IPD – 03 April 2026 | Pada awal April 2026, warga Dusun Pante Geulima, Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie Jaya, menorehkan kembali semangat gotong royong yang menjadi tulang punggung proses pemulihan pascabencana. Dengan dukungan intensif dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, ribuan meter persegi lahan yang sebelumnya terendam lumpur kini perlahan kembali menjadi tempat tinggal yang layak.
Program kerja bakti yang difasilitasi BPBD menggalang partisipasi lebih dari puluhan relawan lokal, termasuk warga perantauan yang menyumbangkan dana serta armada pengangkutan. “Alhamdulillah, ada dua bentuk dukungan yang berjalan bersamaan: pertama dari pemerintah melalui kerja bakti, dan kedua dari donasi teman‑teman perantauan,” ujar Ahlul Fikri, salah satu tokoh masyarakat yang memimpin kegiatan tersebut. Ia menambahkan bahwa upah harian yang diberikan kepada para pekerja tidak hanya mempercepat pembersihan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan penting bagi keluarga yang masih berada dalam kondisi krisis.
Seorang ibu rumah tangga, Halimah, menjelaskan manfaat nyata dari program ini. “Kami dapat membersihkan fasilitas umum seperti musala dan sanitasi, sekaligus memperoleh penghasilan untuk kebutuhan sehari‑hari dan biaya sekolah anak‑anak,” katanya. Harapannya, kegiatan serupa akan terus berlanjut sehingga lebih banyak warga dapat terlibat dan merasakan manfaatnya.
Di samping upaya berskala mikro di Pante Geulima, Satgas PRR mempercepat pembangunan hunian tetap (huntap) dan hunian sementara (huntara) di tiga provinsi terdampak: Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Data per 3 April 2026 menunjukkan capaian signifikan, meskipun masih banyak tantangan dalam pendataan dan alokasi sumber daya.
| Provinsi | Hunap Rampung | Hunap Dalam Proses | Hunara Rampung | Target Hunara |
|---|---|---|---|---|
| Aceh | 104 | 395 | 15.259 | 17.281 |
| Sumut | 120 | 404 | 995 | 1.024 |
| Sumbar | 6 | 441 | 830 | 830 |
Secara keseluruhan, dari total rencana 35.368 unit huntap, telah selesai dibangun 230 unit, sementara 1.240 unit masih dalam tahap pembangunan. Untuk hunara, capaian 17.084 unit setara 89% dari target 19.135 unit menunjukkan progres yang menggembirakan, terutama di Sumut yang telah mencapai 97% penyelesaian.
Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa percepatan pembangunan hunian tidak lepas dari kecepatan pendataan. “Kunci utama huntap adalah data; kami minta pemerintah daerah membentuk tim khusus untuk mengidentifikasi rumah‑rumah yang rusak berat atau hilang, serta menentukan model in‑situ atau relokasi ke kompleks komunal,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Bina Graha, Jakarta.
Selain hunian, pemerintah juga menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH) kepada penyintas yang memilih tidak tinggal di hunara. Setiap kepala keluarga menerima Rp600.000 per bulan selama tiga bulan, total Rp1,8 juta. Hingga akhir April, 14.021 keluarga di tiga provinsi telah menerima dana tersebut dengan tingkat penyaluran 100%, mencakup 8.099 penerima di Aceh, 4.162 di Sumut, dan 1.760 di Sumbar.
Sinergi antara gotong‑royong warga, bantuan pemerintah, dan kontribusi donatur perantauan menciptakan ekosistem pemulihan yang inklusif. Pendekatan ini tidak hanya memulihkan infrastruktur fisik, tetapi juga memperkuat jaringan sosial yang menjadi landasan bagi keberlanjutan ekonomi lokal. Upah harian bagi pekerja kerja bakti, misalnya, membantu menstabilkan pendapatan rumah tangga selama masa transisi.
Para penyintas kini dapat melihat perubahan nyata di lingkungan mereka. Lahan yang dulu dipenuhi lumpur telah dibersihkan, jalan akses kembali terbuka, dan fasilitas umum seperti musala serta area sanitasi kembali berfungsi. Dengan dukungan hunian baru, baik huntap maupun huntara, harapan akan kembali menjadi rumah yang aman dan nyaman semakin kuat.
Kesimpulannya, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, masyarakat, dan donatur telah mengubah kondisi kritis pascabencana menjadi momentum kebangkitan. Upaya pembersihan di Pante Geulima menunjukkan bagaimana semangat kebersamaan dapat mempercepat pemulihan, sementara program huntap‑huntara Satgas PRR menjawab kebutuhan tempat tinggal yang layak bagi ribuan penyintas. Dengan data yang terus diperbarui dan dukungan finansial yang konsisten, prospek pemulihan jangka panjang di Aceh, Sumut, dan Sumbar semakin optimis, menandai langkah penting dari lumpur menuju harapan yang nyata.
