IPD – 09 April 2026 | Musim kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena El Nino, khususnya varian yang kini disebut “El Nino Godzilla“, diprediksi akan mencapai puncaknya pada pertengahan tahun 2026. Kondisi cuaca yang sangat panas dan curah hujan menurun secara signifikan mengancam tidak hanya ketahanan pangan, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan yang luas, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pekerja lapangan.
Anggota Komisi IX DPR, Edy Wuryanto, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah sejak dini. Dalam rapat dengar pendapat bersama Dewan Pengawas dan Direksi BPJS Ketenagakerjaan, ia mengingatkan bahwa El Nino tidak hanya menyulitkan sektor pertanian, melainkan juga meningkatkan insiden Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dehidrasi, serta gangguan pernapasan akibat kualitas udara yang menurun. Ia menekankan perlunya penguatan layanan kesehatan primer, termasuk penyediaan tenaga medis, obat-obatan, dan alat pelindung diri di puskesmas di seluruh wilayah.
Menanggapi peringatan tersebut, Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah diminta meningkatkan program edukasi masyarakat tentang pola hidup sehat selama musim kemarau. Edukasi meliputi pentingnya hidrasi yang cukup, penggunaan masker ketika kualitas udara buruk, serta pembatasan aktivitas fisik berat di luar ruangan pada jam-jam terpanas. Koordinasi lintas sektor juga menjadi sorotan; integrasi data prakiraan cuaca, laporan produksi pangan, dan stok strategis Bulog diharapkan dapat mempercepat respons darurat.
Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa kemarau ekstrem dapat menurunkan produksi beras dan komoditas pangan lainnya. Upaya pompanisasi yang telah berjalan sejak 2024 dipercepat untuk memastikan aliran air irigasi ke persawahan. Deteksi dini dan mitigasi risiko cuaca melalui platform data cuaca terintegrasi menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan pangan dan mencegah kelaparan yang dapat memperparah kondisi kesehatan masyarakat.
Berbagai langkah preventif telah direncanakan, antara lain:
- Peningkatan kapasitas laboratorium diagnostik untuk ISPA dan penyakit terkait panas.
- Penyediaan kantong cairan oralit di posyandu dan puskesmas.
- Distribusi masker N95 kepada tenaga kesehatan di daerah rawan kebakaran hutan.
- Pelatihan tenaga kesehatan tentang penanganan dehidrasi pada anak dan lansia.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas selama periode El Nino. Pemerintah daerah juga diminta menyiapkan tempat penampungan darurat dengan fasilitas medis dasar, terutama di wilayah yang rawan kekeringan seperti Banten, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara.
Dengan ancaman El Nino yang semakin intens, sinergi antara kebijakan kesehatan, ketahanan pangan, dan manajemen bencana menjadi krusial. Upaya mitigasi yang dimulai sejak kini diharapkan dapat meminimalkan dampak kesehatan, menjaga stabilitas pasokan pangan, serta melindungi lapisan masyarakat paling rentan. Kesiapsiagaan yang terintegrasi menjadi kunci untuk mengurangi beban penyakit yang dipicu oleh perubahan iklim ekstrem.
