IPD – 21 April 2026 | Benjamin Netanyahu kembali menjadi sorotan internasional setelah mengeluarkan pernyataan tajam di Kementerian Pertahanan Israel pada 27 Juli 2020, menuding rezim Ayatollah Iran merencanakan “Holocaust” kedua bagi orang‑Yahudi. Ia menyebut program nuklir dan ribuan rudal balistik Tehran sebagai ancaman eksistensial yang dapat mengubah wilayah Natanz, Fordo, dan Isfahan menjadi Auschwitz modern. Pernyataan itu dijadikan pembenaran utama bagi serangan militer Israel‑Amerika Serikat ke Tehran pada 28 Februari 2026, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran serta menimbulkan ratusan ribu korban jiwa di kawasan.
Serangan tersebut memicu krisis energi global. Iran membalas dengan menyerang pelabuhan Teluk dan memblokade Selat Hormuz, mengakibatkan lonjakan harga minyak dan gas. Menurut laporan Al Jazeera, lebih dari 3.300 orang tewas dan 26.000 luka di Iran, sementara di Lebanon tercatat 2.200 kematian. Dampak sosial‑ekonomi meluas hingga Indonesia, dengan kenaikan harga komoditas energi yang terasa pada konsumen domestik.
Pada saat yang sama, seorang mahasiswi Amerika Serikat bernama Gabriela Saldana terjerat kasus hukum setelah mengirim lelucon berbau ancaman di grup WhatsApp kampusnya. Saldana menuliskan permintaan agar “bom” dijatuhkan di Ocean Bank Convocation Center, sekaligus menyebut nama Netanyahu dalam konteks tersebut. Meskipun kemudian ia mengklaim bahwa pesan itu hanya “candaan bodoh”, pihak kepolisian Amerika menilai isi pesan memenuhi unsur ancaman kekerasan. Saldana ditahan, dijatuhi jaminan US$5.000, dan dihadapkan pada tuduhan ancaman tertulis yang dapat membawa hukuman penjara.
Sementara itu, hubungan politik antara Netanyahu dan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin tegang. Kedua pemimpin tersebut, yang pernah bersinergi dalam upaya menekan Iran, kini menghadapi penurunan popularitas domestik. Survei publik menunjukkan persetujuan Trump turun di bawah 30 persen, sementara Netanyahu mengalami erosi dukungan di dalam koalisinya. Kritik datang dari dalam partai kanan Israel, yang menilai Netanyahu terlalu bergantung pada tekanan Trump untuk melanjutkan konflik yang belum membuahkan hasil konkret.
Netanyahu juga menegaskan komitmen Israel dalam menindak pelaku serangan 7 Oktober 2023, yang menewaskan ratusan warga sipil. Dalam upacara peringatan, ia menyatakan bahwa pemerintah akan melakukan “upaya tak henti‑hentinya” untuk menuntut pertanggungjawaban semua pihak yang terlibat. Pernyataan tersebut menegaskan konsistensi kebijakan keamanan nasional Israel di tengah tekanan internasional dan konflik yang berkepanjangan.
Secara keseluruhan, rangkaian peristiwa ini menyoroti dinamika politik yang kompleks di sekitar sosok Benjamin Netanyahu. Dari tuduhan Holocaust kedua, kontroversi lelucon digital yang menjerat mahasiswa, hingga keretakan aliansi dengan Donald Trump, semuanya mencerminkan tantangan strategis yang dihadapi Israel di panggung global. Situasi ini menuntut kebijakan yang lebih terukur, mengingat konsekuensi kemanusiaan dan ekonomi yang meluas.
