IPD – 03 April 2026 | Jakarta, 2 April 2026 – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), anak perusahaan grup Sinarmas yang bergerak di sektor energi, infrastruktur, dan agribisnis, mengumumkan rencana aksi korporasi strategis berupa pemecahan saham (stock split) dengan rasio 1:25. Keputusan ini telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 11 Maret 2026 dan memperoleh persetujuan Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui surat tanggal 31 Maret 2026.
Dengan stock split, setiap satu saham lama akan dipecah menjadi dua puluh lima saham baru, sehingga nilai nominal per lembar berubah dari Rp25 menjadi Rp1. Langkah ini diambil untuk menurunkan harga per lembar yang saat ini berada di kisaran Rp100.000, yang dianggap terlalu tinggi bagi investor ritel. Manajemen menilai harga yang tinggi mengakibatkan lot saham minimum mencapai Rp10 juta, sehingga hanya dapat diakses oleh kalangan investor institusional atau kaya raya. Menurunkan harga saham diharapkan dapat memperluas basis pemegang saham, meningkatkan likuiditas perdagangan, dan memperkuat struktur kepemilikan di masa depan.
Direktur PT Dian Swastatika Sentosa, Daniel Cahya, menjelaskan bahwa meskipun volume transaksi harian cukup signifikan, persepsi pasar masih menganggap saham DSSA kurang likuid karena harga yang tinggi. “Likuiditas artinya ada trading atau tidak kan, mungkin di kita bagus, tapi memang sebab harganya terlalu tinggi,” ujarnya dalam media gathering pada 2 April 2026. “Tanggal 9 April nanti akan terlihat, jadi kita harapkan saham DSSA akan lebih likuid,” tambahnya.
Berikut jadwal pelaksanaan stock split yang telah ditetapkan:
- 11 Maret 2026 – Persetujuan RUPSLB
- 31 Maret 2026 – Persetujuan BEI
- 9 April 2026 – Efektivitas pemecahan saham, saham lama dihentikan peredaran
- Setelah 9 April 2026 – Saham baru terdaftar dengan kode yang sama, nilai nominal Rp1 per lembar
Akibat pemecahan ini, jumlah saham beredar DSSA akan melonjak dari 7.705.523.200 lembar menjadi sekitar 192.638.080.000 lembar. Peningkatan signifikan ini diharapkan dapat menurunkan harga pasar per lembar menjadi kisaran Rp4.000‑Rp5.000, tergantung pada dinamika permintaan dan penawaran pasca‑split.
Manajemen juga menargetkan peningkatan jumlah pemegang saham menjadi lebih dari 200.000 individu, dengan harapan investor ritel, termasuk generasi milenial dan Gen Z, dapat lebih mudah berpartisipasi dalam kepemilikan perusahaan. Selain meningkatkan likuiditas, langkah ini sejalan dengan strategi jangka panjang grup Sinarmas untuk memperkuat posisi di pasar modal Indonesia, memperluas akses pembiayaan, dan mendukung pertumbuhan usaha inti di bidang energi terbarukan, infrastruktur logistik, serta agribisnis modern.
Para analis pasar menilai bahwa stock split dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan harga saham DSSA, terutama jika diiringi dengan kebijakan dividen yang konsisten dan kinerja operasional yang solid. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa faktor fundamental seperti pendapatan, profitabilitas, dan prospek proyek infrastruktur tetap menjadi penentu utama nilai jangka panjang saham.
Investor yang telah memiliki saham DSSA sebelum 9 April 2026 tidak perlu melakukan tindakan apa pun; saham lama secara otomatis akan dikonversi menjadi 25 saham baru sesuai rasio yang telah ditetapkan. Bagi calon investor, harga baru yang lebih terjangkau diharapkan membuka peluang pembelian dalam satuan lot standar (100 lembar), sehingga investasi minimal dapat turun menjadi sekitar Rp500.000‑Rp600.000.
Secara keseluruhan, aksi stock split 1:25 yang akan efektif pada 9 April 2026 menandai langkah penting bagi PT Dian Swastatika Sentosa Tbk dalam upaya meningkatkan likuiditas, memperluas basis investor, dan menyiapkan diri untuk ekspansi bisnis di masa depan. Pengawasan BEI dan otoritas pasar modal akan terus memantau pelaksanaan aksi korporasi ini untuk memastikan transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
