IPD – 04 April 2026 | Pasangan mata uang dolar AS‑yen Jepang (USD/JPY) kembali menembus level 159,70 pada sesi perdagangan Kamis, mendekati batas psikologis 160,00 yang selama ini menjadi patokan intervensi Bank of Japan (BoJ). Kenaikan hampir 0,6 % ini terjadi di tengah pasar yang bergerak ke arah risk‑off setelah pernyataan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai konflik di Teluk Persia.
Rally USD/JPY dimulai pada Rabu, ketika dolar menguat secara menyeluruh setelah Trump menolak harapan akan berakhirnya perang dengan Iran secara cepat. Dalam sebuah wawancara televisi, Trump menegaskan kembali tekadnya untuk “mengembalikan Iran ke zaman batu” dan menyerukan sekutu‑sekutu NATO untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pernyataan tersebut memicu respons keras dari Teheran, yang mengancam “serangan menghancurkan” terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Konflik antara Iran dan Israel kini memasuki hari ke‑34, dengan kedua belah pihak saling meluncurkan rudal dan drone. Ketegangan yang terus meningkat menambah kecemasan investor global, sehingga aset‑aset yang dianggap aman seperti yen Jepang menjadi kurang diminati. Sebaliknya, dolar AS memperoleh keuntungan sebagai mata uang safe‑haven alternatif di tengah ketidakpastian geopolitik.
Pergerakan USD/JPY yang kembali naik setelah menembus level terendah 158,27 pada Rabu menunjukkan bahwa spekulan telah memanfaatkan penurunan yen untuk menambah posisi panjang dolar. Pada saat penulisan, pasangan mata uang tersebut berada pada level 159,70, selisih tipis dari zona 160,00 yang selama ini menjadi ambang batas bagi otoritas moneter Jepang untuk mempertimbangkan intervensi pasar.
Intervensi BoJ biasanya dilakukan pada hari-hari dengan volume perdagangan yang relatif rendah, guna memaksimalkan dampak kebijakan. Jumat Agung mendatang diprediksi menjadi hari yang potensial, mengingat sebagian besar pasar Eropa tutup dan data Nonfarm Payrolls AS dijadwalkan dirilis, yang dapat memperbesar volatilitas. Jika USD/JPY menembus zona 160,00, BoJ diperkirakan akan mengeluarkan pernyataan tegas atau bahkan melakukan aksi langsung untuk menstabilkan yen.
Beberapa pejabat Jepang telah mengeluarkan peringatan publik. Pada Senin, Wakil Menteri Keuangan Jepang untuk Urusan Internasional, Atsushi Mimura, menegaskan kesiapan pemerintah untuk mengambil langkah “tegas” jika pergerakan spekulatif berlanjut. Selasa berikutnya, Menteri Keuangan Satsuki Katayama menambahkan bahwa ia memantau “pergerakan spekulatif yang meningkat di pasar mata uang” dan menegaskan kesiapan respons di semua lini.
Faktor utama yang memengaruhi nilai yen meliputi kebijakan moneter BoJ, perbedaan imbal hasil obligasi antara Jepang dan Amerika Serikat, serta sentimen risiko global. Kebijakan moneter BoJ yang selama lebih dari satu dekade bersifat ultra‑longgar menurunkan nilai yen relatif terhadap dolar. Meskipun pada awal 2024 BoJ mulai mengurangi kebijakan tersebut secara bertahap, selisih suku bunga antara dua negara masih cukup lebar untuk mendukung dolar.
- USD/JPY naik ke 159,70, mendekati zona 160,00.
- Dolar menguat setelah pernyataan agresif Donald Trump tentang Iran.
- Iran dan Israel terus berseteru, menambah tekanan pada pasar risiko.
- Pejabat Jepang memperingatkan kemungkinan intervensi BoJ.
- Volatilitas diperkirakan meningkat menjelang rilis data Nonfarm Payrolls AS.
Para analis pasar menilai bahwa jika yen melewati batas 160,00, BoJ kemungkinan akan melakukan intervensi baik melalui pernyataan resmi maupun aksi jual beli di pasar spot. Namun, intervensi semacam itu tidak selalu berhasil menahan pergerakan jangka panjang, terutama bila faktor geopolitik tetap menggerakkan sentimen risiko secara kuat.
Secara keseluruhan, kombinasi antara ketegangan geopolitik yang memuncak, kebijakan moneter yang masih longgar, serta ekspektasi data ekonomi AS menciptakan lingkungan yang kondusif bagi dolar untuk terus menguat terhadap yen. Investor disarankan untuk memantau perkembangan pernyataan resmi dari BoJ serta indikator‑indikator ekonomi utama, termasuk data tenaga kerja AS, yang dapat menjadi pemicu volatilitas tambahan.
Dengan USD/JPY berada di ambang level kritis, pasar akan menunggu langkah selanjutnya dari otoritas Jepang. Apabila BoJ memilih untuk tidak campur tangan, pasangan mata uang ini berpotensi melanjutkan rally ke arah 162‑165, yang dapat memperkuat tren bullish dolar dalam jangka menengah.
