IPD – 28 Maret 2026 | Stade de France menjadi saksi pertarungan internasional antara Senegal dan Peru pada 28 Maret 2026, sebuah laga persahabatan yang sekaligus menjadi ujian terakhir Les Lions de Teranga menjelang Piala Dunia FIFA 2026. Pertandingan yang berlangsung tanpa gol pada menit-menit awal berakhir dengan kemenangan tipis Senegal 1-0 berkat gol ekstra waktu Pape Gueye, namun sorotan utama tetap pada dinamika internal tim setelah kekecewaan di Afrika Cup (AFCON) Januari lalu.
AFCON 2026 yang digelar di Maroko menyaksikan Senegal menjuarai turnamen setelah mengalahkan tuan rumah 1-0 dalam perpanjangan waktu. Momen itu berubah menjadi kontroversi ketika sejumlah pemain Senegal, dipimpin oleh kapten Idrissa Gana Gueye, meninggalkan lapangan dalam protes terhadap keputusan wasit yang memberi penalti kepada Maroko pada menit ke-86. Insiden tersebut memicu intervensi keras dari pihak keamanan, penundaan hampir 20 menit, dan akhirnya kemenangan Senegal tetap diakui. Namun, pada 22 Februari 2026, Komite Apel CAF memutuskan menindak tegas pelanggaran regulasi dengan mengubah hasil menjadi 3-0 untuk Maroko, mencabut gelar juara Senegal.
Pelatih kepala Pape Thiaw menegaskan bahwa fokus tim tetap pada persiapan Piala Dunia, meski tekanan politik dan emosional melanda. “Kami tetap percaya diri karena trofi diraih di lapangan, bukan di ruang sidang,” ujar Thiaw dalam konferensi pers sebelum pertandingan melawan Peru di Paris. Ia menambahkan, “Kontroversi AFCON tidak akan mengalihkan perhatian kami dari tujuan utama, yaitu menembus fase knockout di Piala Dunia.”
Peru, yang baru saja menamatkan masa kebangkitan di bawah asuhan Mano Menezes, menggunakan laga ini sebagai batu loncatan setelah kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026. Tim Bicolor menargetkan peningkatan performa di kompetisi regional dan berharap dapat meniru keberhasilan mereka pada turnamen persahabatan sebelumnya melawan tim-tim Eropa.
Berikut rangkuman kunci pertandingan dan konteks di baliknya:
- Lineup utama Senegal: Kalidou Koulibaly (kapten), Sadio Mané, Ismaïla Sarr, dan Pape Gueye yang mencetak gol penentu.
- Lineup utama Peru: Luis Advíncula, Christian Cueva, serta veteran Diego Valeri yang memimpin serangan.
- Waktu kickoff: 19:00 CET, ditayangkan secara langsung di jaringan TV internasional serta platform streaming Fubo di Amerika Serikat.
- Konteks kompetitif: Senegal akan berhadapan dengan Prancis, Norwegia, dan pemenang play‑off Bolivia‑Irak di fase grup Piala Dunia 2026, sementara Peru fokus pada kualifikasi Copa América 2024.
Atmosfer di stadion dipenuhi ketegangan, namun juga harapan. Setelah menyanyikan lagu kebangsaan masing‑masing, kedua tim melangkah ke lapangan dengan semangat tinggi. Pada menit ke‑73, Senegal membuka peluang pertama lewat serangan kombinasi antara Mané dan Sarr, namun tembakan ke arah gawang Advíncula berhasil diselamatkan oleh kiper Peru.
Gol penentu datang pada menit ke‑108 setelah perpanjangan waktu. Pape Gueye, yang sebelumnya menjadi pahlawan pada perpanjangan waktu AFCON, menerima umpan silang dari Sarr dan menegakkan bola ke sudut kanan bawah gawang Peru. Gol ini tidak hanya mengamankan tiga poin untuk Senegal, tetapi juga menjadi simbol pemulihan moral pasca kontroversi.
Setelah pertandingan, Thiaw menegaskan pentingnya menjaga konsistensi mental pemain. “Kami belajar dari pengalaman di AFCON. Sekarang kami harus menyalurkan energi itu ke lapangan, terutama ketika berada di panggung dunia,” ujarnya. Sementara itu, pemain kunci Koulibaly menambahkan, “Pertahanan kami tetap solid, dan kami siap menghadapi tantangan lebih besar di turnamen berikutnya.”
Di sisi lain, pelatih Peru, Mano Menezes, mengakui keunggulan lawan dan berjanji untuk memperbaiki taktik defensif. “Kami harus lebih disiplin dalam menutup ruang, terutama melawan pemain cepat seperti Mané,” kata Menezes setelah pertandingan.
Dengan kemenangan ini, Senegal menutup fase persiapan menjelang Piala Dunia dengan catatan positif, namun tekanan untuk membuktikan diri di panggung global tetap tinggi. Kontroversi gelar AFCON yang dicabut masih menjadi topik perbincangan di media sosial dan kalangan olahraga, namun tim kini bertekad mengubah narasi menjadi kemenangan di atas lapangan.
Ke depan, para penggemar akan menantikan penampilan tim pada fase grup Piala Dunia, sementara penyelesaian sengketa dengan CAF masih berlangsung di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Lausanne. Apakah Les Lions de Teranga dapat mengubah cerita menjadi legenda baru di Amerika Utara? Waktu akan menjawab.
