Emiten Mau Rights Issue Rp27,65T, Sahamnya Lepas Jeratan Suspensi BEI

IPD – 12 Juni 2026 | Saham PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) langsung Auto Rejection Atas (ARA) di awal perdagangan usai suspensi dibuka Bursa Efek Indonesia (BEI) Jumat (12/6/2026). FORU sempat menyentuh level ARA di Rp3.830 di awal sesi, sebelum berbalik arah. Pukul 10.24 WIB, saham emiten Media & Hiburan ini terpantau di 3.210, naik Rp140 atau 4,56% dari penutupan sebelumnya.

Suspensi dibuka kembali mulai sesi I hari ini, kata Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Yulianto Aji Sadono menyebutkan bahwa sebelumnya, “BEI menghentikan sementara perdagangan FORU pada 11 Juni 2026 karena terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan sebagai bentuk perlindungan bagi Investor.

Rights Issue Jumbo Rp27,65 Triliun Reli FORU terjadi di tengah aksi korporasi besar yang menunggu direstui regulator Pasar Modal. Berdasarkan prospektus ringkas Selasa (9/6), FORU akan menggelar PMHMETD I atau rights issue sebanyak 219.478.726.480 saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham. Jumlah saham baru itu setara 99,79% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah PMHMETD I.

Dengan harga pelaksanaan Rp126 per saham, nilai keseluruhan rights issue FORU apabila tercapai sepenuhnya mencapai Rp27,65 triliun.Aksi korporasi jumbo ini akan mengalami dilusi nyaris 99,79%. BEI mengimbau investor mencermati keterbukaan informasi perseroan, terutama terkait peresmian rights issue, harga pelaksanaan final, dan rencana penggunaan dana.

Belum ada tanggal cum date HMETD yang diumumkan manajemen. Sementara itu, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) mencatat pertumbuhan pendapatan mayoritas berasal dari penjualan kaveling tanah komersial. Pendapatan CBDK tercatat di angka Rp 743 miliar pada kuartal pertama tahun 2026, meningkat 74% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk mencapai Rp 542 miliar atau melonjak 317% secara tahunan. Pencapaian tersebut mencerminkan semakin optimalnya monetisasi kawasan bisnis CBD PIK2 sekaligus peningkatan kualitas profitabilitas CBDK. Kontributor utama pendapatan berasal dari penjualan kaveling tanah komersial yang mencatat pertumbuhan signifikan seiring meningkatnya aktivitas bisnis dan investasi di kawasan CBD PIK2.

PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) memperoleh fasilitas pinjaman jumbo dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia, Kamis (11/6/2026) Corporate Secretary PT Citra Borneo Utama Tbk Alex Dwi Adha menjelaskan Perseroan telah menandatangani Perjanjian Fasilitas Kredit dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (Bank BRI), Rabu (10/6/2026). Berdasarkan Perjanjian Fasilitas Kredit, Bank BRI memberikan fasilitas kredit kepada Perseroan dengan jumlah maksimal sebesar Rp8.995.400.000.000 (delapan triliun sembilan ratus sembilan puluh lima miliar empat ratus juta Rupiah).

Tujuan dari fasilitas kredit ini digunakan untuk modal kerja dan/atau operasional Perseroan dengan jangka waktu plafond kredit selama 24 (dua puluh empat) bulan terhitung sejak tanggal penandatanganan Perjanjian Fasilitas. Kinerja Kuartal Pertama Sementara itu, meski dibayangi fluktuasi harga komoditas global, perseroan sukses membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 11,57% secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2026.

Dalam acara Public Expose yang digelar Kamis (11/6/2026), manajemen CBUT memaparkan bahwa laba bersih perseroan naik menjadi Rp45 miliar pada kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp41 miliar. Pertumbuhan laba ini mengonfirmasi keberhasilan strategi efisiensi dan peningkatan kualitas margin perseroan.

Direktur Utama PT Citra Borneo Utama Tbk, Rorry Christian Tobing, mengungkapkan bahwa meskipun pendapatan perseroan mengalami koreksi tipis sebesar 0,53% menjadi Rp3.377 miliar pada kuartal pertama tahun ini, kualitas laba perusahaan terbukti jauh lebih sehat. Penurunan tipis penjualan pada Q1 2026 lebih disebabkan oleh fluktuasi harga komoditas global dan ketidakpastian pasar akibat situasi geopolitik.

Namun, efisiensi operasional yang ketat dan fokus kami pada produk hilir bernilai tambah tinggi membuat margin laba usaha tumbuh 19,02% menjadi Rp89 miliar. Pertumbuhan positif pada awal tahun ini melanjutkan tren gemilang sepanjang tahun 2025. Pada tahun lalu, penjualan CBUT melonjak signifikan sebesar 43,05% menjadi Rp13.970 miliar.

Di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih berada di zona negatif secara year-to-date, perhatian terhadap saham-saham BUMN kembali meningkat. Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, COO BPI Danantara Dony Oskaria, Direktur Utama BRI Hery Gunardi, para Direktur Utama Himbara, BPJS Ketenagakerjaan, serta sejumlah BUMN di Jakarta (09/06).

Pertemuan tersebut membahas berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasar modal dan memperkuat kepercayaan investor, termasuk wacana buyback saham emiten BUMN. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menilai perhatian berbagai pemangku kepentingan tersebut mencerminkan keyakinan terhadap prospek jangka panjang perusahaan-perusahaan BUMN, khususnya sektor perbankan yang tetap menunjukkan kinerja dan fundamental yang solid.

Menurut Hery, stabilitas pasar yang terjaga merupakan faktor penting dalam mendukung iklim investasi yang sehat. Kepercayaan investor terhadap saham-saham perbankan nasional ditopang oleh kinerja industri yang tetap resilien di tengah dinamika ekonomi global. Industri perbankan masih mencatatkan pertumbuhan kredit yang positif, kualitas aset yang terjaga, serta kondisi likuiditas dan permodalan yang kuat.

Hery yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perbanas menambahkan bahwa fundamental industri perbankan nasional hingga saat ini tetap kuat. Berdasarkan data OJK, hingga April 2026 kredit perbankan tumbuh 9,98 persen secara tahunan, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 11,40 persen.

Pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana masyarakat yang tetap kuat menunjukkan kepercayaan publik terhadap industri perbankan masih terjaga dengan baik, sekaligus mencerminkan fungsi intermediasi yang berjalan efektif. Bagi BRI, penguatan kepercayaan pasar terutama dibangun melalui kinerja yang konsisten. Perseroan terus fokus menjaga kualitas aset, memperkuat permodalan dan likuiditas, serta menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.

Kesimpulan: Dalam beberapa waktu terakhir, beberapa emiten di Indonesia telah melakukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kinerja dan memperkuat kepercayaan investor. Dari rights issue hingga buyback saham, berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan stabilitas pasar modal dan mendukung iklim investasi yang sehat. Dengan fokus pada kinerja yang konsisten dan fundamental yang solid, diharapkan industri perbankan nasional dapat terus menunjukkan pertumbuhan yang positif dan menjadi motor penggerak perekonomian nasional.

Leave a Comment