IPD – 30 Maret 2026 | Setelah berbulan‑bulan terhenti di Teluk Persia, kapal tanker milik PT Pertamina kini berada di ambang melintasi Selat Hormuz berkat sinyal positif dari pemerintah Iran. Meskipun diplomasi sudah menunjukkan pintu terbuka, sejumlah kendala teknis masih menjadi penghalang utama agar kedua kapal, Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat berlayar kembali ke Indonesia.
Selat Hormuz tetap menjadi salah satu jalur paling strategis di dunia energi, mengalirkan sekitar dua puluh persen pasokan minyak mentah global. Penutupan atau pembatasan akses dapat mengguncang pasar energi internasional dan menimbulkan tekanan pada negara‑negara importir, termasuk Indonesia.
Iran menegaskan bahwa akses ke selat tidak sepenuhnya ditutup; negara‑negara yang dianggap tidak berseberangan secara politik diberikan izin melintas. Daftar negara yang telah memperoleh persetujuan per 28 Maret 2026 meliputi:
- Indonesia – menunggu kesiapan teknis, khususnya asuransi dan kru.
- Pakistan – kapal Aframax “Karachi” berhasil keluar lewat rute yang ditentukan.
- India – dua kapal LPG berhasil melanjutkan perjalanan setelah koordinasi bilateral.
- China – dua kapal mendapat jaminan keamanan, meski sempat menunda keberangkatan karena alasan operasional.
- Turki – armada tanker Turki memperoleh persetujuan langsung dari otoritas Iran.
- Malaysia – sedang memproses pemulangan armada tanker beserta kru.
- Spanyol – satu‑satunya negara Eropa yang diizinkan karena mematuhi hukum internasional.
Di sisi lain, dua tanker Pertamina masih berada di Teluk Persia. Menurut data AIS yang dipantau pada 29 Maret 2026, Pertamina Pride berlayar dengan bendera Singapura, berusia sejak 2021, dan terakhir tercatat berlabuh di Pelabuhan Ras Tanura, Arab Saudi. Kapal tersebut diperkirakan membutuhkan 10–14 hari untuk mencapai Indonesia, sehingga perkiraan tiba pada 2 April 2026 tidak realistis. Sementara itu, Gamsunoro, yang berusia sejak 2014 dan berlayar dengan bendera Panama, juga masih berlabuh di wilayah yang sama, melewati tenggat waktu kedatangan yang dijadwalkan pada 12 Maret 2026.
Upaya diplomatik Indonesia dipimpin oleh Kementerian Luar Negeri melalui juru bicara Yvonne Mewengkang. Ia mengonfirmasi bahwa Indonesia dan Kedutaan Besar Iran di Jakarta terus berkoordinasi dengan otoritas Iran untuk memastikan keamanan perlintasan. Selain itu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) secara terbuka menawarkan bantuan lobi kepada pihak Iran, sementara tokoh partai Hasto Kristiyanto menyebutnya sebagai “uluran tangan terbaik” untuk mengamankan jalur energi nasional.
Namun, kendala operasional masih mendominasi. Pemerintah Iran menekankan perlunya perlindungan asuransi khusus serta kesiapan kru yang telah dilatih untuk situasi geopolitik yang rawan. Tanpa jaminan tersebut, kapal tidak dapat memperoleh “green light” operasional meskipun secara diplomatik izin sudah diberikan.
Meski demikian, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa cadangan energi nasional tetap terjaga. Stok minyak mentah dalam negeri dipastikan cukup untuk menutupi kebutuhan domestik selama beberapa minggu ke depan, sekaligus memberi ruang bagi otoritas untuk menyelesaikan masalah teknis tanpa menimbulkan krisis pasokan.
Ke depan, observasi terhadap pergerakan AIS dan komunikasi antar lembaga akan menjadi indikator utama apakah kedua kapal tanker Pertamina dapat segera melintasi Selat Hormuz. Jika izin teknis terpenuhi, diharapkan kapal‑kapal tersebut dapat melanjutkan perjalanan ke pelabuhan-pelabuhan Indonesia, mengurangi ketergantungan pada jalur alternatif yang lebih mahal dan menambah kestabilan pasokan energi nasional.
Dengan geopolitik yang terus berfluktuasi, situasi di Selat Hormuz menjadi cermin penting bagi kebijakan energi Indonesia. Keberhasilan mengatasi hambatan teknis sekaligus memanfaatkan dukungan diplomatik dapat menjadi contoh penanganan krisis serupa di masa mendatang.
