IPD – 28 Maret 2026 | Presiden Rusia, Vladimir Putin, dilaporkan mengumumkan serangan balasan masif terhadap Ukraina dengan meluncurkan sekitar seribu unit drone bersenjata yang dirancang untuk menimbulkan kerusakan tinggi. Operasi ini, yang disebut “Operasi Hujan Baja”, dilaksanakan dalam beberapa gelombang pada pekan ini, menandai eskalasi paling intens sejak invasi awal pada tahun 2022.
Menurut laporan lapangan, sebagian besar drone yang dikirimkan merupakan varian terbaru dengan kemampuan penetrasi pertahanan udara Ukraina serta muatan peledak yang dapat menimbulkan efek area yang luas. Drone tersebut dikendalikan secara terpusat melalui pusat komando di Moskow, namun sebagian besar mengandalkan sistem navigasi otonom untuk menargetkan lokasi strategis, termasuk pangkalan militer, infrastruktur energi, serta situs-situs bersejarah.
Serangan pertama menargetkan jaringan listrik di wilayah Donetsk dan Luhansk, memicu pemadaman listrik pada jutaan penduduk sipil. Tidak lama kemudian, gelombang kedua menabrak jalur pasokan logistik di wilayah Kharkiv, menimbulkan kebuntuan dalam pengiriman bantuan kemanusiaan. Pada gelombang ketiga, drone diarahkan ke kota-kota besar di Ukraina barat, termasuk Lviv, di mana sejumlah bangunan publik mengalami kerusakan signifikan.
Namun, yang paling mengundang kecaman internasional adalah ketika sejumlah drone meluncur ke kawasan Cekungan Karpat, tepatnya ke situs warisan budaya UNESCO yang terdaftar sebagai “Kota Tua Lviv”. Situs bersejarah yang menampilkan arsitektur abad pertengahan ini mengalami kerusakan pada beberapa monumen batu berukir, serta bangunan gereja bersejarah yang menjadi simbol identitas budaya Ukraina. Tim konservasi UNESCO yang berada di lokasi melaporkan bahwa kerusakan struktural dapat memakan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan, mengingat kompleksitas restorasi pada bangunan berusia berabad-abad.
Reaksi komunitas internasional pun segera mengalir. PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas serangan yang menargetkan situs budaya, menekankan bahwa perlindungan warisan budaya merupakan kewajiban di bawah Konvensi UNESCO 1972. Sekretaris Jenderal PBB menyebut insiden ini sebagai “serangan terhadap identitas kolektif umat manusia”.
Sementara itu, situasi di Timur Tengah turut menambah ketegangan geopolitik. Iran baru-baru ini meluncurkan gelombang rudal ke-82 ke Teluk Persia, menargetkan aset-aset milik Amerika Serikat dan Israel. Serangan tersebut menandai eskalasi terbaru dalam konflik regional yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Israel, dalam sebuah pernyataan resmi, mengklaim berhasil menewaskan komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, dalam operasi balasan. Iran belum memberikan konfirmasi resmi mengenai kematian Tangsiri, namun menegaskan kesiapan melanjutkan operasi militer bila diperlukan.
Ketegangan yang meluas ini menempatkan Ukraina dalam posisi yang sangat rentan. Pihak Kyiv berusaha keras mempertahankan kontrol atas wilayahnya sambil meminta bantuan militer tambahan dari sekutu Barat. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dalam konferensi pers terbaru, menegaskan bahwa serangan drone massal tidak akan mengubah tekad Ukraina untuk mempertahankan kedaulatan negara. Ia menambahkan bahwa komunitas internasional harus meningkatkan dukungan logistik dan pertahanan udara guna menetralkan ancaman baru ini.
Para analis militer menilai bahwa penggunaan drone dalam skala besar oleh Rusia mencerminkan perubahan taktik modern, di mana sistem tak berawak dapat menurunkan risiko personel serta memperluas jangkauan serangan. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa serangan terhadap situs warisan budaya dapat memicu respons lebih keras dari negara-negara Barat, termasuk kemungkinan pemberlakuan sanksi tambahan terhadap Moskow.
Di dalam negeri Rusia, narasi resmi pemerintah menekankan bahwa serangan drone tersebut merupakan bentuk pembalasan atas dukungan Barat terhadap Ukraina serta serangan siber yang dilaporkan menargetkan infrastruktur kritis Rusia. Pemerintah menuduh NATO dan sekutu-sekutunya menggunakan Ukraina sebagai “papan catur” dalam konflik yang lebih luas, termasuk konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel.
Dalam konteks global, insiden ini menyoroti betapa konflik regional dapat saling mempengaruhi, memperburuk ketidakstabilan di beberapa zona sekaligus menimbulkan dampak lintas sektoral, termasuk budaya, ekonomi, dan keamanan. Upaya diplomatik untuk menurunkan ketegangan masih berjalan, namun tekanan dari masing-masing pihak tampaknya belum cukup untuk menghentikan aksi militer yang terus meningkat.
Secara keseluruhan, serangan drone berskala besar yang dipimpin Putin tidak hanya meningkatkan beban kemanusiaan di Ukraina, tetapi juga menimbulkan kerusakan tak ternilai pada warisan budaya dunia. Dampak jangka panjangnya akan bergantung pada respons internasional, baik dalam bentuk bantuan kemanusiaan, dukungan militer, maupun tekanan diplomatik terhadap Moskow.
