IPD – 06 April 2026 | Praktik mencampur bahan bakar dengan zat tambahan demi mengklaim peningkatan nilai oktan semakin marak di kalangan pengguna kendaraan bermotor. Mulai dari menambahkan minyak kayu putih ke dalam Pertalite hingga mencampur bensin RON 90 dengan RON 92, banyak yang beranggapan hal tersebut dapat meningkatkan performa sekaligus menghemat pengeluaran. Namun realita di lapangan menunjukkan sebaliknya: mesin menjadi korban, komponen kritis cepat aus, dan biaya perawatan melonjak tajam.
Menurut Tri Yuswidjajanto Zaenuri, dosen Teknik Mesin ITB, penambahan minyak kayu putih memang dapat menaikkan angka RON Pertalite dari 90 menjadi 92, namun kenaikannya tidak signifikan. Lebih penting, campuran tersebut menimbulkan deposit rapuh di ruang bakar yang mudah terbawa oleh gas buang dan menempel pada catalytic converter. Akibatnya, konverter katalitik dapat tersumbat atau bahkan rusak, memaksa pemilik kendaraan harus mengganti komponen mahal tersebut.
Tri juga menyoroti risiko lain yang jarang dibicarakan: minyak atsiri yang bersifat kesat mengurangi sifat pelumasan bahan bakar. Komponen seperti injektor, pompa bahan bakar, dan katup menjadi lebih cepat aus karena tidak mendapatkan lapisan pelindung yang memadai. Dalam jangka panjang, kerusakan ini dapat menurunkan kompresi mesin hingga mengakibatkan mesin mati mendadak.
Dosen Teknik Mesin UGM, Jayan Sentanuhady, menambahkan bahwa minyak kayu putih berperan sebagai surfaktan yang menurunkan tegangan permukaan dan viskositas bahan bakar, sehingga proses injeksi menjadi lebih halus. Namun, ia menegaskan pentingnya penelitian lanjutan sebelum mengadopsi campuran ini secara luas. “Penelitian ini sah, tapi masyarakat tidak boleh gegabah mengaplikasikannya tanpa rekomendasi pabrikan,” ujarnya.
Di sisi lain, mencampur bahan bakar dengan RON berbeda juga menimbulkan masalah. Victor Assani, 2W Service Head PT Suzuki Indomobil Sales, menjelaskan bahwa mesin kendaraan didesain untuk menerima bahan bakar dengan angka oktan yang stabil. Perpaduan RON tinggi dan rendah dapat menyebabkan kontrol pembakaran tidak optimal, memicu knocking rendah yang berulang, serta pembentukan kerak karbon di ruang bakar. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan usia pakai mesin hingga 20‑50 persen tergantung intensitas pencampuran.
Selain itu, aditif yang berbeda antar merek BBM dapat saling menegasikan, memperparah penumpukan sisa pembakaran. Jika bahan bakar dengan RON tinggi dicampur dengan aditif bermerek lain, risiko penumpukan karbon dan kerusakan sistem injeksi semakin tinggi. Victor menekankan bahwa pilihan bahan bakar sebaiknya disesuaikan dengan rasio kompresi mesin, bukan sekadar mengejar angka oktan yang lebih tinggi.
Faktor lain yang memperburuk konsumsi bahan bakar adalah tekanan ban yang tidak tepat. Penurunan tekanan ban sebesar 5 psi dapat menurunkan efisiensi bahan bakar sekitar 1,5 persen, setara dengan pemborosan 1,5 liter bensin per 100 liter penggunaan bulanan. Kombinasi antara mesin yang terpapar deposit, kerusakan katalis, dan rolling resistance akibat ban kempes dapat membuat pengeluaran bahan bakar meningkat secara signifikan, menguras dompet pemilik kendaraan.
Berikut beberapa langkah praktis yang dapat membantu menghindari kerugian tersebut:
- Gunakan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan, hindari mencampur minyak kayu putih atau bahan tambahan lain tanpa bukti ilmiah yang kuat.
- Periksa tekanan ban secara rutin, minimal satu kali seminggu, dan pastikan sesuai standar kendaraan.
- Lakukan servis rutin pada sistem injeksi dan catalytic converter untuk mengidentifikasi deposit dini.
- Jika ingin meningkatkan nilai oktan, pilih bahan bakar premium resmi dengan RON yang memang disesuaikan dengan mesin Anda.
Kesimpulannya, upaya “hemat” dengan mencampur bensin oktan tinggi dan rendah atau menambahkan zat‑zat non‑standar tidak hanya merugikan performa mesin, tetapi juga menambah beban biaya perawatan. Memilih bahan bakar yang tepat, menjaga tekanan ban, dan mengikuti anjuran pabrikan merupakan strategi paling efektif untuk menjaga kesehatan mesin dan mengoptimalkan pengeluaran bahan bakar.
