IPD – 06 April 2026 | Pada sesi perdagangan Asia Senin lalu, pasangan mata uang GBP/USD berhasil menarik minat beli di sekitar level terendah 1,3175 dan menembus kembali zona 1,3200. Meskipun demikian, pergerakan naik masih terhambat oleh ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang, terutama terkait negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat, Iran, dan mediator regional.
Berita gencatan senjata 45 hari yang sedang dibahas secara intensif dilaporkan oleh Bloomberg mengindikasikan kemungkinan berakhirnya konfrontasi militer di kawasan Teluk. Jika tercapai, ekspektasi terhadap dolar AS (USD) sebagai safe‑haven akan menurun, memberikan dorongan positif bagi pound sterling (GBP). Namun, ancaman baru muncul setelah mantan Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan bahwa Amerika dapat menargetkan fasilitas energi dan jembatan di Iran bila Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Risiko eskalasi semacam ini tetap menjadi faktor penghambat bagi pergerakan lebih lanjut GBP/USD.
Dari perspektif teknikal, bias jangka pendek masih condong ke arah bearish. Pada grafik 4‑jam, pasangan ini masih berada di bawah Simple Moving Average (SMA) 200 periode, yang menandakan tren menurun masih dominan. SMA 200 sendiri menurun secara konsisten, menahan upaya rebound yang terjadi pekan lalu. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) juga memperlihatkan garis histogram yang masih berada di zona negatif, sementara garis MACD hampir sejajar dengan level nol, menandakan momentum beli yang lemah.
Selanjutnya, Relative Strength Index (RSI) berada di kisaran 43, berada di bawah garis tengah 50. Kondisi ini mengindikasikan tekanan penurunan yang masih terjaga, meski tidak mencapai level oversold ekstrem. Oleh karena itu, setiap upaya kenaikan selanjutnya harus menembus level resistensi kunci di 1,3240 terlebih dahulu, sebelum dapat menargetkan zona 1,3300 yang menjadi titik swing high terakhir. Penembusan di atas 1,3300 akan menjadi sinyal penting untuk menguji kembali SMA 200 di sekitar 1,3370 dan berpotensi mengurangi bias bearish yang selama ini mendominasi.
- Resistensi utama: 1,3240 – 1,3300
- Support terdekat: 1,3190, dengan potensi penurunan ke 1,3150 jika support terobos
- Indikator utama: SMA 200 (menurun), MACD (negatif), RSI (43)
Di sisi bawah, level support terkuat terletak di zona 1,3190, yang merupakan titik terendah terbaru setelah aksi penurunan pada sesi Asia. Jika harga berhasil menembus level ini, zona 1,3150 menjadi target berikutnya, memperdalam tekanan jual dan menguji kesiapan trader untuk menambah posisi short. Sebaliknya, kegagalan untuk menembus support tersebut dapat memicu pembelian kembali di zona tersebut, menghasilkan pola rebound yang lebih terkontrol.
Faktor fundamental tetap menjadi pendorong utama pergerakan GBP/USD. Selain negosiasi gencatan senjata, data ekonomi Inggris dan Amerika Serikat yang dirilis dalam minggu ini juga menjadi penentu arah. Kebijakan moneter Bank of England (BoE) yang berfokus pada stabilitas harga dengan target inflasi 2 % dapat memberi dukungan bagi pound jika suku bunga tetap atau naik. Di sisi lain, keputusan Federal Reserve (Fed) yang masih cenderung hawkish dapat menahan dolar, terutama bila data inflasi AS menunjukkan tekanan menurun.
Investor harus tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik yang dapat berubah secara mendadak. Jika gencatan senjata gagal atau terjadi eskalasi militer baru, dolar AS berpotensi kembali menguat sebagai aset safe‑haven, menekan GBP/USD lebih jauh ke bawah. Sebaliknya, jika perjanjian gencatan senjata tercapai dan wilayah Teluk kembali stabil, dolar dapat melemah, memberi ruang bagi pound untuk menguji level resistensi lebih tinggi.
Secara keseluruhan, meskipun GBP/USD berhasil merebut kembali level 1,3200, bias bearish tetap kuat karena tekanan teknikal dan ketidakpastian geopolitik yang belum terpecahkan. Trader yang mengincar peluang jangka pendek sebaiknya menunggu konfirmasi penembusan di atas 1,3300 atau penurunan di bawah 1,3190 sebelum mengambil posisi signifikan. Pada akhirnya, dinamika antara kebijakan moneter, data ekonomi, dan perkembangan geopolitik akan menjadi penentu utama arah pergerakan pasangan mata uang ini dalam minggu-minggu mendatang.
