IPD – 17 April 2026 | George Brown, mantan bek Persebaya Surabaya yang pernah memperkuat tim pada musim 2023/2024, mengungkapkan kondisi memprihatinkan yang melanda klub PSBS Biak. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Brown menjelaskan bahwa krisis keuangan klub telah menjerumuskan pemain dan staf ke dalam situasi yang mengancam kelangsungan tim, termasuk penundaan gaji, pengusiran dari mess, dan latihan yang terhenti karena tidak ada dana untuk menyewa lapangan.
Menurut keterangan Brown, pemain PSPS Biak belum menerima gaji selama dua setengah hingga tiga bulan terakhir. Gaji yang seharusnya dibayarkan setiap bulan tidak kunjung cair, memaksa sebagian pemain mengandalkan tabungan pribadi atau bantuan keluarga. “Kami menulis surat resmi kepada otoritas sepak bola Indonesia untuk menuntut perhatian, karena hak-hak kami sudah terabaikan terlalu lama,” ujar Brown, menambahkan bahwa surat tersebut juga mencantumkan nama-nama pemain dan staf yang masih menunggu pembayaran.
Masalah keuangan tidak hanya terbatas pada gaji. Fasilitas dasar seperti air minum setelah latihan, makanan di mess, bahkan kendaraan tim telah terhenti. Brown menyampaikan bahwa mess pemain lokal kini tak lagi menyediakan makanan bergizi, sementara beberapa pemain asing sudah menerima surat pengosongan apartemen karena tunggakan sewa yang belum dibayar klub. “Kami bahkan tidak bisa mandi di fasilitas klub, karena listrik diputus,” tambahnya, menegaskan bahwa krisis telah merembet ke aspek kehidupan sehari-hari para pemain.
Latihan tim menjadi korban utama dari kegagalan administratif. Lapangan latihan yang biasanya disewa oleh klub tidak dapat dipakai karena belum dibayar biaya sewa, sehingga pemain tidak dapat melaksanakan sesi fisik maupun taktik secara rutin. Brown mengakui, “Kemarin kami tidak latihan karena lapangan tidak dibayar. Padahal besok kami harus menghadapi Persija di Bandung,” ungkapnya dengan nada khawatir, menggambarkan ketidakpastian persiapan menjelang pertandingan penting.
Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai masa depan PSBS Biak di Liga 2. Tanpa dukungan keuangan yang memadai, tim berisiko kehilangan pemain kunci, menurunkan performa, bahkan terancam terdegradasi. Brown menilai, “Jika tidak ada intervensi cepat, kami akan kehilangan peluang untuk bersaing secara kompetitif,” ia menambahkan, menyoroti pentingnya bantuan dari federasi dan sponsor.
- Gaji pemain tertunda 2,5-3 bulan
- Mess dan apartemen pemain asing diusir
- Lapangan latihan tidak dapat disewa
- Latihan terhenti, persiapan pertandingan terhambat
Pengamat sepak bola menilai bahwa krisis PSBS Biak mencerminkan masalah struktural yang lebih luas di level klub-klub Liga 2, di mana sumber pendapatan terbatas dan manajemen keuangan seringkali tidak transparan. Mereka menekankan perlunya regulasi yang lebih ketat serta pengawasan keuangan yang lebih intensif untuk mencegah kasus serupa di masa mendatang.
Sementara itu, para pemain tetap berusaha tetap fokus pada kompetisi. Brown menyatakan bahwa meskipun kondisi tidak ideal, mereka tetap berlatih secara mandiri dan berusaha menjaga kebugaran dengan fasilitas pribadi. “Kami tidak ingin mengeluh, tetapi kami juga tidak bisa bekerja dengan baik tanpa dukungan dasar,” katanya, menegaskan tekad tim meski berada dalam situasi krisis.
Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) belum memberikan pernyataan resmi terkait keluhan yang diajukan oleh PSBS Biak. Namun, pihak klub berharap pihak berwenang dapat menengahi permasalahan dan memastikan pembayaran hak pemain secepatnya. Brown menutup wawancara dengan harapan, “Semoga ada solusi yang adil bagi semua pihak, agar sepak bola Indonesia tetap kompetitif dan profesional.”
Krisis yang dihadapi PSBS Biak ini menjadi pelajaran penting bagi klub-klub lain dalam mengelola keuangan dan memastikan kesejahteraan pemain. Tanpa dukungan yang memadai, prestasi di lapangan sulit dicapai, dan kepercayaan publik terhadap kompetisi dapat menurun.
