IPD – 01 April 2026 | Timnas Italia mengalami kegagalan pahit pada laga penentuan tiket ke Piala Dunia 2026 setelah harus menyerah pada Bosnia dan Herzegovina lewat adu penalti di Stadion Bilino Polje, Zenica, pada dini hari 1 April 2026. Pertandingan yang semula dimulai dengan harapan besar bagi Azzurri berakhir dengan skor imbang 1-1 pada waktu reguler dan perpanjangan, lalu dilanjutkan dengan tendangan penalti yang dimenangkan Bosnia 4-1.
Berangkat dari latar belakang kualifikasi zona Eropa, Italia berada di jalur play‑off setelah mengakhiri fase grup dengan posisi kedua. Di semifinal play‑off, Gattuso berhasil membawa Italia mengalahkan Irlandia Utara 2-0 berkat gol Sandro Tonali dan Moise Kean. Namun, kekuatan lawan di final, Bosnia dan Herzegovina, terbukti lebih tangguh dari yang diperkirakan.
Babak pertama dimulai dengan tekanan tinggi dari kedua tim. Pada menit ke‑3, Amar Memic menembus pertahanan Italia dan mengirimkan umpan terobosan ke dalam kotak penalti, namun Riccardo Calafiori berhasil menepis bola tersebut. Italia membalas dengan serangan cepat, dan pada menit ke‑15 Moise Kean memanfaatkan umpan Nicolò Barella untuk menembakkan bola melengkung dari luar kotak penalti ke sudut kanan gawang, mencetak gol pertama untuk Azzurri.
Seiring berjalannya waktu, Bosnia menekan kembali. Haris Tabaković akhirnya menemukan celah pada menit ke‑79 dan menyundul bola masuk, menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Tekanan meningkat ketika pada menit ke‑42 Alessandro Bastoni menerima kartu merah setelah melakukan tekel keras terhadap Amar Memic yang sedang berlari bebas. Dengan satu pemain kurang, Italia harus bertahan lebih konservatif, namun tetap menampilkan serangan‑serangan sporadis.
Waktu normal berakhir tanpa tambahan gol, sehingga pertandingan memasuki perpanjangan waktu. Kedua tim bermain hati‑hati, namun tidak ada gol tambahan yang tercipta. Pada akhirnya, keputusan akhir ditentukan oleh adu penalti. Italia mengeksekusi lima tendangan, namun Francesco Pio Esposito dan Bryan Cristante gagal menembakkan bola ke gawang, masing‑masing meleset ke tiang dan menimpa mistar. Sebaliknya, keempat penendang Bosnia berhasil mengeksekusi dengan sempurna, termasuk Esmir Bajraktarevic yang menutup laga dengan gol kemenangan.
Kegagalan ini menandai ketiga kali Italia absen dari Piala Dunia secara beruntun, setelah kegagalan di fase play‑off 2018 dan 2022. Keputusan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang arah teknik dan taktik timnas Italia di era pasca‑dunia. Gennaro Gattuso, yang mengemban tugas melatih tim sejak September 2023, kini menghadapi tekanan besar untuk merombak struktur tim, terutama di lini belakang yang terbukti rapuh setelah dua kebobolan kritis di laga sebelumnya melawan Norwegia.
Selain dampak sportivanya, hasil ini memiliki implikasi ekonomi dan sosial bagi federasi sepak bola Italia. Kehilangan kesempatan berpartisipasi di turnamen terbesar dunia berdampak pada pendapatan komersial, sponsor, serta moral penggemar yang telah menunggu kembali ke panggung dunia sejak 2014. Di sisi lain, Bosnia dan Herzegovina meraih tiket pertamanya ke Piala Dunia dalam 12 tahun, membuka peluang baru bagi perkembangan sepak bola negara tersebut.
Para analis menilai bahwa Italia harus memperkuat lini pertahanan, meningkatkan kedisiplinan pemain, serta meninjau kembali kebijakan seleksi pemain yang sering kali menimbulkan kontroversi. Di samping itu, peran kapten Gianluigi Donnarumma sebagai kiper utama tetap menjadi faktor penting, meskipun penampilannya dalam adu penalti tidak mampu mengubah nasib tim.
Dengan hasil ini, perhatian publik Italia kini tertuju pada proses rekonstruksi tim nasional, termasuk kemungkinan perubahan manajer atau strategi. Sementara itu, Bosnia dan Herzegovina bersiap menghadapi grup B Piala Dunia 2026 bersama Kanada, Swiss, dan Qatar, membawa harapan baru bagi sepak bola Balkan.
