CDIA Melaju Pesat: Saham Naik 12%, Laba 2,2 Triliun, dan EBITDA Tertinggi Sejarah di Kuartal I 2026

IPD – 14 April 2026 | Jakarta, 14 April 2026 – PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) kembali menjadi sorotan utama pasar modal Indonesia setelah mencatatkan kenaikan harga saham yang signifikan pada sesi pertama perdagangan pada Selasa, 14 April 2026. Saham CDIA menguat 12,44% hingga Rp1.265 per lembar, setelah dibuka pada Rp1.155. Pada hari yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melambung 2,14% ke level 7.660,75, menandakan sentimen bullish yang meluas di kalangan investor.

Data transaksi menunjukkan total frekuensi perdagangan mencapai 47.433 kali dengan volume 3.723.934 lembar saham, menghasilkan nilai transaksi harian sebesar Rp462,3 miliar. Selama lima hari terakhir, harga CDIA mengalami kenaikan rata-rata 38,25%, sementara dalam sebulan terakhir lonjakan mencapai 61,15%. Kenaikan ini sejalan dengan performa kuat sektor infrastruktur yang naik 4,86% dan menjadi pendorong utama penguatan indeks.

Keberhasilan CDIA tidak terlepas dari kinerja keuangan yang mengesankan. Pada tahun buku 2025, perseroan mencatat laba bersih sebesar US$127,8 juta atau sekitar Rp2,19 triliun, mencerminkan pertumbuhan year‑on‑year sebesar 281,7%. EBITDA juga melonjak 288% menjadi US$118,8 juta. Pencapaian ini dipicu oleh strategi ekspansi agresif namun terukur, termasuk akuisisi PT Barito Investa Prima (sekarang PT Chandra Investa Prima) yang memperkuat jaringan logistik darat serta penambahan 50 unit truk cold‑chain.

Manajemen CDIA menegaskan komitmen terhadap pemegang saham dengan menetapkan dividen interim sebesar US$10 juta (sekitar Rp171,5 miliar) untuk tahun 2025. Selain itu, perusahaan memperkuat likuiditas melalui kombinasi pendanaan pasar modal, perbankan, dan investor strategis, sehingga liquidity pool mencapai US$803,3 juta pada akhir 2025.

Kuartal I 2026 memperlihatkan lonjakan profit yang lebih besar lagi. CDIA mencatat laba bersih USD 205 juta atau setara Rp3,51 triliun, serta EBITDA sebesar USD 421 juta (Rp7,21 triliun), yang menjadi yang tertinggi dalam sejarah perusahaan. Pendorong utama kinerja tersebut adalah kilang yang kuat, optimalisasi pengadaan bahan baku, serta integrasi aset strategis di Singapura, termasuk kilang milik Shell dan bisnis ritel ExxonMobil. Likuiditas perusahaan juga tetap kuat dengan kas USD 3,8 miliar.

Di tengah tekanan global pada industri petrokimia, CDIA berhasil menjaga stabilitas operasional melalui efisiensi biaya dan investasi pada ekspansi fasilitas butene‑1 dan MTBE di Cilegon. Proyek hilirisasi sebesar USD 1 miliar untuk pembangunan fasilitas soda kaustik dan ethylene dichloride (EDC) dijadwalkan beroperasi pada 2027, menandai langkah strategis dalam diversifikasi produk.

Sektor saham secara keseluruhan menunjukkan tren positif, dengan 513 saham menguat, 131 melemah, dan 173 tidak berubah. Sektor konsumer siklikal menjadi satu‑satunya yang turun (1,1%), sementara sektor energi naik 2,94% dan basic materials 3,01%. Posisi dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 17.117.

Para analis menilai bahwa lonjakan saham CDIA tidak sekadar reaksi pasar terhadap data keuangan, melainkan mencerminkan keyakinan pada roadmap pertumbuhan jangka panjang yang didukung oleh ekspansi infrastruktur, diversifikasi produk petrokimia, dan kebijakan dividen yang konsisten. Jika tren ini berlanjut, CDIA berpotensi menjadi salah satu blue‑chip unggulan yang memimpin pasar modal Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Leave a Comment