IPD – 04 April 2026 | Bank of England (BoE) melalui Financial Policy Committee (FPC) mengeluarkan pernyataan peringatan pada Rabu lalu mengenai tekanan baru yang muncul pada sistem keuangan global. Menurut laporan Reuters, komite menyoroti bahwa perang di Timur Tengah menimbulkan “guncangan pasokan negatif yang substansial” bagi ekonomi dunia, menambah kerentanan yang sudah mulai meningkat pada pasar utang, kredit swasta, dan valuasi aset berisiko.
Secara keseluruhan, FPC menegaskan bahwa meski sistem keuangan Inggris masih menunjukkan ketahanan, kombinasi beberapa risiko secara simultan dapat memicu ketidakstabilan yang signifikan. Risiko tersebut meliputi penurunan nilai obligasi pemerintah, lonjakan valuasi saham teknologi Amerika Serikat, serta potensi gangguan pada kredit berisiko tinggi. Semua faktor ini, bila terjadi bersamaan, dapat menular ke pasar domestik dan menguji daya tahan bank serta lembaga keuangan lainnya.
Berikut beberapa poin penting yang diangkat dalam pernyataan FPC:
- Sistem keuangan Inggris tetap tangguh, tetapi kerentanan meningkat bila beberapa faktor risiko terwujud secara bersamaan.
- Konflik di Timur Tengah menciptakan guncangan pasokan negatif yang substansial, menambah ketidakpastian bagi pertumbuhan ekonomi global.
- Pasar obligasi negara, valuasi aset berisiko, dan kredit swasta tetap menjadi area yang rawan.
- Strategi repo pada obligasi pemerintah Inggris (Gilt) terpengaruh oleh aliran dana yang serupa di berbagai yurisdiksi.
- Guncangan di pasar obligasi luar negeri atau penurunan tajam valuasi ekuitas dapat menular ke Inggris.
- Sektor pensiun LDI menunjukkan ketahanan setelah reformasi pasca-2022.
- Penilaian oleh Default Market Financial Solutions (MFS) menyoroti kelemahan di pasar kredit berisiko.
- Valuasi perusahaan teknologi AS masih sangat tinggi, dan konflik Iran menambah risiko karena ketergantungan pada pusat data AI serta rantai pasokan yang intensif energi.
Bank sentral menegaskan bahwa lembaga perbankan Inggris memiliki kapasitas yang cukup untuk terus mendukung rumah tangga dan bisnis, bahkan jika kondisi ekonomi memburuk secara signifikan. Hal ini didukung oleh buffer modal kontrasi-siklikal yang tetap dipertahankan pada level 2 %.
Pasar keuangan merespons pernyataan tersebut dengan pergerakan moderat. Pound Sterling (GBP) tidak menunjukkan perubahan dramatis; pasangan GBP/USD naik sekitar 0,53 % dan diperdagangkan di level sekitar 1,3300 pada saat laporan dirilis. Data mata uang utama lainnya menunjukkan fluktuasi kecil, dengan GBP menguat terhadap dolar AS dan euro, namun melemah terhadap yen Jepang.
Selain dampak geopolitik, FPC menyoroti dinamika internal pasar keuangan. Valuasi saham teknologi AS, yang telah mencapai level historis, tetap menjadi sumber potensi stres sistemik. Jika terjadi penurunan tajam di sektor tersebut, efek domino dapat meluas ke pasar obligasi dan kredit, menambah tekanan pada likuiditas dan stabilitas bank. Pada sisi kredit, pasar berisiko tinggi menunjukkan tanda-tanda kelemahan, terutama dalam portofolio yang terpapar eksposur pada perusahaan dengan leverage tinggi.
Bank of England juga mengingatkan tentang eksposur rumah tangga Inggris terhadap suku bunga. Berdasarkan ekspektasi pasar saat ini, sekitar 58 % pemegang hipotek diproyeksikan akan menghadapi kenaikan pembayaran pada kuartal keempat 2028, meskipun kebanyakan kenaikan diperkirakan bersifat moderat.
Secara keseluruhan, pernyataan FPC menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan pemantauan terus-menerus terhadap faktor-faktor eksternal dan internal yang dapat menggoyang stabilitas keuangan. Meskipun sistem keuangan Inggris masih kuat, kombinasi guncangan pasokan global, tekanan valuasi aset, dan kerentanan kredit memerlukan perhatian khusus dari regulator, pelaku pasar, dan pembuat kebijakan.
Dengan latar belakang geopolitik yang terus berubah, terutama konflik yang berkelanjutan di Timur Tengah, risiko makroekonomi tetap tinggi. BoE mengajak semua pemangku kepentingan untuk menilai kembali eksposur mereka, memperkuat mitigasi risiko, dan memastikan bahwa likuiditas serta kapasitas penyanggahan tetap memadai untuk menghadapi kemungkinan skenario terburuk.
Kesimpulannya, meskipun sistem keuangan Inggris menunjukkan ketahanan yang baik, tekanan eksternal dari konflik Timur Tengah serta penilaian berlebih pada aset berisiko dapat meningkatkan kerentanan secara signifikan. Pengawasan yang ketat, kebijakan moneter yang responsif, dan kesiapsiagaan sektor perbankan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas dalam menghadapi ketidakpastian yang terus berkembang.
