IPD – 14 April 2026 | Sabtu, 11 April 2026, San Siro menjadi saksi salah satu kebobolan paling menggurui dalam sejarah AC Milan modern. Tim asuhan Massimiliano Allegri hanya mampu menelan tiga gol tanpa balas melawan Udinese, yang menampilkan kecepatan satu setengah kali lebih tinggi dari Rossoneri. Kekalahan 0-3 ini tidak hanya menurunkan posisi Milan di papan Serie A, tetapi juga memicu spekulasi besar mengenai kemungkinan revolusi di kubu klub, mulai dari taktik hingga pergantian pemain kunci.
Berbeda dengan formasi andalan musim ini, 3-5-2, Allegri memaksa timnya bermain dengan 4-3-3 pada laga melawan Udinese. Menurut legenda teknik Italia Fabio Capello, perubahan formasi bukanlah akar permasalahan. “Bukan formasi yang penting, tetapi kecepatan,” ujar Capello, menambahkan bahwa Udinese bermain satu setengah kali lebih cepat, menguasai setiap duel, dan menekan Milan secara konsisten selama 90 menit.
Masalah tak hanya terletak pada taktik, melainkan juga pada mentalitas pemain. Capello menilai bahwa Rossoneri tampak kehilangan semangat juang, seolah hanya berkompetisi di level domestik tanpa ambisi menggapai Liga Champions. Ia menyoroti kegagalan mental tim ketika harus bangkit di babak kedua setelah tertinggal 2-0. “Mereka tampak kehabisan napas dan kepercayaan diri,” tegas Capello.
Salah satu sorotan utama pasca pertandingan adalah performa Rafael Leão. Penonton San Siro bahkan melontarkan siulan yang ditujukan pada pemain sayap Portugal tersebut. Capello mengkritik Leão secara tajam, menyebutnya tidak lagi memiliki kecepatan seperti dulu dan gagal menembus pertahanan lawan di kedua babak. “Sebagai pemain sayap, dia tidak pernah berhasil melewati lawan dan bermain lambat,” tambah Capello, menambah tekanan pada Leão yang kini berada di bawah sorotan media dan suporter.
Selain Leão, pertahanan Milan juga terlihat rapuh. Gol pertama Udinese terjadi karena antisipasi kurang tepat dari bek muda Davide Bartesaghi, yang gagal menutup tembakan Arthur Atta. Kedua gol selanjutnya memperlihatkan kesulitan Milan dalam mengatasi serangan balik cepat Udinese, sementara kiper Mike Maignan tampak kebingungan menghadapi bola melengkung yang sulit diantisipasi.
Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa perubahan taktik tidak diimbangi dengan penyesuaian fisik. Milan kehilangan satu bek dalam formasi 4-3-3, membuat lini belakang menjadi lebih longgar. Kritik juga datang dari mantan pemain Milan, Adrien Rabiot, yang meminta dukungan penonton namun menegaskan bahwa pemain harus berkontribusi lebih aktif. Situasi ini menambah tekanan pada Allegri untuk segera menemukan solusi, baik dengan menyesuaikan taktik maupun memperkuat skuad melalui pasar transfer.
Kekalahan telak ini berdampak pada klasemen Serie A. Dua laga sebelumnya Milan memimpin dengan selisih sembilan poin, namun setelah 0-3 melawan Udinese jarak tersebut menyusut menjadi lima poin, menempatkan mereka dalam persaingan ketat untuk empat besar yang menjamin tiket Liga Champions. Jika tren ini berlanjut, posisi AC Milan dalam kompetisi domestik dan Eropa dapat terancam.
Kesimpulannya, empat fakta utama yang menonjol dari kekalahan memalukan ini meliputi: (1) kecepatan Udinese yang satu setengah kali lebih tinggi; (2) kegagalan mentalitas tim dalam mengatasi tekanan; (3) kritik tajam terhadap Rafael Leão yang dianggap kehilangan kecepatan; dan (4) kelemahan taktis serta struktural dalam formasi 4-3-3 yang belum mampu menutupi kekurangan defensif. AC Milan harus segera melakukan penyesuaian mendalam, baik pada level taktik maupun psikologis, bila ingin kembali bersaing di puncak Serie A dan meraih tiket Liga Champions musim depan.
