Enzy Storia Ziarah ke Makam Vidi Aldiano Sambil Bawa Kue Ulang Tahun, Simbol Cinta yang Memicu Perdebatan Publik

IPD – 30 Maret 2026 | Jakarta, 30 Maret 2026 – Pada hari ulang tahun kelahiran almarhum penyanyi Vidi Aldiano, sejumlah sahabat dan penggemar berkumpul di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, untuk memperingati momen yang sekaligus menjadi saksi kehangatan dan kontroversi. Di antara mereka, Enzy Storia menonjol dengan aksi berziarah sambil membawa kue ulang tahun serta menebar melati di sekitar batu nisan, sementara Sherina Munaf, Sheila Dara, dan bahkan ayah Vidi, Harry Kiss, turut serta dalam upacara yang menyerupai perayaan kecil namun penuh makna.

Enzy Storia mengunggah rangkaian Instagram Story yang menampilkan batu nisan Vidi Aldiano yang terletak di TPU Tanah Kusir. Dalam caption, ia menuliskan, “Wangi banget, pagi-pagi sudah ditebar melati. Lo taulah kalau sama Candika aman semua @rezachandika,” serta menambahkan, “Kangen banget lho, Vid.” Enzy juga menegaskan bahwa ia mengirim doa khusus untuk almarhum, mengisyaratkan rasa rindu yang mendalam sekaligus keinginan untuk menjaga kenangan tetap hidup. Kue yang dibawanya berwarna biru, warna favorit Vidi, diletakkan di atas batu nisan sebelum dipotong bersama kerabat terdekat.

Sherina Munaf, aktris dan sahabat lama Vidi, juga mengungkapkan perasaannya melalui unggahan Instagram. Ia memposting beberapa foto bersama Vidi semasa hidup, lalu menuliskan, “Selamat ulang tahun, Vidoi,” sambil menambahkan refleksi emosional tentang bagaimana Vidi selalu mengisi hidup mereka dengan cahaya dan warna. Kutipan panjangnya menyoroti rasa kehilangan yang mengubah dunia menjadi skala abu-abu, namun tetap menyimpan kenangan berwarna terang.

Selain Enzy dan Sherina, istri Vidi, Sheila Dara, turut menulis pesan haru di media sosial, menyinggung peran suaminya sebagai ayah dan suami yang selalu memberi dukungan. Pada saat yang sama, Harry Kiss, ayah Vidi, muncul di lokasi dengan mikrofon, memimpin nyanyian potongan lagu “Status Palsu” — lagu yang dulu menjadi identitas Vidi — sebelum memotong kue ulang tahun yang dibawa oleh para sahabat.

Acara tersebut tidak hanya dihadiri oleh keluarga inti, melainkan juga oleh ribuan penggemar yang mengenakan kaos berwarna biru sebagai dresscode resmi. Mereka membawa bunga, menaburkan melati, serta berdoa bersama di depan makam. Suasana haru tercampur dengan kegembiraan, terlihat dari tawa ringan ketika kue dipotong, meski latar belakangnya tetap makam yang sakral.

Namun, perayaan unik ini segera menuai perdebatan hangat di ranah media sosial. Sebagian netizen menilai tindakan membawa kue, menyalakan musik, dan mengabadikan momen dalam video sebagai bentuk penghormatan yang tulus, mencerminkan bahwa kenangan terhadap Vidi masih hidup di hati banyak orang. Mereka berargumen bahwa tradisi berziarah dengan menambahkan unsur perayaan dapat menjadi cara modern untuk mengekspresikan rasa cinta dan kepedulian.

Di sisi lain, kritikus menyuarakan keprihatinan bahwa perayaan di makam berpotensi merusak kesakralan tempat peristirahatan terakhir. Mereka mengingatkan bahwa makam seharusnya menjadi ruang privat, bukan arena publik yang dipetakan di Google Maps dan dijadikan latar konten viral. Kekhawatiran ini dipicu oleh fakta bahwa lokasi TPU Tanah Kusir Vidi telah didaftarkan oleh penggemar di layanan peta digital, sehingga mengundang lebih banyak kunjungan yang tidak selalu bersifat berziarah, melainkan pencarian eksposur di platform video.

Isu etika ini memperlihatkan pergeseran batas antara ruang pribadi dan publik dalam era digital. Sementara sebagian orang menilai bahwa mengenang almarhum dengan cara yang penuh warna dapat memperkuat ikatan komunitas, kelompok lain menilai bahwa kesederhanaan dan kehormatan harus tetap menjadi prioritas utama dalam konteks pemakaman.

Para pengamat budaya menambahkan bahwa praktik berziarah sambil mengadakan acara kecil bukanlah hal baru di Indonesia. Tradisi mempersembahkan bunga, menyalakan lilin, atau bahkan mengadakan doa bersama telah lama menjadi bagian dari ritual duka. Namun, penambahan elemen seperti kue ulang tahun dan pakaian seragam menandai evolusi sosial yang dipengaruhi oleh media sosial, di mana setiap momen berpotensi menjadi konten viral.

Sejalan dengan itu, keluarga Vidi tetap menegaskan bahwa perayaan tersebut bersifat pribadi dan tidak dimaksudkan untuk dijadikan tontonan massal. Mereka mengapresiasi dukungan para sahabat, termasuk Enzy Storia yang secara terbuka mengungkapkan rasa rindunya, serta Sherina Munaf yang menuliskan kata-kata penuh makna. Di akhir acara, semua peserta mengucapkan selamat tinggal, memotong sisa kue, dan menutup doa bersama, menandakan bahwa rasa cinta tetap mengalir meski sang pemilik suara telah tiada.

Kesimpulannya, peringatan ulang tahun Vidi Aldiano di makam Tanah Kusir menjadi contoh nyata bagaimana tradisi berziarah beradaptasi dengan dinamika media sosial. Sementara aksi Enzy Storia dan sahabat-sahabatnya menyoroti kedalaman ikatan emosional, perdebatan publik menegaskan perlunya keseimbangan antara penghormatan pribadi dan sensitivitas ruang sakral. Kejadian ini akan menjadi bahan refleksi bagi masyarakat dalam menavigasi batas antara memori kolektif dan privasi individu di era digital.

Leave a Comment