IPD – 02 April 2026 | Jakarta International Container Terminal (JICT) menggelar perayaan HUT ke‑27 pada 1 April 2026 dengan menegaskan komitmen kuatnya dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai simpul logistik dunia. Dalam sambutan Direktur Utama JICT, Ade Hartono, terkuak langkah strategis yang tidak hanya meningkatkan kapasitas operasional, melainkan juga mengubah cara terminal menangani limbah menjadi peluang ekspor ke lebih dari lima puluh negara.
Sejak berdiri, JICT telah mencatat throughput lebih dari 2 juta TEU pada tahun 2025 dan akumulasi lebih dari 50 juta TEU secara keseluruhan. Angka-angka tersebut menandakan bahwa terminal peti kemas terbesar di Indonesia ini berperan sebagai gerbang utama arus barang, termasuk produk-produk berbasis limbah yang kini menjadi komoditas berkelanjutan. Melalui program pengelolaan limbah yang terintegrasi, JICT mampu mengumpulkan, memilah, dan menyiapkan bahan baku daur ulang—seperti plastik, kertas, dan logam—yang selanjutnya diekspor ke pasar internasional di lebih dari lima puluh negara.
- Digitalisasi Layanan: Sistem manajemen terminal kini berbasis platform digital yang memantau pergerakan kontainer secara real‑time, sekaligus melacak status limbah yang berada dalam rantai pasok.
- Alat Operasional Ramah Lingkungan: Penggantian Rubber‑Tired Gantry (RTG) konvensional dengan versi listrik mengurangi emisi CO₂ secara signifikan, sekaligus menurunkan kebisingan di area pelabuhan.
- Program Penghijauan: Penanaman pohon di sekitar kawasan terminal meningkatkan kualitas udara dan menjadi bukti komitmen JICT terhadap ekosistem hijau.
Transformasi ini tidak terlepas dari visi jangka panjang untuk menjadikan JICT sebagai contoh “green port” yang dapat direplikasi oleh pelabuhan lain di Asia Tenggara. Salah satu inovasi penting adalah Klinik Satelit yang dibuka di dalam kawasan terminal. Fasilitas ini mendukung program ‘Fit To Work’ bagi seluruh karyawan, memastikan bahwa tenaga kerja tetap sehat dan produktif dalam menjalankan operasi berkelanjutan.
Langkah lain yang menarik adalah peluncuran seragam baru bagi seluruh staf. Desain seragam mencerminkan standar profesionalitas tinggi sekaligus menampilkan simbol-simbol ramah lingkungan, seperti warna hijau yang melambangkan komitmen JICT terhadap keberlanjutan.
Pengelolaan limbah menjadi fokus utama karena Indonesia menghasilkan jutaan ton sampah plastik setiap tahunnya. JICT memanfaatkan infrastruktur pelabuhan untuk mengumpulkan limbah plastik dari kapal‑kapal yang singgah, kemudian memprosesnya menjadi bahan baku bagi industri daur ulang di luar negeri. Hingga kini, lebih dari 150.000 TEU limbah plastik telah diekspor ke negara‑negara seperti Jepang, Korea Selatan, Jerman, dan Amerika Serikat, memperluas jaringan perdagangan hingga 50 negara.
Keberhasilan ekspor limbah ini didukung oleh tiga pilar utama:
- Standarisasi Kualitas: Semua kontainer limbah menjalani proses inspeksi ketat, memastikan kepatuhan pada regulasi internasional.
- Logistik Terintegrasi: Sistem pelacakan digital memungkinkan pelanggan melihat status pengiriman secara transparan, mengurangi risiko keterlambatan.
- Kerjasama Pemerintah‑Swasta: Kementerian Perhubungan, Badan Pengelolaan Sampah Nasional, dan perusahaan daur ulang bekerja sama untuk menciptakan rantai nilai yang menguntungkan semua pihak.
Dengan mengubah limbah menjadi komoditas ekspor, JICT tidak hanya berkontribusi pada pengurangan pencemaran laut, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru bagi negara. Pendapatan dari ekspor limbah diperkirakan mencapai US$200 juta per tahun, yang sebagian dialokasikan kembali ke program‑program lingkungan dan peningkatan infrastruktur terminal.
Secara keseluruhan, strategi JICT mencerminkan paradigma baru dalam dunia pelabuhan: memadukan efisiensi operasional, digitalisasi, dan tanggung jawab lingkungan. Transformasi ini menjadikan JICT bukan sekadar gerbang logistik, melainkan motor penggerak ekonomi hijau yang menghubungkan Indonesia dengan lebih dari lima puluh pasar global.
Ke depan, JICT menargetkan peningkatan throughput tahunan sebesar 10 % dan memperluas jaringan ekspor limbah ke 20 negara tambahan, mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pusat perdagangan berkelanjutan di kawasan Indo‑Pasifik.
