IPD – 16 April 2026 | Durian, buah yang sering disebut “raja buah”, kini menjadi bintang baru dalam strategi ekspor Indonesia. Sebuah rangkaian langkah strategis yang dimulai sejak 2018 berhasil membuka peluang pasar raksasa China senilai sekitar Rp137 triliun. Pemerintah, petani, dan pemain industri logistik bersama-sama mengungkap rahasia di balik lonjakan penjualan yang mengubah durian dari komoditas lokal menjadi aset ekonomi nasional.
Faktor utama keberhasilan terletak pada diversifikasi kualitas dan varietas yang ditawarkan. Selama beberapa tahun terakhir, petani di wilayah Lampung, Riau, dan Jambi beralih menanam varietas Musang King, Monthong, dan D24—varietas yang paling diminati konsumen China. Program seleksi benih unggul yang didanai Kementerian Pertanian memastikan produktivitas meningkat hingga 30 persen per hektar, sekaligus menurunkan tingkat kerusakan pasca panen.
Selain kualitas buah, inovasi dalam rantai pasokan menjadi kunci. Pada 2022, pemerintah meluncurkan “Durian Express”, jaringan pendingin terintegrasi yang menghubungkan kebun dengan pelabuhan di Tanjung Perak, Surabaya, dan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Sistem ini meminimalkan waktu tempuh dari kebun ke kapal, menjaga kesegaran durian hingga 48 jam setelah dipanen. Dengan dukungan investasi sebesar Rp2,5 triliun dari BUMN dan swasta, kapasitas ekspor naik dari 10 ribu ton pada 2020 menjadi 45 ribu ton pada akhir 2023.
Berikut ini data ekspor durian Indonesia ke China dalam tiga tahun terakhir:
| Tahun | Ekspor Durian (ton) | Nilai (Rp) |
|---|---|---|
| 2021 | 10.000 | 2,8 triliun |
| 2022 | 27.500 | 7,5 triliun |
| 2023 | 45.000 | 12,2 triliun |
Data di atas menunjukkan pertumbuhan eksponensial, terutama pada tahun 2022 ketika platform e‑commerce lintas batas di China meluncurkan kampanye promosi durian “Taste of Indonesia”. Kampanye tersebut menggabungkan influencer kuliner dengan paket bundling yang menampilkan durian beku, selai, dan produk olahan lainnya. Penjualan online meningkat 220 persen, memperkuat posisi durian sebagai barang premium.
Peran pemerintah tidak hanya terbatas pada infrastruktur. Kebijakan fiskal yang ramah ekspor, termasuk pengurangan tarif bea masuk sebesar 15 persen untuk produk agrikultur, serta skema insentif pajak bagi petani yang mengadopsi teknologi pertanian presisi, memberikan dorongan signifikan. Selain itu, lembaga keuangan negara menawarkan kredit lunak dengan bunga 3,5 persen untuk investasi mesin pendingin dan fasilitas pengemasan vakum.
Namun, tantangan tetap ada. Fluktuasi cuaca ekstrem, seperti El Niño, mengancam produksi pada musim kemarau. Untuk mengatasi hal ini, beberapa perkebunan mengimplementasikan sistem irigasi tetes berbasis sensor yang mengoptimalkan penggunaan air hingga 40 persen lebih efisien. Di sisi pasar, konsumen China kini menuntut standar kebersihan yang lebih tinggi, memaksa eksportir memperketat prosedur sanitasi dan sertifikasi HACCP.
Ke depan, para pemangku kepentingan menargetkan nilai pasar hingga Rp200 triliun pada 2026. Rencana ekspansi meliputi diversifikasi produk, seperti durian kering, krim, dan minuman berbahan dasar durian, serta penetrasi pasar di kota‑kota Tier‑2 China seperti Chengdu dan Wuhan. Pemerintah juga sedang menyiapkan perjanjian perdagangan bilateral yang dapat menurunkan tarif lebih lanjut dan mempermudah proses bea cukai.
Kesimpulannya, keberhasilan durian Indonesia menembus pasar China bukan sekadar kebetulan. Kombinasi varietas unggul, infrastruktur logistik canggih, dukungan kebijakan, dan strategi pemasaran digital telah menciptakan ekosistem yang mampu menghasilkan nilai ekonomi mencapai Rp137 triliun. Dengan inovasi berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor, durian berpotensi menjadi tulang punggung ekspor agrikultur Indonesia dalam dekade mendatang.
