IPD – 03 April 2026 | Jakarta, 31 Maret 2026 – Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menyampaikan tawaran resmi kepada Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) untuk menerima kapal selam modern yang sedang bersandar di pelabuhan tersebut. Penawaran ini muncul bersamaan dengan kedatangan detasemen kapal perang Armada Pasifik Rusia yang melakukan port call sejak 29 Maret hingga 2 April 2026.
Detasemen tersebut terdiri atas tiga unit utama, yaitu Korvet Gromky-335, kapal tunda Andrey Stepanov, serta kapal selam kelas Improved Kilo dengan nama Petropavlovsk‑Kamchatskiy B‑274. Ketiga kapal ini menampilkan kemampuan alutsista terkini yang dimiliki Moskow, terutama kapal selam Improved Kilo yang dikenal memiliki sistem sonar canggih, kemampuan operasi dalam laut dalam, serta persenjataan torpedo anti‑kapal dan anti‑kapal selam.
Sergei Tolchenov menegaskan bahwa kehadiran alutsista modern tersebut merupakan simbol kesiapan Rusia untuk memperkuat kemitraan strategis dengan Indonesia, khususnya di bidang pertahanan maritim. “Kita ingin menunjukkan bahwa Rusia siap menjadi mitra teknologi militer yang dapat diandalkan bagi Indonesia. Penawaran kapal selam ini adalah bagian dari komitmen kami untuk mendukung peningkatan kemampuan TNI AL dalam menjaga kedaulatan wilayah perairan,” ujar Tolchenov.
Pejabat TNI AL yang hadir, Letnan Kolonel Arif Setiawan, menanggapi tawaran tersebut dengan sikap terbuka namun menekankan pentingnya evaluasi teknis dan keuangan. “Kami mengapresiasi inisiatif Rusia untuk berbagi pengetahuan dan teknologi. Namun, keputusan akhir akan didasarkan pada analisis kebutuhan operasional, interoperabilitas dengan sistem yang sudah ada, serta pertimbangan anggaran nasional,” jelasnya.
Penawaran ini muncul pada saat hubungan pertahanan Indonesia‑Rusia tengah mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun-tahun sebelumnya, Indonesia telah menerima sejumlah peralatan militer dari Moskow, termasuk pesawat tempur Mi‑35, sistem pertahanan udara S‑300, dan kapal patroli. Kedua negara juga rutin menggelar latihan bersama di laut, yang memperkuat interoperabilitas personel dan doktrin taktis.
Di tengah ketegangan di Laut China Selatan dan peningkatan aktivitas militer di kawasan Indo‑Pasifik, modernisasi armada kapal selam menjadi prioritas strategis bagi TNI AL. Kapal selam kelas Improved Kilo, dengan kemampuan stealth dan endurance yang tinggi, dapat menambah dimensi pertahanan bawah laut Indonesia, memperluas jangkauan pengawasan, serta memberikan opsi deterrent yang lebih kuat.
- Kapasitas operasional: dapat berlayar selama lebih dari 45 hari tanpa permukaan.
- Sistem sonar: integrasi sonar pasif dan aktif generasi terbaru.
- Persenjataan: torpedo 533 mm dan rudal anti‑kapal.
- Kecepatan maksimum: sekitar 20 knot saat tenggelam.
Jika Indonesia memutuskan untuk menerima kapal selam tersebut, proses selanjutnya meliputi pelatihan kru TNI AL, transfer teknologi, serta kemungkinan kerja sama dalam pemeliharaan dan modernisasi berkelanjutan. Rusia telah menawarkan program pelatihan intensif selama enam bulan di pangkalan lautnya, serta dukungan logistik untuk integrasi sistem komunikasi dan navigasi.
Pengamat militer menilai bahwa tawaran ini sekaligus menjadi alat diplomasi militer Rusia untuk memperkuat posisi di Asia Tenggara, khususnya di tengah persaingan pengaruh antara kekuatan Barat dan China. “Indonesia berada pada posisi strategis, dan kemampuan militer modern seperti kapal selam dapat menjadi faktor penyeimbang dalam dinamika keamanan regional,” ujar Dr. Budi Santoso, analis kebijakan pertahanan di Lembaga Kajian Strategis.
Kesimpulannya, penawaran kapal selam modern oleh Dubes Rusia menandai babak baru dalam kerja sama pertahanan antara kedua negara. Meskipun masih memerlukan kajian mendalam, langkah ini membuka peluang bagi TNI AL untuk memperkuat kapasitas pertahanan bawah lautnya, sekaligus menegaskan komitmen Indonesia dalam menjaga kedaulatan wilayah lautnya di tengah tantangan keamanan maritim yang semakin kompleks.
