IPD – 29 Maret 2026 | Suasana haru sekaligus penuh semangat mewarnai Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada Minggu 29 Maret 2026. Perayaan ulang tahun ke-36 almarhum penyanyi Vidi Aldiano digelar dengan tema “Vidi Tetap Hidup”. Acara yang diinisiasi oleh sang ayah, Harry Kiss, tidak hanya sekadar doa bersama, melainkan sebuah wujud nyata untuk menepati kata-kata Vidi yang pernah menggemparkan pendengar podcast: “Aku cuma ingin hidup”.
Ucapan Vidi dalam sebuah episode podcast beberapa bulan lalu menjadi viral di media sosial. Ia menyampaikan keinginan sederhana untuk terus merasakan kebahagiaan, menikmati musik, dan menginspirasi para penggemarnya. Kata-kata itu menimbulkan gelombang dukungan luas, terutama dari komunitas fans yang dikenal sebagai “Vidies“. Menyadari betapa pentingnya pesan tersebut, Harry Kiss berjanji akan menghidupkan kembali semangat sang putra melalui serangkaian kegiatan di hari kelahirannya.
Persiapan dimulai sejak Sabtu, 28 Maret 2026, ketika Harry tiba di TPU Tanah Kusir mengenakan syal biru—warna identik dengan komunitas Vidies. Ia memastikan makam Vidi tampak rapi, dengan tatanan marmer bersih, rumput terawat, serta rangkaian bunga mawar biru yang menambah kesan lembut. “Besok pagi insyaallah para Vidies, kita sudah bikin suatu acara besok pagi‑pagi ke sini,” ujar Harry saat ditemui petugas makam.
Pada hari H, lebih dari 200 penggemar, sahabat, serta anggota keluarga berkumpul di sekitar pusara. Spanduk berwarna biru menghiasi area, menampilkan tulisan “Vidi Tetap Hidup” dan foto-foto kenangan Vidi bersama para Vidies. Kue ulang tahun berukuran besar dipersiapkan oleh ibunda Vidi, Besbarini, dan dipotong secara simbolis oleh sang ibu setelah doa bersama selesai. “Ini kue untuk yang masih hidup. Kalau Vidi, kita kirim Al‑Fatihah saja ya,” kata Harry sambil menyerahkan potongan kue kepada para hadirin.
Acara tidak hanya berhenti pada pemotongan kue. Harry membagikan beberapa helai pakaian milik Vidi kepada kerabat terdekat sebagai kenang‑kenangan. Ia menjelaskan, “Baju‑baju ini kami bagikan supaya semangat Vidi tetap hidup di hati orang‑orang yang mencintainya.” Pakaian tersebut kemudian diserahkan satu per satu, menambah momen emosional di antara para pengunjung.
Doa bersama dipimpin oleh Ustadz Lutfi, yang telah menemani keluarga Vidi sejak kepergiannya. Doa diiringi dengan bacaan Al‑Fatihah, lalu dilanjutkan dengan pengajian daring yang sempat diikuti lebih dari 900 orang dari seluruh Indonesia bahkan hingga New York. Reta, salah satu anggota Vidies, menjelaskan, “Kami ingin agar kebaikan‑kebaikan Vidi, senyumannya, kasihnya, tetap hidup. Pengajian daring menjadi sarana untuk menghubungkan fans di seluruh dunia.”
Harry juga menambahkan sentuhan humor ringan untuk mencairkan suasana. Ia menyapa para pelayat dengan lelucon tentang kondisi rumput yang dimakan kambing, serta membandingkan acara dengan “pasar malam” karena keramaian yang terjadi. “Hari ini acaranya berdoa, tapi ya seperti ada pasar malam, saking ramainya,” kelakar Harry, mengundang tawa di antara kehadiran yang penuh duka.
Berbagai elemen acara—bunga biru, spanduk, kue, dan pakaian kenangan—semuanya dirancang untuk menegaskan pesan Vidi yang sederhana: ingin tetap hidup melalui karya dan ingatan orang‑orang terdekat. Harry menutup acara dengan harapan agar semua yang hadir mendapatkan berkah dan tetap menghidupkan nilai‑nilai yang ditinggalkan Vidi. “Semoga kebaikan‑kebaikannya terus mengalir, dan kami bisa menyalurkan semangatnya kepada generasi selanjutnya,” ujarnya.
Perayaan ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada Vidi Aldiano, melainkan juga contoh bagaimana sebuah komunitas dapat bersatu mengatasi duka, sekaligus merayakan kehidupan lewat kenangan yang hidup. Dengan menepati kata‑kata Vidi di podcast, Harry Kiss berhasil mengubah pesan tersebut menjadi aksi nyata yang menginspirasi ribuan hati.
