Diaz Hendropriyono Galang Masyarakat Pasang Biopori, Upaya Cegah Banjir Jabodetabek Makin Gencar

IPD – 07 April 2026 | Wakil Menteri Lingkungan Hidup (LH), Diaz Hendropriyono, kembali menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam mengurangi risiko banjir di wilayah Jabodetabek melalui pemasangan biopori. Kegiatan penyerahan bantuan unit biopori dan perlengkapan terkait dilaksanakan pada Minggu, 5 April 2026, di 10 desa Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, sebagai rangka peringatan Hari Air Sedunia. Dalam acara tersebut, Hendropriyono menekankan bahwa setiap rumah sebaiknya memiliki setidaknya satu lubang biopori serta menanam satu pohon untuk menyeimbangkan siklus air tanah.

Biopori, yaitu lubang berdiameter sekitar 30 cm yang diisi dengan bahan organik, berfungsi meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah. Dengan memperbanyak biopori, aliran air permukaan yang biasanya berujung pada genangan dapat diserap lebih cepat, mengurangi beban pada sistem drainase kota. Hendropriyono menuturkan bahwa daerah Cisarua berada di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung, sehingga menjaga keseimbangan air di wilayah tersebut berimplikasi langsung pada penurunan risiko banjir di Jakarta dan sekitarnya.

Selama serah terima, masing‑masing desa menerima 50 unit biopori, total 500 unit untuk seluruh wilayah. Selain unit biopori, Kementerian Lingkungan Hidup juga menyalurkan bibit pohon, tiga unit perahu karet, serta peralatan pembuatan lubang biopori. Dalam rangka memperkuat ekosistem, tim lapangan melakukan penanaman 1.500 pohon dan pembangunan sumur resapan di Agrowisata Gunung Mas.

Berikut rangkaian langkah yang diusulkan Hendropriyono untuk masyarakat:

  • Pasang satu unit biopori di setiap rumah, terutama yang berada di daerah rawan genangan.
  • Tanam satu pohon di sekitar rumah untuk meningkatkan penyerapan air dan memperbaiki kualitas udara.
  • Jaga kebersihan lingkungan, hindari pembuangan sampah sembarangan, terutama di sekitar sumber air.
  • Libatkan warga dalam pelatihan pembuatan biopori agar pengetahuan dapat tersebar luas.
  • Koordinasikan dengan pemerintah desa untuk pemeliharaan dan monitoring unit biopori secara berkala.

Hendropriyono juga menyinggung data global tentang ketersediaan air bersih. Menurutnya, hanya sekitar dua persen dari total air di bumi yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh manusia, sementara sisanya berada di lapisan es dan laut. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara air masuk dan keluar menjadi krusial, tidak hanya untuk menghindari banjir tetapi juga untuk memastikan pasokan air bersih yang berkelanjutan.

Selain fokus pada biopori, Hendropriyono mengingatkan pentingnya kesadaran akan pencemaran sumber air. Sampah plastik dan limbah domestik yang dibuang sembarangan dapat mengurangi kapasitas resapan tanah, memperparah genangan, dan mengancam kualitas air sungai. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat—dari pemerintah desa, kelompok RT, hingga warga individual—untuk berperan aktif dalam menjaga kebersihan DAS Ciliwung.

Upaya ini sejalan dengan program nasional pengendalian banjir yang mengintegrasikan pendekatan struktural (seperti pembangunan waduk dan kanal) dan non‑struktural (pendidikan lingkungan, partisipasi warga). Dengan menekankan peran biopori, Hendropriyono berharap dapat menciptakan model yang dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki karakteristik geografis serupa.

Secara keseluruhan, inisiatif biopori yang dipimpin oleh Diaz Hendropriyono menandai langkah konkret dalam upaya mitigasi banjir di Jabodetabek. Melalui sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan warga, diharapkan volume air hujan dapat diserap lebih efektif, mengurangi beban pada sistem drainase, serta meningkatkan kualitas lingkungan hidup secara berkelanjutan.

Leave a Comment