IPD – 09 April 2026 | Paris Saint-Germain (PSG) melaju ke semifinal Liga Champions setelah mengalahkan Liverpool 2-0 pada laga pekan ini, namun sorotan utama beralih pada kontroversi yang masih menggema dari final Piala Afrika (AFCON) antara Maroko dan Senegal. Di tengah sorotan, dua tokoh penting muncul: Brahim Díaz, pemain Real Madrid yang bermain bagi Maroko, dan Achraf Hakimi, bek sayap PSG sekaligus kapten tim nasional Maroko.
Pertandingan final AFCON yang digelar di Rabat pada 18 Januari lalu berakhir dramatis. Setelah perpanjangan waktu, Senegal unggul berkat gol Pape Gueye, namun keputusan penalti kontroversial diberikan kepada Maroko. Penalti tersebut diambil oleh Brahim Díaz, yang mencoba teknik “panenka” namun gagal ketika kiper Senegal, Édouard Mendy, menebas bola dengan mudah. Gagalnya eksekusi ini menambah ketegangan di antara kedua tim.
Insiden selanjutnya melibatkan para pemain dan petugas kebersihan Maroko yang berbondong-bondong mengambil handuk kiper Senegal. Mereka beralasan bahwa handuk tersebut dianggap “bawa sial” atau “magia negra”. Aksi tersebut terekam oleh kamera dan menyebar luas di media sosial, menimbulkan kecaman internasional. Gambar-gambar pemain Maroko merampas handuk menimbulkan pertanyaan etika dan sportivitas dalam kompetisi internasional.
Setelah pertandingan, Achraf Hakimi diminta menjawab pertanyaan wartawan di zona media PSG. Hakimi, yang berbahasa Spanyol dan Arab, mengakui bahwa tindakan timnya tidak mencerminkan kebanggaan. “Saya tidak merasa bangga dengan citra yang kami tunjukkan dengan handuk,” ujarnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kinerja tim di lapangan tetap baik dan mereka menghormati lawan serta kompetisi.
Hakimi juga menyoroti proses hukum yang masih berlangsung. Keputusan CAF (Confederation of African Football) pada 17 Maret 2026 mencabut gelar juara Senegal dan menyatakan Maroko sebagai juara. Keputusan tersebut memicu banding ke Tribunal Arbitrase Olahraga (TAS), yang kini meneliti seluruh insiden, termasuk penarikan handuk dan keputusan penalti. Hakimi menekankan pentingnya penyelesaian yang adil demi kemajuan sepak bola Afrika: “Kami berharap dapat memenangkan ini karena kami pantas, dan tidak seharusnya ada situasi seperti ini di lapangan.”
Di sisi lain, Brahim Díaz, yang memang memiliki latar belakang Spanyol namun memperkuat Maroko melalui naturalisasi, menjadi sorotan karena kegagalannya mengeksekusi penalti. Meskipun ia berperan penting dalam lini serang Real Madrid, momen penendangannya di final AFCON menambah beban psikologis. Kritik media menilai bahwa kegagalan tersebut mencerminkan tekanan tinggi dalam pertandingan berstatus final.
Kontroversi ini tidak hanya memengaruhi citra Maroko, tetapi juga menimbulkan diskusi luas tentang regulasi dan etika dalam turnamen internasional. Beberapa analis sepak bola menilai bahwa pengambilan handuk oleh pemain melanggar kode perilaku FIFA, yang melarang tindakan yang dapat merendahkan lawan atau memanipulasi objek permainan. Jika terbukti, Maroko dapat dikenai sanksi tambahan selain pencabutan gelar.
Sementara itu, PSG terus berfokus pada kompetisi klub. Kemenangan atas Liverpool memberi mereka keunggulan dua gol menjelang laga balik di Anfield. Achraf Hakimi, yang berperan sebagai bek kanan sekaligus kapten kedua, mencatat performa defensif solid serta kontribusi dalam serangan sayap. Penampilannya di Champions League menambah nilai jualnya di pasar transfer, mengingat permintaan tinggi untuk pemain berbakat dengan pengalaman internasional.
Kasus ini juga menyoroti peran media dalam menyiarkan insiden di lapangan. Rekaman video yang viral memaksa otoritas sepak bola untuk mengambil tindakan cepat. Sementara itu, para penggemar menuntut transparansi dalam proses banding ke TAS, mengingat keputusan CAF yang dianggap sepihak oleh sebagian kalangan.
Secara keseluruhan, skandal final AFCON menimbulkan pertanyaan tentang integritas kompetisi dan tanggung jawab pemain di atas serta di luar lapangan. Brahim Díaz dan Achraf Hakimi menjadi contoh kontras: satu gagal dalam momen krusial, sementara yang lain mengakui kesalahan tim namun tetap berjuang untuk reputasi nasional. Penyelesaian hukum yang adil dan penegakan regulasi yang ketat menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan publik pada sepak bola Afrika.
Ke depan, hasil keputusan TAS akan menjadi penentu akhir apakah gelar AFCON 2025 akan tetap berada di tangan Maroko atau dikembalikan ke Senegal. Sementara itu, PSG menatap semifinal Liga Champions dengan keyakinan, dan Hakimi bertekad untuk menampilkan performa terbaiknya demi klub dan negara.
