penjangkarannya di Teluk Persia dan Laut Oman,” ujar pernyataan itu.
Ketegangan ini diperkuat oleh komentar Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali Tehran. Ghalibaf menuduh Amerika Serikat melakukan operasi penyapuan ranjau dan memaksa blokade yang “ceroboh dan bodoh”. Ia memperingatkan bahwa setiap upaya kapal AS untuk menembus selat akan dihadapi dengan kekuatan militer Iran.
Sebelumnya, pada 10 hari sebelumnya, gencatan senjata antara Israel dan Lebanon mendorong Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, membuka jalur air sepenuhnya bagi kapal komersial, menyebabkan penurunan harga minyak global. Namun, lebih dari selusin kapal komersial yang melintas tiba‑tiba dihadapkan pada peringatan radio IRGC untuk tidak melanjutkan perjalanan.
Insiden militer yang terjadi melibatkan beberapa pihak internasional:
- United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan dua kapal komersial Iran diserang tembakan cepat oleh kapal cepat IRGC.
- Kementerian Luar Negeri India mengonfirmasi dua kapal berbendera India terlibat dalam insiden penembakan di wilayah selat.
- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa Iran tidak dapat memeras Washington dengan menutup Selat Hormuz dan memperingatkan kemungkinan pengakhiran gencatan senjata jika tidak ada kesepakatan sebelum 22/4.
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menegaskan kesiapan angkatan laut untuk memberikan “kekalahan pahit” kepada musuh‑musuhnya, menambah nuansa retoris yang memperkuat posisi Iran dalam arena geopolitik.
Penutupan kembali Selat Hormuz meningkatkan risiko krisis energi global. Selat tersebut merupakan jalur penyebrangan utama bagi sekitar 20% produksi minyak dunia. Ketidakpastian navigasi dapat memicu lonjakan harga minyak, mengganggu rantai pasokan, serta menambah beban ekonomi bagi negara‑negara importir energi.
Para analis memperkirakan bahwa penutupan ini dapat memaksa kapal dagang mencari rute alternatif yang lebih panjang dan mahal, seperti melintasi Laut Tengah via Terusan Suez atau mengelilingi Afrika Selatan. Biaya tambahan tersebut kemungkinan akan diteruskan ke konsumen akhir, memperburuk inflasi energi di banyak negara.
Situasi ini juga menimbulkan kekhawatiran keamanan maritim bagi negara‑negara di kawasan Teluk Persia. Operasi pengawasan ketat IRGC, termasuk penerbitan sertifikat lintas dan pembayaran biaya keamanan, menandakan upaya Iran untuk mengendalikan lalu lintas laut secara total hingga akhir konflik yang belum berakhir.
Dengan penutupan kembali Selat Hormuz, dinamika hubungan Iran‑AS kembali memanas, dan dunia internasional dihadapkan pada pilihan antara diplomasi intensif atau eskalasi militer lebih lanjut. Bagaimana respons komunitas internasional, khususnya PBB dan negara‑negara pelaut utama, akan menjadi faktor kunci dalam menstabilkan situasi dan mencegah krisis energi yang lebih luas.
