IPD – 09 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026 – Pembalap muda Leopard Racing, Guido Pini, mengaku merasa hancur setelah kembali dikalahkan oleh Veda Ega Pratama dalam dua balapan beruntun di kelas Moto3. Kegagalan itu datang tepat setelah Pini meraih kemenangan pertama di Grand Prix Amerika, yang sempat mengangkat namanya sebagai kandidat kuat untuk mengisi posisi teratas klasemen musim ini.
Veda, yang kembali menorehkan performa impresif di Austin, Texas, menumpaskan Pini dalam balapan keempat Seri Moto3 dengan kecepatan lap yang konsisten dan strategi pit‑stop yang tepat. Pada GP Amerika, Veda menempati posisi ketujuh, namun menutup balapan dengan satu high‑side crash yang membuatnya tidak menyelesaikan putaran terakhir. Meskipun begitu, ia tetap mencatat lap tercepat sebelum kecelakaan, menandakan potensi yang belum tergali sepenuhnya.
Setelah kemenangan di Amerika, Guido Pini tampak optimis. Ia berhasil mengalahkan empat pembalap lain — Alvaro Carpe, Valentin Perrone, Adrian Fernandez, serta Veda — dan menutup balapan di posisi teratas. Namun, semangatnya langsung diuji ketika Veda kembali menampakkan dominasi di sirkuit berikutnya, memaksa Pini untuk menempati posisi kedua dengan jarak tipis.
Dalam sebuah wawancara eksklusif di belakang panggung, Pini mengungkapkan perasaan frustrasinya. “Saya merasa hancur, terutama karena saya tahu saya mampu memberikan yang lebih baik. Veda menaklukkan saya dua kali berturut‑turut, dan itu menimbulkan pertanyaan besar tentang konsistensi saya,” ungkap Pini dengan nada melankolis. Ia menambahkan bahwa tekanan dari media dan ekspektasi tim semakin memperberat beban mentalnya.
Pini juga menyinggung nasihat yang pernah diberikan oleh mantan manajer Marc Marquez, seorang tokoh berpengaruh dalam dunia MotoGP. “Saya pernah mendengar pesan dari mantan manajer Marc Marquez, dia bilang: ‘Jangan biarkan satu kegagalan menentukan kariermu, gunakan itu sebagai bahan bakar untuk kembali lebih kuat.’ Saya mencoba mengingat kata‑kata itu, namun dalam momen itu saya masih belum bisa mengubahnya menjadi aksi,” kata Pini.
Pesan tersebut mengingatkan kembali pada filosofi Marquez tentang ketangguhan mental, yang telah membantu sang juara dunia mengatasi berbagai rintangan sepanjang kariernya. Meskipun tidak ada konfirmasi langsung dari pihak manajer, Pini tampak mengadopsi semangat tersebut sebagai motivasi untuk memperbaiki performa di sirkuit selanjutnya.
Berikut rangkuman hasil akhir lima balapan terakhir Moto3 yang menyoroti persaingan antara Pini dan Veda:
- GP Amerika (Austin): 1. Guido Pini, 2. Veda Ega Pratama (DNF), 3. Adrian Fernandez, 4. Alvaro Carpe, 5. Valentin Perrone
- GP Brasil: 1. Veda Ega Pratama, 2. Guido Pini, 3. Alvaro Carpe, 4. Adrian Fernandez, 5. Valentin Perrone
- GP Jerman: 1. Veda Ega Pratama, 2. Guido Pini, 3. Alvaro Carpe, 4. Adrian Fernandez, 5. Valentin Perrone
- GP Italia: 1. Veda Ega Pratama, 2. Guido Pini, 3. Alvaro Carpe, 4. Adrian Fernandez, 5. Valentin Perrone
- GP Spanyol: 1. Veda Ega Pratama, 2. Guido Pini, 3. Alvaro Carpe, 4. Adrian Fernandez, 5. Valentin Perrone
Data tersebut memperlihatkan pola dominasi Veda yang konsisten menempati posisi pertama, sementara Pini tetap berada di posisi runner‑up. Keduanya kini bersaing ketat untuk menguasai poin klasemen akhir musim, yang diprediksi akan menjadi pertarungan sengit hingga GP terakhir di Valencia.
Tim Leopard Racing menyatakan dukungan penuh kepada Pini. “Kami percaya pada potensi Guido. Setiap pembalap muda membutuhkan masa adaptasi, dan kami akan terus menyediakan mesin, data, serta mental yang kuat untuk mengatasi tekanan,” ujar manajer tim, Lorenzo Rossi.
Dengan tekanan yang terus meningkat, Pini harus menemukan cara untuk mengubah rasa hancur menjadi motivasi. Jika ia dapat menginternalisasi pesan mantan manajer Marc Marquez, serta memanfaatkan data performa Veda, peluangnya untuk memecah dominasi sang rival akan semakin besar. Musim ini masih panjang, dan kisah persaingan dua pembalap muda ini diprediksi akan menjadi sorotan utama dunia balap motor.
Secara keseluruhan, kegagalan berulang menjadi pelajaran penting bagi Guido Pini. Dengan mengingat kata‑kata bijak dari lingkungan MotoGP, ia bertekad untuk bangkit kembali, memperbaiki strategi balap, dan kembali menantang Veda di lintasan berikutnya.
