De Zerbi Janjikan Makan Malam Mewah untuk Skuad Tottenham, Optimis Kalahkan Brighton Hindari Degradasi

IPD – 19 April 2026 | Pelatih asal Italia, De Zerbi, berusaha mengubah atmosfer tim Tottenham Hotspur yang kini terpuruk di zona degradasi dengan menggelar makan malam mewah bagi seluruh skuad menjelang laga kandang melawan mantan klubnya, Brighton & Hove Albion, pada Sabtu (18/4). Janji tersebut bukan sekadar hadiah kuliner, melainkan strategi membangun kebersamaan dan memperkuat mentalitas pemain di tengah krisis yang belum berakhir.

Menurut pernyataan yang disampaikan De Zerbi, masalah utama Tottenham bukan lagi soal teknik atau taktik di lapangan, melainkan soal karakter dan kekuatan mental. “Mereka tidak perlu berkembang lagi sebagai pemain saat ini. Untuk mencapai target, kami harus lebih kuat secara mental, memiliki karakter, dan membangun hubungan yang lebih erat antar pemain,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa rasa bangga mengenakan seragam klub dan kepercayaan diri menjadi fondasi penting untuk bangkit kembali.

Situasi tim semakin rumit karena sejumlah pemain kunci sedang absen karena cedera. Kapten tim Cristian Romero dipastikan tidak akan kembali hingga akhir musim setelah mengalami cedera lutut serius. Selain Romero, delapan pemain utama lainnya—Wilson Odobert, Mohammed Kudus, Dejan Kulusevski, James Maddison, Guglielmo Vicario, Ben Davies, Rodrigo Bentancur, dan kembali Romero—masih dalam fase pemulihan. De Zerbi menegaskan bahwa hanya pemain yang benar‑benar siap yang akan diturunkan, meskipun hal itu berarti mengorbankan peluang menang pada satu pertandingan.

Dengan kekosongan kepemimpinan di lini tengah dan pertahanan, De Zerbi menyoroti peran beberapa pemain yang diharapkan mengisi peran tersebut. Micky van de Ven dan Dominic Solanke disebut sebagai kandidat potensial untuk memimpin tim di lapangan. De Zerbi mengungkapkan kepercayaan khusus pada Solanke, menyatakan, “Saya ingin Solanke lebih kuat secara karakter di lapangan.” Selain itu, Xavi Simons dipuji karena kemampuan memimpin dalam tekanan, sementara Joao Palhinha dan Rodrigo Bentancur juga dianggap memiliki potensi kepemimpinan.

Makan malam yang diadakan beberapa hari sebelum pertandingan berlangsung di sebuah restoran mewah di London. Pada kesempatan itu, De Zerbi memanfaatkan suasana santai untuk mengorek perasaan, keluhan, dan aspirasi pemain secara individu. Ia menekankan pentingnya hubungan manusia di atas taktik, dengan mengingatkan, “Saya selalu percaya hubungan manusia. Sebelum berbicara soal taktik, permainan, atau pergerakan, saya bekerja dengan manusia beserta semua masalah mereka.”

Menjelang pertemuan dengan Brighton, De Zerbi tetap optimis. Tottenham berada di posisi ke‑18 klasemen dengan 30 poin dari 32 pertandingan, dan belum mencatat kemenangan sejak awal tahun 2026. Namun, ia percaya bahwa kemenangan melawan Brighton dapat menjadi titik balik yang menghentikan kemerosotan. “Jika kami berhasil mengalahkan Brighton, itu akan memberi energi positif dan mengurangi tekanan degradasi,” kata De Zerbi.

Latar belakang historis menambah beban pada pundak Spurs. Tim ini pernah terdegradasi pada musim 1976/1977, dan kini hanya menyisakan enam laga lagi untuk mengamankan tempat di Premier League. De Zerbi menegaskan keyakinannya, “Saya tetap positif. Saya siap bertarung, dan kami tidak akan membiarkan klub kembali ke Championship pada musim depan.”

Selain aspek mental, De Zerbi juga menyoroti pentingnya kesiapan fisik. James Maddison, yang baru kembali berlatih ringan setelah cedera lutut, dianggap memiliki kualitas teknik dan mental yang sangat dibutuhkan. Namun, pelatih menolak memaksakan Maddison masuk jika belum sepenuhnya pulih, menegaskan prioritas kesehatan pemain di atas hasil instan.

Kesimpulannya, pendekatan De Zerbi yang menggabungkan kebersamaan melalui makan malam, penekanan pada karakter, serta penyesuaian taktik berbasis kondisi pemain, mencerminkan upaya menyeluruh untuk menyelamatkan Tottenham dari zona degradasi. Jika Spurs mampu mengalahkan Brighton, janji makan malam mewah akan terwujud, sekaligus memberi sinyal kuat bahwa tim tidak menyerah pada tekanan.

Leave a Comment